Puisi

5 PUISI WYAZ

NAPAK TILAS GATE

Dinasti kecil bermunculan dua periode enjoy berkuasa
Kapabilitas minim berkuasa lantaran politik uang menggelontor
Tilep sana sini alasan harumkan sejarah bangsa
Manipulasi meraja berbagai cara diracik otak-otak kotor

Berlenggang bebas seenak udelnya gaya hedon mengakar
Sementara infrastruktur hancur lebur ditinggal jalan berlubang
Pasang bidak di setiap lini anggaran gemuk dihajar
Proyek siluman kerap muncul upeti pun bertandang

Purna tugas ketar-ketir kesalahan diungkit hukum menanti
Stroke menggamit napas megap-megap kuburan siap digali

Bumi Ale-Ale, 5 Juli 2025


CATATAN REDAKSIONAL

Gate-Gate Politik dan Tikungan Napas di Bumi Ale-Ale

Oleh : IRZI Risfandi

WYAZ, atau Wahyudi Abdurrahman ZZaenal Ibn Sinentang, memang bukan penyair kemarin sore. Puisi-puisinya tak pernah benar-benar duduk diam di sofa estetika; ia selalu lincah menohok, menyelidik, dan tak segan menguliti luka sosial-politik, bahkan bila itu menyentuh denyut lokalitasnya sendiri. Dalam puisi “Napak Tilas Gate”, ia menghidangkan olahan kritik dengan bumbu pahit getir, seperti kopi tanpa gula yang diseruput sambil menatap jalan berlubang dan baliho politisi yang tersenyum palsu. Baris pembuka, “Dinasti kecil bermunculan dua periode enjoy berkuasa”, langsung menyeret kita ke realitas Indonesia pasca reformasi, ketika jabatan publik diwariskan seperti toko kelontong warisan keluarga. Ini adalah satire tajam yang mengejek wajah demokrasi kita yang makin hari makin seperti reality show—rame di permukaan, kosong di kedalaman.

Kekuatan utama puisi ini terletak pada keterusterangan tanpa basa-basi. WYAZ tak berusaha menyamarkan kritiknya dengan metafora berlapis-lapis, karena memang yang sedang dibidik adalah ketelanjangan moral dan kesewenang-wenangan birokrasi. “Tilep sana sini alasan harumkan sejarah bangsa” bukan hanya menyindir korupsi struktural, tapi juga narasi sejarah versi penguasa yang kerap dimanipulasi untuk pencitraan. Sementara itu, “proyek siluman kerap muncul upeti pun bertandang” menyorot ketidakterlihatan yang sengaja disamarkan—proyek fiktif yang nyata-nyata merampok anggaran publik. Dengan pola larik padat dan irama yang dipertahankan dalam tiap bait, puisi ini seperti langkah kaki marah yang menggedor pintu kantor wakil rakyat, sambil membawa daftar panjang pelanggaran yang belum diselesaikan.

Namun, dalam keras dan terjalnya jalan kritik yang ditempuh WYAZ, ada titik di mana puisi ini terasa terlalu padat, bahkan meledak-ledak tanpa cukup ruang bagi pembaca untuk merenung. Beberapa larik—seperti “Stroke menggamit napas megap-megap kuburan siap digali”—meski metaforis dan dramatis, berisiko menjadi bombastis jika tidak dibangun dengan latar naratif yang lebih kuat. Puisi ini bisa diuntungkan jika diberi jeda lirih atau sentuhan ironi halus, agar kritiknya tidak hanya terasa marah, tapi juga mengundang empati dan kesadaran. Kekurangan inilah yang bila diperhalus, justru bisa memperkaya dimensi afektif puisinya.

Membaca “Napak Tilas Gate” juga seperti menyimak arsip kekecewaan rakyat yang terus-menerus diabaikan. Puisi ini merekam ironi ketika jabatan digunakan sebagai alat memperkaya diri, bukan sebagai ladang pengabdian. Bagi WYAZ yang lahir di Pontianak dan kini menetap di Ketapang, Kalimantan Barat—wilayah yang tak jarang mengalami ketimpangan pembangunan dibanding pusat—puisi semacam ini bisa dibaca sebagai upaya mengangkat suara dari pinggiran. Ia bukan hanya sedang bersajak, tapi sedang menyuarakan denyut luka dari tanah yang sering dipandang sebelah mata. Ia adalah penyair yang sadar bahwa puisi bisa menjadi jembatan antara protes dan harapan.

