POTPOURRI

KontraS yang Kenyang Teror

Kejahatan yang dilakukan kepada almarhum Munir tampaknya tidak pernah menjadi tamparan bagi siapapun yang melakukan teror kepada KontraS. Malah modusnya kian beragam.

WWW.JERNIH.CO –  Sejarah KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) bukan hanya tentang advokasi, tetapi juga tentang catatan panjang intimidasi, serangan fisik, dan teror sistematis.

Sebagai lembaga yang konsisten mengusik kenyamanan para pemegang kekuasaan dan aktor keamanan, KontraS sering kali menjadi sasaran “balas dendam” atau upaya pembungkaman.

Lembaga ini begitu kenyang dengan berbagai ancaman, baik kepada institusi maupun personelnya.  Serangan paling mematikan dan tragis dalam sejarah KontraS adalah pembunuhan pendirinya, Munir Said Thalib. Munir diracun menggunakan arsenik dalam penerbangan menuju Belanda pada 7 September 2004.

Kasus ini diyakini melibatkan aktor intelektual dari lembaga negara (BIN), meskipun hingga kini dalang utamanya belum tersentuh hukum secara tuntas. Kematian Munir menjadi simbol tertinggi dari risiko yang dihadapi oleh aktivis KontraS.

Kantor KontraS di Jakarta beberapa kali menjadi sasaran amuk massa yang diduga dikerahkan oleh kelompok tertentu. Pada Maret 2002 misalnya kantor KontraS diserbu oleh sekelompok orang yang mengaku sebagai keluarga purnawirawan TNI. Mereka menghancurkan komputer, dokumen penting, dan furnitur kantor sebagai bentuk protes atas investigasi KontraS terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu (Tragedi Semanggi dan Trisakti).

BACA JUGA: Empat Catatan Penting Dari KontraS Kepada IKN

Lalu pada Mei 2003 penyerangan serupa terjadi kembali. Massa melakukan intimidasi fisik terhadap staf yang berada di lokasi dan merusak fasilitas kantor. Pola serangan ini biasanya bertujuan untuk menghambat kerja-kerja pendokumentasian kasus.

Hampir setiap koordinator KontraS pernah dilaporkan ke kepolisian oleh pejabat atau organisasi tertentu setiap kali KontraS merilis laporan tahunan yang mengkritik kinerja institusi negara.

Selain serangan air keras yang menimpa Andrie Yunus di tahun 2026, teror fisik lainnya meliputi pengiriman paket mencurigakan. Beberapa kali kantor KontraS menerima paket tanpa identitas yang diduga berisi bahan peledak atau pesan ancaman pembunuhan.

Para aktivis KontraS sering melaporkan adanya orang-orang tak dikenal yang memantau pergerakan mereka di sekitar kantor atau kediaman pribadi, terutama saat mereka sedang menangani kasus besar seperti isu Papua atau pelanggaran HAM berat.

Di era modern, serangan bergeser ke ruang siber. Umpamanya lewat doxing. Penyebaran data pribadi (nomor telepon, alamat rumah) aktivis KontraS di media sosial untuk memicu perundungan (bullying) oleh akun-akun anonim (buzzer).

Bahkan tindakan hacking berupa upaya peretasan situs resmi KontraS dan akun media sosial para stafnya untuk menghapus bukti-bukti advokasi atau menyebarkan disinformasi.

Serangkaian kejahatan kepada lembaga ini menunjukkan bahwa apa yang dialami Andrie Yunus bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola kekerasan yang berulang untuk melemahkan gerakan pembela HAM di Indonesia. (*)

BACA JUGA: Andrie Yunus, Wakil KontraS Diserang dengan Air Keras

Back to top button