Puisi

5 PUISI KARST MAWARDI

Self-Portrait, Francis Bacon

penglihatan
dari gelas cembung yang dibalik
dan bermimpi penuh

sebelum terbanting

bukaan—satu kantung mata
mencecap gemerincing
yang terus-menerus menelusur
kegelapan pipa bawah tanah

gema merah pahit
yang melatari adamu
sekorosif tangan
pencipta lebam

cekung biru pipimu:

lubang untuk melihat
tubuh di dalam tubuh:
daging yang terpilin kencang
kini terurai lemas
merangkak, menatap kosong
pada apa yang hilang

terpotong dari keutuhan

sebelum bengkak kuning menyembul
menggeser rongga hidung dari simetri
lantas pecah sebagai asap

—minus percikan api

bukan kegoyahan fokus
atau kekaburan lensa;
hanya “kelunturan wujud”
dari sekilas stigma
ihwal “kesempurnaan absolut”
yang mereka sebut pas memandangmu

dari jauh
dengan mata tertutup

*

CATATAN REDAKSIONAL

Melongok Diri dari Cermin Retak Francis Bacon

*

Ada yang rusuh, nyaris gaduh, dalam puisi Self-Portrait, Francis Bacon karya Karst Mawardi ini, dan itulah yang menjadikannya menarik. Dalam satu tarikan napas, puisi ini seperti galeri mini yang menyorot distorsi wajah manusia—bukan sekadar wajah literal, melainkan wajah eksistensial. Karst tak bermain-main dengan metafora; ia menukik, menantang, dan mengoyak persepsi kita soal estetika dan kemanusiaan. Dengan meminjam pendekatan visual khas lukisan-lukisan Francis Bacon yang grotesk namun intens, Karst menyulap tubuh jadi fragmen-fragmen absurd: daging, kantung mata, pipi biru, dan rongga hidung yang menyembul “kuning.” Sebuah parade warna luka, yang tak datang dari percikan api, tetapi dari benturan dalam.

Bahasa dalam puisi ini bukan sekadar alat pengantar pesan, tapi semacam kuas yang melukis potret gelisah. Lihat saja bagaimana Karst menabrakkan citraan seperti “lubang untuk melihat tubuh di dalam tubuh” atau “cekung biru pipimu: lubang untuk melihat.” Itu bukan hanya permainan imaji, tapi sebuah penggugatan terhadap narasi tunggal tentang “tubuh” dan “diri.” Siapa kita, ketika keutuhan hanya tinggal ilusi? Karst tampaknya ingin menyarankan: mungkin kita tak pernah utuh sejak awal. Semua hanya potongan-potongan, yang mencoba menyusun dirinya sendiri di bawah cahaya galeri atau sorot hidup.

Kritik terhadap standar kecantikan atau “kesempurnaan absolut” dalam puisi ini pun tersirat sangat kuat. Karst mengusung “kelunturan wujud” sebagai ide utama. Ini bukan tentang kaburnya objek karena kamera goyang, melainkan karena seluruh eksistensi subjek memang telah remuk sejak awal. Dengan menyebut “mereka memandangmu dari jauh / dengan mata tertutup,” puisi ini mengajukan sindiran tajam nan getir kepada masyarakat: kita sering menilai tanpa benar-benar melihat. Sebuah ironi sosial yang dibungkus indah dalam bebauan avant-garde.

Menariknya, Karst yang lahir di Banjarmasin pada tahun 1999 dan kini mengabdi sebagai guru SD, justru menghadirkan puisi yang menggugat pemahaman arsitektural tentang tubuh dan jiwa. Puisi ini jauh dari kesederhanaan keseharian di sekolah dasar; ia adalah jeritan visual dari ruang pamer Bacon. Barangkali justru dari sana letak ironi yang paling subtil—seorang pengajar anak-anak, menyodorkan puisi sekompleks ini. Bisa jadi, itu bentuk pelampiasan terhadap segala sesuatu yang terkungkung dalam kehidupan normal, dan puisi menjadi kanvas perlawanan.

Self-Portrait, Francis Bacon bukan puisi yang ingin dimengerti dengan cepat. Ia mengajak kita duduk lama, sambil menatap diri sendiri dalam cermin bengkok. Seperti Bacon yang membongkar wajah manusia menjadi tumpukan rasa sakit dan absurditas, Karst Mawardi menulis puisi ini sebagai lukisan literer. Ia bukan hanya merayakan deformasi, tapi menjadikannya kejujuran yang puitik. Inilah potret diri yang sungguh tak nyaman, namun terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

2025

*

dari buku Tendensi

75 kg 2,5 liter 240 menit

33 km
Rp. 120.000,00

31 orang

200 kata/halaman

: apakah ini?

setiap satuan menjadi sekumpulan petunjuk
buku terbuka, sebatang pulpen tegak
sebuah kacamata agak dinaikkan dan sepasang mata agak menyipit
sepasang mata dari orang tua
tepatnya :
sosok yang dituakan
ia ada di hadapan kita sekarang
duduk di atas piramida stratifikasi
bersiap melontarkan kata-kata
sementara masing-masing dari kita menahan napas

