Misi UNIFIL Tercoreng oleh Ego Israel

Israel telah menodai misi perdamaian yang dibawa oleh UNIFIL. Kali ini mengusik bangsa Indonesia. Padahal Indonesia sudah lama terlibat dalam menjaga perdamaian di Lebanan.
WWW.JERNIH.CO – Misi perdamaian PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), telah menjadi salah satu panggung utama diplomasi pertahanan Indonesia selama hampir dua dekade. Namun, misi mulia ini kembali dibayar dengan harga yang sangat mahal ketika serangan artileri Israel menghantam pos penugasan Indonesia di Adshit al-Qusayr pada 29 Maret 2026, yang menyebabkan gugurnya Praka Farizal Rhomadhon.
Indonesia secara resmi mulai bergabung dalam misi UNIFIL pada tahun 2006, tak lama setelah pecahnya perang 34 hari antara Israel dan Hizbullah. Pengiriman pasukan ini merupakan respons terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang memperluas mandat UNIFIL untuk memantau penghentian permusuhan dan membantu Pemerintah Lebanon memulihkan otoritasnya di wilayah selatan.
Sejak saat itu, Indonesia konsisten menjadi salah satu kontributor pasukan terbesar bagi UNIFIL. Hingga awal tahun 2026, jumlah personel TNI yang dikerahkan mencapai sekitar 1.200 hingga 1.290 prajurit yang tersebar di berbagai satuan tugas, termasuk, di antaranya;
Satgas Yonmek (Indobatt): Batalyon Mekanik yang bertugas melakukan patroli darat di sepanjang Blue Line.
Maritime Task Force (MTF): Satuan tugas laut yang melibatkan kapal perang (KRI) untuk mencegah masuknya senjata ilegal melalui perairan Lebanon.
Force Protection Company (FPC): Bertugas memberikan perlindungan keamanan bagi markas besar UNIFIL di Naqoura.
BACA JUGA: Situasi Lebanon Memanas, Dua Pejabat Tinggi UNIFIL Ikut Patroli Bersama KRI Sultan Iskandar Muda-367
Misi utama Kontingen Garuda di Lebanon bukanlah untuk berperang, melainkan sebagai penengah netral. Tugas mereka meliputi melakukan patroli keamanan guna memastikan tidak ada pelanggaran garis perbatasan (Blue Line) oleh pihak-pihak yang bertikai.
Selain itu juga bantuan kemanusiaan (CIMIC) yang dilakukan dengan menjalin hubungan dengan masyarakat lokal melalui pelayanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur desa.
Di samping memberikan dukungan militer kepada Lebanon yaitu dengan membantu Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) dalam mengamankan wilayah selatan Lebanon dari kehadiran kelompok bersenjata non-negara.
Pasukan Indonesia di Lebanon tidak bertugas secara permanen. Proses pergantian dilakukan melalui mekanisme rotasi tahunan. Setiap kontingen biasanya bertugas selama 12 bulan sebelum digantikan oleh satuan baru yang telah melalui seleksi ketat dan latihan pra-tugas (Pre-Deployment Training) di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul.
Rotasi terbaru pada April 2025 melibatkan sekitar 1.090 personel dari tiga matra (AD, AL, dan AU). Sayangnya, eskalasi konflik yang memuncak pada akhir 2025 hingga awal 2026 membuat situasi di lapangan jauh lebih berbahaya dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Dan kali ini ada keterlibatan Israel yang mengacaukan misi PBB itu sendiri. (*)
BACA JUGA: Satu Prajurit TNI yang Tergabung UNIFIL Tewas Kena Bom Israel






