SolilokuiVeritas

Belajar Kepemimpin dari Atlet Elite

Kajian tersebut menegaskan bahwa tanpa pengelolaan energi yang baik, pemimpin akan kehilangan kapasitas mental untuk mengambil keputusan penting. Kita jarang membicarakan ini secara jujur. Padahal, banyak konflik organisasi bukan karena strategi yang salah, tetapi karena pemimpinnya sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.

Oleh     :  Priatna Agus Setiawan

JERNIH–Ada ironi dalam banyak organisasi di Indonesia hari ini: pemimpinnya terlihat sangat sibuk, tetapi organisasinya tidak bergerak signifikan.

Rapat tak henti, agenda penuh, kunjungan kerja padat, pernyataan publik terus mengalir. Namun ketika ditanya sederhana—apa keputusan strategis yang benar-benar mengubah arah organisasi? Jawabannya sering tidak jelas.

Kita sedang menghadapi satu masalah mendasar: pemimpin yang lelah, tetapi tidak efektif. Padahal, jika kita mau belajar dari dunia yang tampaknya jauh—olahraga elite—justru di sanalah kita menemukan paradoks penting: performa tinggi tidak lahir dari kerja tanpa henti, tetapi dari pengelolaan diri yang disiplin dan terukur.

Kajian McKinsey (2026) menunjukkan bahwa pemimpin modern memiliki pola kerja yang mirip dengan atlet kelas dunia: mereka mengatur waktu dengan presisi, menjaga energi, terus belajar, berbasis data, dan memiliki ketahanan mental tinggi. Sayangnya, banyak praktik kepemimpinan kita masih berjalan di jalur sebaliknya.

Budaya Sibuk yang Menyesatkan

Di banyak kantor pemerintahan, BUMN, hingga perusahaan swasta, masih ada keyakinan lama: semakin sibuk seorang pemimpin, semakin hebat ia dianggap.

Akibatnya: rapat menjadi rutinitas, bukan alat keputusan, agenda penuh menjadi simbol kerja, bukan hasil, kelelahan dianggap dedikasi. Padahal, dalam logika atlet elite, ini justru tanda bahaya.

Atlet tidak berlatih sepanjang hari tanpa arah. Mereka tahu kapan harus intens, kapan harus berhenti. Mereka mengukur setiap aktivitas berdasarkan dampaknya terhadap performa.

Bandingkan dengan banyak pemimpin kita: hadir di semua rapat, tetapi tidak fokus pada isu strategis, tenggelam dalam operasional, tetapi kehilangan arah besar, sibuk merespons, tetapi jarang mengantisipasi. Kita tidak kekurangan aktivitas. Kita kekurangan prioritas.

Istirahat yang Dianggap Kemewahan

Dalam dunia olahraga, pemulihan adalah bagian dari strategi. Tanpa recovery, performa akan jatuh. Namun di Indonesia, istirahat bagi pemimpin sering dianggap kemewahan—bahkan kelemahan.

Ada semacam kebanggaan terselubung dalam kalimat: “Saya hampir tidak pernah libur.” Padahal, di balik itu sering tersembunyi: kelelahan kronis, keputusan yang terburu-buru, emosi yang tidak stabil.

Kajian tersebut menegaskan bahwa tanpa pengelolaan energi yang baik, pemimpin akan kehilangan kapasitas mental untuk mengambil keputusan penting. Kita jarang membicarakan ini secara jujur. Padahal, banyak konflik organisasi bukan karena strategi yang salah, tetapi karena pemimpinnya sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih.

Pemimpin yang Berhenti Belajar

Ada masalah lain yang lebih halus, tetapi dampaknya jauh lebih besar: pemimpin yang berhenti belajar. Di era perubahan cepat, sebagian pemimpin masih merasa cukup dengan: pengalaman masa lalu, jabatan yang dimiliki, lingkaran diskusi yang itu-itu saja. Padahal, atlet elite justru terus mengubah dirinya—bahkan ketika sudah berada di puncak.

Dalam kajian tersebut disebutkan: pemimpin terbaik bukan “know-it-all”, tetapi “learn-it-all”.  Di sinilah kita melihat jurang yang nyata. Sementara dunia bergerak ke arah: kecerdasan buatan, analitik data, model bisnis baru. Sebagian pemimpin kita masih sibuk dengan pola lama: birokrasi berlapis, keputusan lambat, resistensi terhadap ide baru. Akibatnya bukan sekadar tertinggal—tetapi perlahan kehilangan relevansi.

Keputusan Tanpa Data, Strategi Tanpa Arah

Kita sering mendengar jargon “berbasis data”. Namun dalam praktik, banyak keputusan masih ditentukan oleh: intuisi, senioritas, atau bahkan tekanan sesaat. Data tersedia, tetapi tidak benar-benar digunakan.

Ini berbeda jauh dengan dunia atlet, di mana setiap gerakan diukur, dianalisis, dan diperbaiki. Di Indonesia, konsekuensinya nyata: program tidak tepat sasaran, anggaran besar, dampak kecil, strategi berubah mengikuti pergantian pimpinan. Transformasi digital yang digaungkan di berbagai sektor berisiko menjadi sekadar kosmetik—tanpa perubahan cara berpikir pemimpinnya.

Krisis yang Membuka Wajah Asli Pemimpin

Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan tidak diuji saat kondisi normal, tetapi saat krisis. Dan di titik ini, kita melihat perbedaan yang sangat jelas: ada pemimpin yang hadir, tenang, dan mengambil tanggung jawab, ada yang defensif, menyalahkan, atau bahkan menghilang. Padahal, dalam dunia olahraga, jatuh bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah tidak bangkit.

Pemimpin sejati: mengakui kesalahan, belajar dari kegagalan, tetap berdiri di depan saat situasi sulit. Ini bukan soal kemampuan teknis semata, tetapi soal ketahanan mental dan integritas.

 

Kita Tidak Kekurangan Pemimpin, Kita Kekurangan Latihan

Mungkin masalah terbesar kita bukan kurangnya pemimpin, tetapi kurangnya pemimpin yang benar-benar melatih dirinya. Kita terlalu fokus pada: jabatan, struktur, dan sistem. Tetapi lupa pada hal yang paling mendasar: kapasitas personal pemimpin itu sendiri.

Atlet elite tidak menjadi hebat karena bakat semata, tetapi karena latihan yang konsisten, disiplin, dan terarah. Pertanyaannya sederhana: apakah pemimpin kita juga berlatih dengan cara yang sama?

Jika tidak, maka jangan heran jika kita terus melihat pola yang sama berulang: strategi bagus di atas kertas, eksekusi lemah di lapangan. Dan pada akhirnya, kita akan terus tertinggal—bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak cukup disiplin untuk berubah.

 

Saatnya Mengubah Cara Kita Memimpin

Kita tidak butuh pemimpin yang terlihat paling sibuk.
Kita butuh pemimpin yang paling siap. Siap secara: mental, energi, pengetahuan, dan ketahanan menghadapi tekanan.

Seperti atlet elite, pemimpin masa depan adalah mereka yang: tahu kapan harus berlari, kapan harus berhenti, dan kapan harus bangkit. Tanpa itu, kepemimpinan hanya akan menjadi rutinitas. Dengan itu, kepemimpinan bisa menjadi kekuatan perubahan. Dan Indonesia, lebih dari sebelumnya, membutuhkan yang kedua. []

Back to top button