Sutrimo

Sutrimo, pria separuh baya itu,
Kini tinggal nama yang riuh di layar-layar kaca,
Melayang bersama ketikan jempol jutaan orang,
Namun jawabannya tetap membatu, terkunci di balik pintu.
Di mana kejujuran disimpan, Sutrimo?
Di mulutmu yang berbusa malam itu,
Di tanah yang tak jauh dari gerbang rumah tinggi itu—
Rumah Tuan Jampidsus, tempat dulu kau menakar sunyi,
Menjaga malam dari pencuri kecil,
Tanpa tahu pencuri besar sedang membagi-bagi negeri.
Sebuah kasus mega korupsi berkobar di ibu kota,
Kertas-kertas dokumen berkerosok di balik ruang pendingin,
Dan kau, penjaga tua yang lugu,
Mungkin tanpa sengaja menatap kilat rahasia di balik tirai,
Atau mendengar bisik-bisik yang tak boleh didengar telinga biasa.
Lalu kau jatuh.
Busa di bibirmu bukanlah buih ombak pantai,
Itu adalah bisa, dari teka-teki yang sengaja disumbat.
Keluarga menangis meraba dada yang tak lagi berdetak,
Meratapi takdir yang ditutup buru-buru,
“Tidak wajar!” jerit mereka menembus tembok-tembok kekuasaan.
Malang sungguh nasibmu, Sutrimo.
Namamu menjadi tagar, menjadi tajuk berita utama,
Lalu perlahan tertimbun oleh tajuk berita yang baru.
Sementara teka-teki itu tetap tergantung di dahan waktu:
Siapa yang menyuapkan racun ke dalam sunyimu,
Dan berapa harga sebuah nyawa penjaga rumah,
Di hadapan tumpukan uang yang digelapkan?
Sutrimo—jiwa yang pasrah, yang sangat menerima takdirnya,
Lelaki bersahaja yang tak pernah menawar kerasnya dunia,
Namun di negeri ini, kepasrahan yang tulus selalu saja dituba:
Ia yang sangat menerima sepi dan gumpal keringat,
Kini dipaksa sangat menerima maut yang datang menyengat.
Sutrimo, kau telah pergi,
Tapi busa di mulutmu adalah cermin bagi kami,
Tentang betapa murahnya nyawa orang kecil,
Di tengah pusaran rahasia para petinggi.(*)
BACA JUGA: Teka-teki Sutrimo





