POTPOURRISpiritus

Setetes Embun: Basilika Yohanes Lateran

Karena Yesus hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Yesus, maka peran setiap pribadi sebagai Bait Tuhan, dengan segala kesuciannya, juga tak terelakkan. Setiap orang mesti menjaga dirinya dari semangat bisnis atau mencari keuntungan dalam relasi dengan Tuhan.

JERNIH-Hari minggu ini didedikasikan oleh Gereja Katolik untuk mengenangkan dan menghormati Basilika Yohanes Lateran di Roma. Basilika ini merayakan ulang tahun hari ini sebagai Katedral Roma sesuai ketetapan Paus Silvester I pada tahun 324.

Ini tentu bukan pertama-tama soal bangunan gedung sebagai sebuah benda mati melainkan apa yang disimbolkan oleh Basilika ini dan bagaimana sejarah iman yang panjang di balik bangunan suci ini.

Basilika ini pada prinsipnya merupakan tahta kerasulan Paus sebagai uskup Roma dan karenanya disebut Ibu dan Kepala semua gereja di Roma dan di dunia.

Basilika dan Tempat Pembaptisan pertama kali dibangun oleh Kaisar Konstantinus Agung dan awalnya disebut Basilka Konstantinus. Dalam perjalanan sejaranya lalu disebut Basilka Agung Sang Penebus Mahakudus.

Sekarang Basilika ini memakai nama Yohanes Lateran karena Basilika ini dibangun di atas lahan yang disumbangkan oleh keluarga Lateran pada masa itu. Nama Yohanes dipakai karena yang melayani di dalam Gereja ini adalah para biarawan Santo Yohanes Pembaptis dan Yohanes Ilahi.

Selain itu Paus Sixtus II (432-440) juga meresmikan penggunaan nama Santo Yohanes Pembaptis setelah renovasi Gereja akibat penghancuran oleh para Visigoth yang menyerang Roma. Paus Hilarius (461-468) gantian menetapkan nama Santo Yohanes Penginjil sebagai pelindung Basilika ini karena merasa diselamatkan hidupnya.

**

Gereja sebagai sebuah bangunan sekaligus simbol kehadiran Tuhan memiliki keterkaitan dengan Bait Allah. Bait Allah yang mengalirkan air dari pintu gerbangnya, sebagaimana dibaca hari ini dari Kitab Yehezkiel (Yeh 47,1), merupakan penampakan antisipatif atau gambaran masa depan akan Allah yang merupakan sumber hidup dan membagikan rahmat melalui Yesus Kristus sebagai Bait Allah yang hidup, menggantikan Bait yang sudah hancur.

Sungai yang mengalir dari bawah pintu Bait Allah adalah Roh Kudus yang memberi hidup dan pengharapan kepada dunia. Air yang menghidupkan ini adalah Sakramen-Sakramen dalam gereja khususnya Sakramen Baptis.

Sebagai bangunan, Bait Allah sudah digantikan oleh Gereja atau Basilika. Sebagai tempat kehadiran Allah, peran Bait Allah sudah digantikan oleh Yesus Kristus yang bangkit dan hidup serta tinggal di dalam Gereja dan Basilika dimana kehadiran-Nya dirayakan, dirasakan, dialami, serta diyakini dengan penuh iman.

Karena itu dengan penuh keyakinan Yesus bisa berkata kepada para pemimpin agama Yahudi: “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yoh 2,19)

Disini Yesus berbicara tentang Bait yang hidup yakni tubuh-Nya sendiri yang akan mati dan bangkit dalam tiga hari. Keberanian Yesus mengasosiasikan diri bahkan menggantikan peran Bait Allah sebagai tempat bersemayam-Nya Allah sungguh sebuah pemikiran dan keberanian yang revolusioner dari Yesus.

Yesus menetapkan sebuah cara beriman yang benar-benar radikal karena menjadikan seorang Pribadi yakni diri-Nya sendiri sebagai representasi kehadiran Allah di dunia ini. Bukan lagi Bait Allah atau bangunan suci mana pun melainkan seorang Pribadi yang hidup kemudian mati dan hidup lagi.

Karena Yesus hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Yesus, maka peran setiap pribadi sebagai Bait Tuhan, dengan segala kesuciannya, juga tak terelakkan. Setiap orang mesti menjaga dirinya dari semangat bisnis atau mencari keuntungan dalam relasi dengan Tuhan. Relasi dengan Tuhan harus menjadi relasi anak dan Bapak, relasi kasih sayang dan respek serta keinginan pada kebaikan, tanpa berpikir untung dan rugi.

Setiap orang juga jangan melihat orang lain sebagai obyek untuk keuntungan pribadi. Di dalam setiap pribadi beriman, hendaknya kita melihat Yesus Kristus di dalam orang itu, sebagaimana orang lain pun melihat-Nya di dalam diri kita.

Siapkah kita membangun dan menjadi Gereja yang hidup, dimana Kristus ada di dalam kita?

(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis di Biara Redemptoris Ky Dong, Ho Chi Minh City-Saigon, Vietnam)

Back to top button