“kata kuncinya adalah”

kemudian extensi dimulai
jumlah kita jadi berlipat ganda
dan sebuah balok tercipta
dari rusuk kubus yang terus diperpanjang

setiap titik dari dimensi 0 mulai bergerak
setiap lintasan menjelma kurva
dan garis-garis membuat fraktal
memperluas konstruksi jaring-jaring
memperbesar kapasitas ordo dari matrix yang mendindingi ruang

tetapi penyusutan juga terjadi
diameter bola itu perlahan mengecil
tabung dan kerucut juga mengecil
selalu ada potensi menjadi titik
titik-titik menyebar di sekitar kaki
persis bintang-bintang di atas kepala kita
dari sini, koordinat mulai dibangun
dengan pola garis dari titik yang berdekatan

“lihat, nak,
rasi itu seperti kepiting!”

tanpa kaki dan capit
kepiting adalah abstrak
anak itu tak mampu melihatnya
kembali pada buku abjad dan mulai mengeja
z – e ze
b – r ber
a
ze – be – ra
?

terpana pada setiap bentuk dan pola
pada pengulangan garis hitam dan putih
fotokopi dari segala yang tampak
begitulah
sampai suatu ketika pintu tak dikenal itu
terbuka
tanpa pernah terduga
dan warna lain mulai merayapi dunia secara akuarel


lapisan udara
dispersi cahaya


awan-awan terus bergerak
sebagaimana troli di bawahnya bergerak
dan kata terus terus digunakan
dalam berita seputar lalu lintas

“fly over!”

tanjakan atau bukan
berpasang roda akan terus bergulir lonceng sekolah berdentang
sedikit batuk menyertai ceramah seorang pakar teknologi pendidikan

menurunkan ego saat menatap mekarnya bunga matahari
memilih membaca sebagai kata kerja dari taksonomi kognitif
“fotoautotrof adalah …”
kemudian pintu asing yang lain terbuka
begitulah spirit paling transitif itu pun merasuki jiwa kita
dan observasi membuat setiap batas menjadi arbitrer
tiap indra tersengat pesona latar dari suatu pertunjukan
sebelum serentak hadir di pikiran kita
: aspek-aspek prismatis dari segala yang nampak diafan


• • •

kuning biru merah abu
jingga hijau putih ungu

kilasan-kilasan yang mendahului
sentuhan pelukis pada

setiap kuas, selalu
di luar bidikan

kamera, mungkin
mendahului setiap

praduga tentang
presisi, juga

konfigurasi, sebelum
eureka!, momentum: selalu

mengantarkan kita
pada turbin pada

roda gir aliran
pada basin sesuatu yang

licin mendorong
kita bagai kunyahan

makanan dalam
esofagus, di bawah

tekanan peristaltik kita
renungkan setiap

dengus: cetusan dari
kata-kata ketika kita

koyak oleh kekuatan
external dari kehadiran demi

kehadiran, textur segala
benda, sosok yang terlahir dari

adjektiva, tak lain
untuk mempelajari

tangga demi
tangga yang akan

membawa kita pada
keterbukaan, kelopak iris yang

sempurna mekar, pada
ruang di luar

ruang, elipsis yang
menjelma altar di mana

segenap indra menyerahkan
daya cipta mereka, menjelang

terbitnya tiga
kaldera dari

sepatah kata
a d a

• • •

akson

akses

aksen

• • •

Lelehan lendir lintah. Lubang dari material kedap air.
Bangunan kardus bagi boneka kaos kaki.
Log out → shut down.
Emosionalitas kekinian.
Asterisk digeser ke depan panggung.
Inilah subjek.
Penggembala catatan kaki.
Tanda yang menunjuk bawah.
Deskriptif.
Deadline.
Defamiliarisasi dalam doktrin-doktrin ketat.
Domba berbulu angsa.
Narasi implisit menjangkiti suara MC.
Integrasi mengintervensi individualitas kepingan puzzle.
Kilau kulit belut disambar tangan si lapar.
Penyamaran dalam fluida.
Kristalisasi hawa dingin.
Lalu lintas konjungsi. Kemacetan sintaksis.
Sentralisasi semu sakelar dalam rangkaian paralel.
Distribusi cahaya.
Gemerlap ombak.
Pasang posemu lalu katakan “Vantablack!”
Lagu-lagu sedih diputar kembali.
Bosan dengan formalitas fine dining.
Monalisa semakin urakan dalam pop art photoshop meme.
Yo yo yo check this out, Bro!
Lelucon lama direpetisi, dimodifikasi.
Aroma bangkai tikus.
Potong di sini.
Miniatur kepulauan tropis dari topiary.
Tanah dijual, hubungi 08581360xxxx.
Siapa yang sudi menulis puisi bagi siput-siput laut?
Mama, jangan hukum aku.
Ujian hari ini tentang statistika.
Begitu banyak hal-ihwal musti digambar.
Persentase preferensi pribadi perihal politik.
Matcha, dark chocolate, banana split.
Sebuah variabel ditanggalkan.
Kelebat seseorang berlalu dalam gerak lambat.
Adagio.
Allegro.
Adios.
Efek samping musti dipertanggungjawabkan.
Cepat—polisi mulai menggertak

Angkat tangan!


