Bambang

Di pinggir jalan yang legam oleh jelutang amarah, Bambang tekun merawat berbingkai cermin yang mengeja nafkah.
Ia bukan lidah yang memantik api, bukan pula jemari yang melayangkan batu ke udara malam.
Langkah kelesuannya baru saja usai memapah harapan, mengantar jiwa tetangganya yang layu menembus lorong rumah sakit.
Namun nasib mendadak retak saat badai pascademo merobek sisa kemanusiaan di persimpangan jalan.
Bambu-bambu jahat yang haus mangsa merobek dada sunyinya, melipat nafasnya di atas trotoar yang mendingin.
Kaca-kaca cermin seakan hancur berkeping-keping, memantulkan pecahan air mata yang tak sempat ia hapus.
Setiap serpihan kaca itu kini menyimpan cermin duka, membayangkan raut wajah anak dan istrinya yang menanti tanpa kepastian.
Seorang ayah yang hanya merawat hidup, tumbuh dipangkas oleh racun keberingasan yang salah alamat.
Darahnya meresap ke dalam riuh kemarahan publik, merintih dalam bisu yang tak pernah dipedulikan para perusuh.
Di bawah langit yang berduka, cermin-cermin yang pecah itu mengabadikan tewasnya kesucian jiwa yang hanya ingin menghidupi keluarga.
Wahai perusuh, genggamlah dosa itu dan bertanggungjawablah, atau biarkan jiwa busukmu merana selamanya di dasar kerak neraka.(*)

