Keracunan Masal (Lagi) MBG di SMAN 2 Kudus, Duh!

Di SMAN 2 Kudus, sebanyak 118 siswa dilarikan ke tujuh rumah sakit berbeda, sementara total 600 siswa lainnya dilaporkan mengalami gejala serupa pasca menyantap menu soto ayam.
WWW.JERNIH.CO – Kasus dugaan keracunan makanan massal yang menimpa siswa SMAN 2 Kudus akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan terus meluas. Hingga Kamis (29/1), Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat jumlah korban yang harus menjalani perawatan medis melonjak drastis dari 70 menjadi 118 siswa.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, mengonfirmasi bahwa para korban saat ini tersebar di tujuh rumah sakit berbeda untuk mendapatkan penanganan intensif. “Hasil pendataan kami menunjukkan 118 orang dirawat, dengan rincian terbanyak di RSUD Loekmono Hadi (28 orang) dan RS Mardi Rahayu (22 orang),” jelasnya.
Insiden ini bermula setelah para siswa dan guru menyantap menu soto ayam suwir, tempe, dan tauge yang disuplai oleh SPPG Purwosari pada Rabu (28/1) siang. Ironisnya, gejala awal seperti sakit perut dan diare justru pertama kali dirasakan oleh para guru sebelum akhirnya menyerang ratusan siswa.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 2 Kudus, Dwiyana, mengungkapkan bahwa situasi sempat tidak terkendali ketika laporan siswa sakit terus masuk dari setiap kelas.
“Ada kelas yang melaporkan hingga 35 siswanya sakit. Karena kondisi memburuk, kami segera berkoordinasi dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk merujuk siswa menggunakan ambulans,” ujar Dwiyana.
Dari total 1.178 siswa, diperkirakan sekitar 600 siswa mengalami gejala serupa, namun sebagian memilih menjalani rawat jalan di rumah. Lebih dari separuh jumlah siswa termasuk tertinggi dalam berbagai kasus keracunan MBG.
Kasus yang terjadi di SMAN 2 Kudus menambah panjang rentang keracunan makanan program ini. Sebelumnya sudah ada beberapa kali dengan korban di atas 100 siswa.
Sejak tahun 2025, program Makan Bergizi Gratis (MBG) diwarnai serangkaian insiden keracunan massal dengan jumlah korban yang sangat besar di berbagai wilayah. Kasus paling masif tercatat di Grobogan, Jawa Tengah, pada Januari 2026 dengan 658 korban, diikuti oleh Lebong, Bengkulu (539 orang), Sukabumi (503 orang), serta Cipongkor, Bandung Barat (364 orang) yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Selain itu, Mojokerto mencatat 261 korban dari tujuh lembaga pendidikan berbeda, sementara di Cikalongkulon, Cianjur, sebanyak 205 orang yang terdiri dari siswa PAUD hingga SMP juga mengalami keracunan pada akhir Januari 2026.
Tren memprihatinkan ini juga mencakup wilayah Bogor dengan 210 korban pada Mei 2025, serta Banggai Kepulauan dan Sumbawa yang masing-masing mencatat 157 dan 106 korban pada September 2025 akibat masalah pada lauk pauk.
Rentetan peristiwa ini memicu desakan publik agar pemerintah segera mengevaluasi Standar Operasional Prosedur (SOP) di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menjamin keamanan pangan bagi jutaan siswa di Indonesia. Sebuah persoalan yang sepertinya tak menemukan jalan keluar.(*)
BACA JUGA: Di Balik Keracunan MBG: Menyingkap Bakteri, Virus, dan Racun yang Mengintai






