
Dimediasi di Islamabad, kesepakatan ini mencakup 10 poin krusial—mulai dari pembukaan kembali Selat Hormuz hingga komitmen pencabutan sanksi ekonomi.
WWW.JERNIH.CO – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik balik yang signifikan. Pada tanggal 8 April 2026, kedua negara secara resmi menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan setelah eskalasi militer yang nyaris menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam perang skala penuh.
Kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan ini menandai dimulainya babak baru diplomasi di bawah bayang-bayang ancaman “Operasi Epic Fury” yang sebelumnya diluncurkan oleh pemerintahan Donald Trump.
“Tunduk pada persetujuan Iran untuk melakukan pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman,” tulis Trump di media sosial.
Melalui diskusi intensif di Islamabad, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menurunkan senjata dan duduk di meja perundingan guna membahas proposal damai yang lebih permanen.
“Selama dua minggu, dibuka jalur aman melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di X.
BACA JUGA: Hizbullah dan Houthi Gabung Iran Gempur Israel, Beirut dan Haifa Membara
Inti dari gencatan senjata ini didasarkan pada proposal 10 poin yang diajukan oleh Teheran dan telah disetujui “secara prinsip” oleh Washington sebagai kerangka negosiasi. Berikut adalah 10 poin utama dalam kesepakatan tersebut:
Pembukaan Selat Hormuz: Iran setuju untuk segera membuka kembali lalu lintas pelayaran secara penuh, aman, dan tanpa hambatan bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Penangguhan Serangan Udara: Amerika Serikat setuju untuk menangguhkan seluruh operasi pengeboman dan serangan militer terhadap infrastruktur Iran, termasuk loji kuasa dan jembatan.
Pencabutan Sanksi Ekonomi: AS berkomitmen untuk mulai mencabut sanksi primer dan sekunder yang selama ini melumpuhkan ekonomi Iran sebagai bagian dari komitmen jangka panjang.
Penghentian Program Nuklir: Iran memberikan jaminan untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir dan mengizinkan pengawasan internasional yang lebih ketat.
Penarikan Pasukan Tempur: AS setuju untuk mulai merencanakan penarikan sebagian pasukan tempurnya dari wilayah-wilayah sensitif di Timur Tengah guna mengurangi gesekan militer.
Pengakuan Hak Pengayaan Uranium: Dalam kerangka negosiasi, AS mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium terbatas untuk tujuan energi sipil dan medis.
Pertukaran Tahanan: Kedua negara sepakat untuk melakukan pertukaran tahanan sebagai langkah membangun kepercayaan (confidence-building measures) selama masa gencatan senjata.
Pencairan Aset Iran: Washington setuju untuk memfasilitasi pencairan aset-aset Iran yang sebelumnya dibekukan di berbagai bank internasional untuk kebutuhan kemanusiaan.
Jaminan Non-Agresi: Kedua belah pihak menyepakati klausul non-agresi di mana tidak akan ada serangan baru yang dimulai selama proses negosiasi di Islamabad berlangsung.
Pengawasan Pihak Ketiga: Pakistan akan bertindak sebagai pengawas teknis dan mediator utama untuk memastikan setiap poin dalam kesepakatan ini dipatuhi oleh kedua pihak.
Meskipun kesepakatan ini disambut hangat oleh pasar global—terlihat dari penguatan nilai tukar mata uang dan penurunan harga minyak—situasi di lapangan tetap rapuh. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa militer mereka tetap dalam kondisi “waspada penuh” dan memperingatkan bahwa mereka tidak ragu untuk membalas jika AS melanggar ketentuan.
Di sisi lain, Presiden Trump menyebut keberhasilan ini sebagai hasil dari “tekanan maksimum” yang akhirnya memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Sebaliknya Iran menyatakan bahwa ini adalah bagian dari kemenangan mereka.(*)
BACA JUGA: Iran Melaporkan Serangan terhadap Jembatan, Jalan Utama, dan Jalur KA di Tengah Ancaman AS-Israel