• • •

bersemi melampaui segala musim
tanpa tercegat oleh apa pun—gagasan!
arena yang terus diperluas ini
menentang kapasitas yang “ditentukan”

seperti Magritte, langit dalam bola mata
menatap tajam dinding keempat
atau salinan lanskap yang terjalin
lewat serpihan kaca—sebatang pohon

yang bersikeras membelitkan akar ke
seluruh bumi, bahkan apa yang besarnya
melebihi cakrawala, atau lapisan udara

tentu saja Kita—bukan dewa!—hanya
lembah gelap dari konsekuensi, predikat
: intervensi universal yang tidak tertolak

*

Dari Fotografi Elie Petit

tak disediakan: kursi, cermin, wastafel
tak ada properti di sini—
tidak ada satu-dua model
tiada pula pemeran pengganti
apa yang terpandang sekedar
riasan
menjelma pada latar
seakan cahaya setengah tersetting
atau selubung tertiup kipas
seakan sesuatu tengah diberi sentuhan
untuk kemudian ditanggalkan
: salib
yang tak lagi mengikat tawanan
atau layar kapal
menggulung—enggan
terkembang
seseorang bermaksud hadir
sebagai potret
yang lembarnya terbakar
sebelum sosoknya konkret
—bukan penafian
bila kekaburan meningkat
mempertegas diri sebagai kabut
bukan pula kealpaan
saat kelebat bayang menyamar jadi memori
dan pikiran terbuka menyambut

*

Failed Absolution, Jerry Deeds

lupakanlah kelezatan hara
goyang percabangan akar
dan cabut perlahan dirimu
dari kesuburan duniawi

ketiadaan biru yang beku
mengangkat kuncup bungamu
melalui distorsi yang agung
dan rekahlah ambiguitas

apa yang membekas di bawah
setelah segenap keakuan diseret
mengutuhkan dirinya kembali
sebagai siklus dan berdeburan

pesisir ini tak berujung-pangkal
batas yang menolak definisinya
menjelma wilayah tak bertuan
tempat pengakuan mengembara

semerbak perbuatan manusia
dalam darah—atau rosela—
menusuk hidung kuda pacuan
yang hidup atas nama gelanggang

saat permohonan telah tertunjam
pada langit yang lucut tabirnya
gelinjang larut di degup jantung
mendobrak rusuk di tiap interval
*

Foto “Failed Absolution”, karya Jerry Deeds, dari Grup Peeling Paint Appreciation Society https://web.facebook.com/groups/1321492561664787/permalink/1971742063306497/
* 

Historical Layers of Boat Paint, Paddy Screech

tentu sudah terlampau jauh
dalam jam kerumahtanggaan

terbayang wajah istri memerah
menagih keterangan kelayapan

ke mana kamu, tatapnya menyileti
ujung rambut hingga sepatu

dan kau menghela napas, tahu
telah lewat teng dua belas

namun memang ada tuntutan
membikin seorang menyendiri

larut dalam lamunan bahkan
setengah mabuk dibuatnya

mengikut gelombang demi
gelombang dengan sudut pandang

haluan tanpa tahu apa yang
menghadang di depan serta

menolak buat karam, di bawah
seorang diri menahan bobot

kegembiraan dalam wujud
kokpit + dek paling lapang,

impian sederhana kaujunjung
dedikasi bagi keluarga kecilmu

dibingkai dalam potret dari
sudut pandang turis: kerlap

laut lepas yang lebih tenang +
lanskap pulau-pulau tropis—

bukan pusaran arus atau dinding
karang yang tiba-tiba menjulang

atau perihal lain yang sebaiknya
tidak kauceritakan, kendati kini

istrimu lebih lunak, perlahan
memasang kancing piyamamu

tanpa sepatah kata terucap dan
paham dadamu yang ditambal

berulang berdenyut dalam warna
memar: semburat tegas sidat

kuning, kibar anemon merah,
dalam sapuan tangkas sirip layaran
*

Foto “Historical Layers of Boat Paint,” karya Paddy Screech, dari Grup Peeling Paint Appreciation Society https://web.facebook.com/groups/1321492561664787/permalink/1739648513182521/

*

Biodata Singkat:

Karst Mawardi, lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999. Bekerja pada salah satu sekolah dasar di kota kelahirannya. Di samping kesibukannya, ia juga tengah melakukan studi untuk mempersiapkan naskah puisinya, Tendensi dan Viva Adverbia!.

Check Also
Close
Back to top button