Puisi

PUISI FRENDY MUSFIDAYANSYAH

SKETSA RASA DI SERAGAM ABU-ABU

Sketsa dan imaji membalut hati,
menyatu dalam garis-garis tipis.
Terlukis, melukai, menjadi lukisan diam,
menganga akibat tatapan pertama.

Terengah-engah dalam seragam putih abu-abu,
aku, seorang siswa SMA 2 Jakarta,
menghidupi rasa
dari coretan yang kau toreh sendiri.

Kesederhanaan rupamu
bukan pada wajah,
melainkan pada makhluk-makhluk aneh di bukumu:
manusia setengah kucing, matanya redup,
gadis berekor rubah, tersenyum malu,
centaurus kecil membawa kuas, bukan panah.

Imut yang kau pancarkan
bukan dari pipi,
melainkan dari caramu menambahkan sayap capung
pada punggung makhluk mitologi buatanmu.

Dan tawa kecilmu—lucu, renyah—
saat teman sebangku menyebutmu
“pelukis dongeng”.

2026, tahun ajaran yang kukenang,
usia yang masih muda
bagi tumbuhnya sebuah rasa.

Lambang sekolah di dada kiri,
dasarnya kebetulan.
Tata tertib yang kupatuhi
merajut sesuatu yang tak kusangka.

Pergantian tempat duduk semester baru:
aku digeser ke sekitarmu
dengan dalih, “pemerataan pandangan ke papan tulis”.

Tak ada yang tahu,
di balik buku gambar itu
kau simpan separuh dunia khayal,
dan separuhnya lagi—entah untuk siapa.

Di waktu-waktu berikutnya,
kudapati diriku mencuri pandang.
Tak ada salah, apalagi benar;
hanya pertemuan yang membawa kita
ke SMA yang sama,
ke kelas yang sama,
ke bawah atap yang menaungi
ribuan kemungkinan.

Hari ini, tanpa sengaja,
kau pinjamkan pensil 2B padaku.
Lalu kutulis di sudut sketsa buatanmu:

“Aku ingin menjadi makhluk setengah hewan berikutnya
yang kau gambar dengan hati-hati,
lalu kau beri nama.”

Kau menoleh.

Dan untuk pertama kalinya,
mata kita bertemu—
seperti dua garis miring
yang akhirnya sejajar
dalam satu bingkai.

2026

***

ULASAN SINGKAT

oleh : IRZI

Frendy, ada puisi yang datang dengan gebrakan besar, ada pula yang datang pelan-pelan sambil membawa buku gambar, seragam putih abu-abu, dan sebatang pensil 2B—dan puisimu memilih yang kedua. Justru di situlah pesonanya. Saat membaca Sketsa Rasa di Seragam Abu-Abu, saya seperti diajak membuka kembali laci kenangan sekolah yang sudah lama tidak disentuh: bangku yang berpindah, tatapan yang diam-diam dicuri, teman sebangku yang nyeletuk “pelukis dongeng”, sampai makhluk setengah kucing dan gadis berekor rubah yang hidup di buku gambar. Yang paling saya sukai, Frendy, adalah caramu membiarkan rasa suka tumbuh melalui benda-benda kecil. Kamu tidak buru-buru mengubahnya menjadi deklarasi cinta; cukup dengan duduk berdekatan, meminjam pensil, melihat seseorang menggambar, tiba-tiba semuanya terasa penting. Di situlah puisimu terasa tulus. Dan ketika dua mata akhirnya bertemu, metafora “dua garis miring / yang akhirnya sejajar / dalam satu bingkai” menjadi penutup yang manis karena sejak awal puisimu memang sudah membangun dunia garis, sketsa, gambar, dan bingkai.

Kalau boleh memberi satu bekal untuk perjalanan menulismu, Frendy, percayalah lebih banyak pada benda-benda yang kamu lihat daripada kata-kata besar yang kamu tahu. Puisimu paling hidup ketika menyebut “pensil 2B”, “buku gambar”, “seragam putih abu-abu”, “sayap capung”, atau “centaurus kecil membawa kuas, bukan panah”. Sebaliknya, ketika masuk ke wilayah “asa”, “takdir”, “rasa”, dan “ribuan kemungkinan”, puisinya sedikit berjalan di jalur yang sudah terlalu sering dilewati puisi cinta. Bukan berarti kata-kata itu harus dibuang mentah-mentah, tetapi kamu sebenarnya sudah memiliki dunia yang jauh lebih khas. Kalau ingin puisinya semakin kuat, biarkan pensil 2B mengatakan cinta tanpa harus disuruh mengatakan cinta. Biarkan perpindahan tempat duduk terasa seperti takdir tanpa perlu berkali-kali menyebut kata “takdir”. Bahkan kalimat “pemerataan pandangan ke papan tulis” yang terdengar administratif dan agak receh itu justru menarik karena di sanalah kehidupan sekolah terasa nyata. Pertahankan detail-detail semacam itu. Jangan terlalu cepat membuat semuanya menjadi indah; kadang yang membuat puisi indah justru sesuatu yang sedikit kikuk, biasa, bahkan lucu.

Dan satu hal lagi, Frendy: jangan malu kalau puisimu masih membawa aroma masa sekolah. Tidak semua puisi harus terdengar seperti ditulis seseorang yang sudah kehilangan lima cinta dan tiga kota. Usia puisi ini justru salah satu kekuatannya. Yang perlu dimatangkan bukan kepolosannya, melainkan ketajaman pengamatannya. Coba pangkas bagian yang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah berhasil diperlihatkan oleh gambar dan adegan; beri ruang bagi jeda; dan terus gali benda-benda kecil yang hanya mungkin muncul dari pengalamanmu sendiri. Suatu hari, ketika kamu kembali membaca puisi ini, tanyakan kepada dirimu: apa sebenarnya yang kulihat waktu itu, yang belum sempat kutuliskan? Mungkin bukan “cinta”. Mungkin suara kursi digeser. Ujung pensil yang mulai tumpul. Coretan makhluk setengah hewan di pojok kertas. Atau cara seseorang menoleh. Di situlah, Frendy, puisi biasanya bersembunyi—bukan di kata “cinta”, melainkan beberapa sentimeter di sebelahnya.

BIONARASI :

FRENDY MUSFIDAYANSYAH, yang akrab dipanggil FREN, adalah siswa SMAN 2 Jakarta. Di waktu senggang, ia paling senang dengerin musik, mabar game online, dan tenggelam dalam buku-buku yang bikin penasaran. Di antara semua hobinya, dunia seni selalu punya tempat spesial, terutama fotografi. Buatnya, setiap jepretan bukan sekadar gambar, melainkan cara menyimpan cerita dari sudut pandang yang sering luput dilihat orang.

Back to top button