POTPOURRI

Wapres  RI ke-6 Try Sutrisno Berpulang

Selamat jalan, Jenderal Try Sutrisno. Indonesia akan selalu mengenangmu sebagai teladan kesederhanaan, loyalitas tanpa syarat, dan kecintaan yang murni pada Tanah Air.

WWW.JERNIH.CO – Indonesia kehilangan lagi salah satu putra terbaiknya. Sekaligus pelaku sejarah kepemimpinan nasional era 80-90-an. Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa pada Senin pagi, 2 Maret 2026.

Kepergian sosok yang dikenal sangat santun namun teguh prinsip ini menyisakan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pihak keluarga dan pemerintah, menandai berakhirnya pengabdian panjang seorang prajurit sejati yang menghabiskan seluruh hidupnya demi kedaulatan dan persatuan bangsa.

Kondisi kesehatan Pak Try dikabarkan menurun sejak dini hari di ruang CICU Kamar 207 Lantai 2, RSPAD Gatot Soebroto. Meskipun tim medis telah memberikan upaya maksimal, sang Jenderal akhirnya berpulang dengan tenang di usia 90 tahun.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sebelum dilepas dengan upacara militer sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara atas jasa-jasanya yang tak terhingga.

Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno adalah potret dari kisah sukses yang murni dibangun di atas kerja keras. Terlahir sebagai anak seorang sopir ambulans, masa kecilnya diwarnai kesulitan ekonomi di tengah kecamuk perang kemerdekaan. Ia sempat berjualan koran dan rokok untuk membantu keluarganya.

BACA JUGA: Doni Monardo Dapat Arahan “Ayahanda” Try Sutrisno

Pendidikan militernya dimulai di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) pada tahun 1956. Kariernya di TNI Angkatan Darat adalah sebuah pendakian yang legendaris. Diawali sebagai ajudan Presiden Soeharto (1974), posisi yang membentuk pandangan politik dan kenegaraannya.

Lalu berlanjut menjadi Pangdam Jaya (1982). Saat itu ia dikenal mampu menjaga stabilitas ibu kota dengan pendekatan yang mengayomi. Empat tahun kemudian menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (1986) dengan misi memperkuat profesionalisme prajurit.

Lalu mendaki menjadi Panglima ABRI (1988-1993). Ini adalah puncak karier militernya sebelum akhirnya dipercaya menjadi Wakil Presiden RI (1993-1998).

Gaya kepemimpinan Try Sutrisno sering disebut sebagai oase di tengah kerasnya politik Orde Baru. Pak Try adalah sosok yang mampu berbicara dengan lembut namun memiliki ketegasan yang tak tergoyahkan terkait ideologi Pancasila. Baginya, TNI tidak boleh terpisah dari rakyat. Salah satu pesan otentik beliau yang paling membekas di hati para prajurit adalah:

“TNI itu lahir dari rakyat, berjuang untuk rakyat, dan selamanya tidak boleh menyakiti hati rakyat. Jika engkau menyakiti rakyat, engkau sedang mengkhianati asal-usulmu sendiri.”

Selama menjabat sebagai Wapres, beliau dikenal sebagai pendamping yang sangat loyal, rendah hati, dan jauh dari hiruk-pikuk pencitraan. Try adalah sosok “Bhayangkara Negara” yang memegang teguh sumpah prajurit hingga napas terakhirnya.

Try Sutrisno tidak hanya meninggalkan jasa bagi negara, tetapi juga warisan nilai integritas dalam keluarganya. Bersama sang istri, Tuti Sutiawati berhasil mendidik putra-putrinya menjadi sosok yang mandiri tanpa bergantung pada bayang-bayang nama besar ayah mereka.

Dua sosok yang kini meneruskan pengabdian di jalur kepolisian dan militer adalah Irjen Pol. (Purn.) Firman Santyabudi, mantan Kakorlantas Polri yang dikenal karena dedikasinya pada ketertiban dan disiplin. Lalu, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo yang saat ini memegang peranan penting di TNI AD, mewarisi ketegasan dan gaya kepemimpinan lapangan sang ayah.

Hingga masa purnatugasnya, Pak Try tetap aktif memberikan wejangan dalam berbagai forum kenegaraan. Ia selalu menekankan pentingnya menjaga persatuan di atas segala perbedaan. Salah satu kutipan yang paling relevan dan membekas bagi generasi masa kini adalah:

“Pancasila bukan sekadar pajangan di dinding kelas atau kantor, tapi denyut nadi dalam setiap langkah pengabdian kita. Jangan biarkan perbedaan merobek kain persatuan yang telah kita tenun dengan darah dan air mata.”(*)

BACA JUGA: Pembekalan Try Sutrisno Kepada Purnawirawan TNI-AD di Tahun Politik

Back to top button