SolilokuiVeritas

Anak Api dan Air

Kita adalah anak-anak negeri kepulauan, tempat air jadi ibu dan tanah jadi bapak. Saat lidah ombak menciumi bibir pantai, cinta pun bersemi, tumbuhkan alam asri nan hijau. Manakala kehidupan dijalani secara terbalik, dengan mengingkari dan merusak karunia nikmat. Pemimpin dan warganya durhaka pada Tuhan dan ibu pertiwi; warga saling menginjak, memeras, dan mengusir sesama; prahara pun menimpa kita.

Oleh     :  Yudi Latif

JERNIH– Saudaraku, kita adalah anak-anak pelangi dari negeri katulistiwa, dengan kehangatan kasih mentari yang menerangi siapapun tanpa kecuali.

Kita adalah anak-anak perkasa dari  rahim cincin api bencana, dengan lautan sebagai luapan airmata, tempat semua berenang dengan lara dan bahagia mengarunginya.

Kita adalah anak-anak negeri kepulauan, tempat air jadi ibu dan tanah jadi bapak. Saat lidah ombak menciumi bibir pantai, cinta pun bersemi, tumbuhkan alam asri nan hijau.

Kita, adalah anak-anak negeri antarbenua antarsamudera, tempat penyerbukan silang budaya. Saat keragaman bunga berpadu dalam kesatuan tamansari, alam indah terkembang dalam harmoni bhinneka tunggal ika.

Di negeri molek ini,  gugusan pegunungan tinggi terbentang julangkan spirit ketuhanan. Lautan luas terkembang lapangkan rasa kemanusiaan. Keanekaragaman hayati kuatkan semangat persatuan. Biru langit-samudera luas lapangkan hikmat kebijaksanaan. Kekayaan dan kesuburan alam tumbuhkan keadilan kemakmuran.

Manakala kehidupan dijalani secara terbalik, dengan mengingkari dan merusak karunia nikmat. Pemimpin dan warganya durhaka pada Tuhan dan ibu pertiwi; warga saling menginjak, memeras, dan mengusir sesama; prahara pun menimpa kita.

Marilah kita jaga segala mahluk di negeri ini dengan silih asih, asah dan asuh. Awan putih yang berarak di langit tinggi adalah ufuk impian kita. Saat angin bertiup menghempas awan jadi butir hujan, impian itu pun jatuh ke bumi, halau kemarau jadi hujan kebahagiaan.

Wahai anak-anak api dan air, kembalilah pada hakikat diri: jatidiri yang ditempa api semangat, dilembutkan pelukan samudera, dihimpun tanah-ibu dan ditinggikan langit-bapak. Bila karunia ini kita junjung dengan kasih dan saling menjaga, yang retak dapat utuh kembali, yang layu merekah kembali. Maka Indonesia akan setinggi gunung yang kita imani, sejernih laut yang kita jiwai, sehangat mentari yang kita teladani—tanah air yang memancarkan cahaya dari perpaduan keberanian dan kasih sayang kita bersama. []

Back to top button