Dengan gaya usil dan tajam, WYAZ meletakkan puisinya sebagai peringatan, semacam sirine dini sebelum lubang jalan menelan korban, atau sebelum ingatan rakyat dibeli oleh sembako lima tahunan. Di balik nada amarahnya, ia justru sedang mengusulkan etika: bahwa puisi harus berani menjadi alat kontrol sosial. Dan jika masih ada yang bertanya, apa guna puisi dalam dunia yang semakin karut-marut, WYAZ akan menjawab dengan lantang—“Napak tilas harus dibaca, bukan dilupakan.”


BIBIT KORUPTOR BERTEBAR

Korupsi bagai kacang goreng
Garing laris manis untuk dijajal
Berbagai elemen terlibat praktik menjijikkan ini
Bikin ketagihan sanksi hukum selalu dianggap sepele

Ramai-ramai pecahkan rekor tabiat lepas kontrol
Kadang berjamaah tilep yang bukan haknya
Bermain tunggal harta bertumpuk menggunung
Akibat urusan belakang tenar dalam berita

Manusia-manusia bodoh ke depankan nafsu tinggalkan akhlak
Lupa azab akhirat menunggu saat sakratul maut tiba

Bumi Ale-Ale, 9 Juli 2025


PREDATOR

Predator anak berkeliaran berseragam kebajikan
Kharisma melangit dijadikan panutan akar-akar papa
Dari sinilah awal mula pagelaran kebusukan
Wangi kesturi menyengat tersembunyi nafsu durjana

Topeng santun alihkan wawasan terbatas sejuk seperti embun
Iblis bersarang di sana intai momen rayu menjalar
Perangkap duniawi beraksi sekali libas gugur putik beruntun
Sesal diri tiada terpancar senyum kepuasan pun menggelegar

Ini bukan ujian hidup azab tengah menggerogot iman
Jaga citra nalar bermain jangan sekadar ciderai ketentuan

Bumi Ale-Ale, 2 Juli 2025


SONGONG

Rakyat jelata kerap kali dipermainkan
Dijadikan tumbal dari berbagai aspek
Ucap begitu songong mesti dipatahkan
Agar tuan-tuan terhormat menaruh respek

Ekonomi semakin keteteran harga jauh melambung
Daya beli anjlok syukur-syukur bisa bertahan
Lapangan pekerjaan omong-omong belaka pengangguran membumbung
Usaha kecil ditakut-takuti opini busuk menjijikkan

Ujar mesti dijaga jangan semaunya dilempar
Jaga adab jangan seperti cacing menggelepar!

Bumi Ale-Ale, 24 Juni 2025


COSPLAY

Bangkotan bergaya hilang rasa malu
Pernak-pernik terpajang di tubuh tak sepatutnya
Percaya diri bak penguasa sungguh lucu
Melangkah gagah pada sebuah hajatan warga

Badge meriah parah tersemat di dada
Bintang emas bertengger angkuh di pundak
Minim kemampuan celotehnya omong kosong belaka
Jadi guyonan netizen wajah cengengesan seperti badak

Lanskap negeri kian memprihatinkan
Gila pangkat gadang-gadang jabatan

Bumi Ale-Ale, 3 Juni 2025


BIODATA

WYAZ (Wahyudi Abdurrahman ZZaenal IBN SINENTANG) lahir di Pontianak, 24 April. Puisinya telah dimuat di berbagai media lokal, nasional, dan negara tetangga. Karya-karyanya termaktub dalam sejumlah antologi bersama seperti Ije Jela (2016), Rindu Rendra (2019), dan Dandani Luka-Luka Tanah Air (2020). Buku puisi tunggalnya antara lain Bersama Hujan, Hijrah, Tiga Ibu, dan Sang Penyajak (2021). Ia juga menerbitkan kumpulan cerpen Puing (2014). Kini menetap di Ketapang, Kalimantan Barat.
FB: Wahyu Yudi | WA: 0895-3299-62598

Check Also
Close
Back to top button