Puisi

5 PUISI DZAKWAN EDZA

KARET

Di sana tempatku
menabuh suara
kertap-kertap kesunyian

semua tak lagi perlu
merasa diburu-buru

waktu tak lagi mengenal angka
masa depan tak lagi memasang harga
dan rencana akan selalu tenang
untuk hari-hari yang selalu minggu
tanpa negara dan agama


CATATAN REDAKSIONAL

Karet dan Kosmos Tanpa Kalender

oleh IRZI Risfandi

Ada yang lentur, ada yang lenting, dan ada yang KARET (sepertinya alusi ke puisi dan rumah hari ini dari Bang Nini aka Chairil Anwar)—judul puisi dari Dzakwan Edza yang secara usil mengibarkan panji ketidakpedulian terhadap tatanan waktu, negara, dan bahkan agama, lalu menjadikannya semacam ruang tunda yang sangat poetik. Dalam puisinya yang sangat pendek tapi menyentak ini, Dzakwan menawarkan kita surga para anarkis lembut: dunia di mana waktu tak perlu diburu, masa depan tidak punya harga, dan rencana cukup rebahan di hammock metaforis sambil minum es kelapa. Apakah ini bentuk protes? Tentu. Tapi protes yang dirancang dengan kesengajaan minimalis, seperti emoji di akhir pesan pasrah.


Puisi ini bekerja bukan dengan teknik berat semacam metafora kompleks atau enjambemen eksperimental, melainkan dengan ketenangan yang nyaris sufi. Tapi jangan salah, ini bukan spiritualitas yang khusyuk—lebih ke spiritualitas jenuh yang memilih tidur siang daripada debat ideologi. Puisi ini menabrak semua patokan yang biasa mengikat karya sastra: tidak ada tokoh, tidak ada alur, hanya atmosfer dan niat kabur dari sistem. Ini bukan sekadar tulisan, ini pelarian estetik.


Lalu siapa sih Dzakwan Edza ini? Bayangkan seseorang yang lahir di kota penuh bara dan pukulan (entah Djakarta atau Mad Max versi koran sore), lalu tumbuh menjadi homo sapiens yang suka mencatat absurditas dunia di sela-sela kesibukan sebagai pewarta. Eja, begitu ia disapa, adalah penulis “Kitab Cuci Kata”—judul yang seakan ingin membilas seluruh diksi basi dari lembaran puisi. Ia juga pengarsip kenangan, yang dalam konteks ini terdengar seperti profesi mitologis. Karya-karyanya, termasuk “KARET”, mencerminkan dunia yang ia alami: sinis tapi masih punya empati, getir tapi bisa digelak.


Membaca “KARET” adalah seperti membaca status sosial media seseorang yang jujur, muak, tapi tetap memesona. Mungkin karena di bawah gestur “tidak peduli” itu, ada pengakuan yang sangat manusiawi: bahwa struktur sosial, agama, dan negara sering kali tidak memberi kita tempat untuk sekadar bernapas pelan. Puisi ini seperti mengundang kita untuk duduk di bangku paling belakang dari panggung kehidupan, nyemil keripik, dan memutuskan bahwa kita tidak perlu ikut gladi resik lagi.


“KARET” adalah pengingat bahwa puisi bukan cuma tentang keindahan bahasa atau kritik sosial yang rumit, tapi juga tentang momen-momen kecil ketika kita merasa dunia terlalu berisik dan satu-satunya hal waras yang bisa kita lakukan adalah: menepi, rebahan, dan bilang “tidak” dengan cara yang manis. KARET bukan puisi tentang melawan dengan teriak. Ia tentang diam yang licin, lentur, tapi tetap menampar dengan sopan. Seperti sandal jepit yang entah kenapa, selalu ada di semua revolusi.

***

BUAT JOKPIN

Hatiku mengembang bunga-bunga api
ingin kutulis selembar puisi tentang jogja
tapi jakarta membenamkanku pada hampa;
kesemrawutan kota bersama kekosongan kata
meminta makna—


SETAHUN KEPULANGANMU

Bila rumahmu yang baru
selalu lembap
itu karena air mata kami

dalam kesepianmu mekar bunga-bunga tumbuh
mawar tanpa duri itu kaupetik dari raudah
sesekali kau datang atau kami yang bertamu
tergantung; siapa yang lebih dulu rindu?

di alam nyenyak itu
aku sejenak pulang
memejamkan tubuh
tuk membangunkanmu:

melihatmu senantiasa muda
berumah tanpa tempias hujan
bernapas tanpa alat pompa
dan berhari tanpa mewaktu

sekarang obat-obatan dan rasa sakit itu
tak lagi pahit bukan?



2025


KETIKA KAU BERTANYA SOAL PERJALANANKU KE RUMAHMU

Jarak kan kulipat
macet kan kutebas
dan banjir kuterabas

Maka waktu indonesia
bagian ciledug terhenti
sesaat sekitarnya memanas
dan tangerang serupa kiamat

Lekas bibirku mengitari
hangat wajahmu
dan terbebas di tubuhmu


SENAYAN, 26 NOVEMBER 2022

Bersama relawannya
ia menari-ngeri
kegagalan yang raya
lima tahun sekali


BIODATA :

Dzakwan Edza, atau yang akrab disapa Jakwan atau Eja, adalah seorang homo sapiens yang tiba di bumi 24 tahun lalu, di sebuah kota yang mencintai api dan kekerasan. Kini bekerja sebagai pewarta di salah satu media di Jakarta, ia juga dikenal sebagai pengarsip kenangan dan penulis aktif di partikel.id. Karya-karyanya berupa cerpen dan feature telah dipublikasikan di spektakel.id dan blocx.id. Buku debutnya, Kitab Cuci Kata (Warning Books, 2023), tersedia di toko-toko buku independen. Di sela kesibukan, ia mencuri waktu untuk membaca, menulis, dan menyusun bakal naskah buku keduanya.

Check Also
Close
Back to top button