Anak-anak Gaza Ikut Latihan Sepak Bola Bersama Pep Guardiola, Sejenak Melupakan Kebisingan Perang

JERNIH – Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, bunyi deru sirine dan dentuman ledakan tak lagi terdengar di telinga 28 anak asal Palestina ini. Digantikan oleh gelak tawa, suara peluit latihan, dan kecipak air kolam renang di kawasan pegunungan pedalaman Pyrenees, Catalonia, Spanyol.
Puluhan anak dari Jalur Gaza yang terdampak langsung oleh kecamuk perang tersebut menghabiskan musim panas mereka di ajang Pep Summer Camp, sebuah kamp sepak bola usia dini yang dikelola langsung oleh yayasan milik manajer Manchester City, Pep Guardiola.
Di Desa Rialp, kawasan timur laut Spanyol, mereka bergabung dengan lebih dari 700 anak lainnya. Misi penyelenggara sederhana namun mendalam: mengembalikan secuil masa kecil yang terenggut dari hidup mereka, walau sekadar untuk beberapa minggu.
Alih-alih dipisahkan dalam kelompok khusus, 28 anak Palestina ini dibaurkan langsung ke dalam skuad latihan yang sudah ada. Berpasangan dengan anak-anak dari berbagai belakangan negara, juru bahasa disiagakan di lapangan untuk memastikan mereka bisa melahap seluruh menu latihan harian tanpa kendala bahasa.
Koordinator kamp, Toni Aguilar, menyebut integrasi ini sebagai inti dari olahraga itu sendiri. Di sini, mereka adalah anak-anak biasa—sama seperti yang lainnya. Mereka sejenak melupakan trauma dan kepedihan sehari-hari, lalu menikmati permainan sepak bola bersama kawan-kawan baru. Sepak bola itu universal. Di belakang bola, kita semua sama,” ujar Aguilar kepada surat kabar Spanyol, Segre.
Gagasan menghadirkan anak-anak Gaza di edisi keenam Pep Summer Camp ini bermula dari ide seorang pemuda Palestina yang bermukim di Barcelona. Awal tahun ini, ia mendatangi pihak yayasan milik Guardiola (Guardiola Sala Foundation) dan mengusulkan untuk membawa sekitar 30 anak dari wilayah konflik tersebut ke Spanyol.
Bagi anak-anak Gaza, perjalanan ke Spanyol bukan sekadar tentang mengasah teknik menendang bola. Ada harapan besar di dada mereka: bertemu langsung dengan Pep Guardiola.
Di mata publik Palestina, mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu bukan hanya juru taktik kawakan, melainkan salah satu figur penting dunia sepak bola yang vokal dan konsisten mengecam peperangan serta penderitaan kemanusiaan di Gaza.
“Di panggung sepak bola dan media dunia, Pep adalah satu dari sedikit tokoh besar yang berani mengambil sikap tegas dan jelas mengenai situasi di Palestina. Bagi anak-anak ini, dukungan itu sangat berarti,” ungkap Aguilar.
Impian itu pun terwujud. Di sela-sela kesibukannya, Guardiola menyempatkan diri datang langsung ke kamp di Rialp. Ia menghabiskan waktu bersama anak-anak Gaza, mengobrol, dan memberi mereka dorongan semangat.
Sikap Guardiola memang tak pernah bergeser. Dalam sebuah acara amal di Barcelona pada Januari lalu, pelatih berusia 53 tahun itu sempat menyentil nurani dunia yang terkesan abai. Ia menyebut anak-anak Palestina seolah “dibiarkan sendirian dan ditelantarkan”, seraya mengetuk hati publik global untuk tidak memalingkan wajah dari penderitaan mereka.
Pep Summer Camp tidak hanya menggembleng fisik dan taktik di atas rumput hijau. Program tahunan ini juga menyisipkan lokakarya dan sesi diskusi interaktif untuk mengedukasi para peserta mengenai isu-isu sosial, keselamatan digital, hingga nilai-nilai sportivitas.
Direktur Guardiola Sala Foundation, Laura Guerra, menjelaskan bahwa kehadiran anak-anak Palestina memberi warna dan pelajaran berharga bagi seluruh peserta kamp lainnya.
“Kami ingin memastikan anak-anak di sini melihat realitas dunia yang lebih luas. Sangat penting bagi mereka untuk menyadari dan memahami bahwa ada kawan-kawan sebayanya yang hidup dalam situasi yang jauh berbeda dan penuh perjuangan,” tegas Guerra.
Pihak penyelenggara menyebut kehadiran 28 anak Gaza ini sebagai salah satu momen paling bersejarah dan menyentuh sepanjang berdirinya kamp. Yayasan milik Guardiola pun berkomitmen untuk terus melanjutkan inisiatif kemanusiaan ini pada edisi-edisi mendatang.
Bagi anak-anak Gaza, lapangan hijau di Pyrenees mungkin hanya persinggahan singkat. Namun, pelukan dari Pep dan persahabatan di atas lapangan adalah bukti bahwa di sudut dunia yang lain, mereka tidak pernah benar-benar berjuang sendirian.






