
Sebenarnya, Menteri Keuangan saat itu, Jesus Silva Herzog, yang dilantik pada bulan April 1982, sudah mengidentifikasi persoalan utang negaranya beberapa bulan sebelum default. Utang yang terus menggunung yang dia temukan setelah dilantik sudah tidak bisa lagi dihentikan bahkan oleh presidennya sendiri. Namun, buku “The Commanding Height” karya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw menyebutkan bahwa Presiden Lopez hanya mendapatkan informasi dari para penasihatnya, dan cenderung selalu positif, terhadap kebijakannya. Orang-orang yang mencoba untuk memberi nasihat secara jujur justru diabaikan.
Oleh : Arcandra Tahar*
JERNIH–Sumber daya alam sejatinya bisa menjadi modal untuk membangun sebuah negara. Namun sayang banyak negara yang kaya sumber daya alam (SDA) gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Inilah paradoks yang menjadi keprihatinan negara yang kaya akan SDA.
Meksiko adalah salah contoh klasik dari kegagalan dalam mengelola SDA berupa minyak bumi di era tahun 1970-an dan 1980-an. Bayangkan, produksi minyak Meksiko yang hanya sekitar 500 ribu barrel per day di tahun 1970 melonjak menjadi 2,5 juta barrel per day di tahun 1980. Ini terjadi karena ditemukannya salah satu lapangan minyak terbesar di dunia di Campeche Bay.
Dapat dibayangkan, dengan produksi minyak yang lima kali lipat dalam waktu sepuluh tahun dan harga minyak yang cukup tinggi pada saat itu, menjadikan Meksiko punya uang yang banyak dan menyumbang sekitar 50 persen dari pendapatan Meksiko. Hal ini membuat Meksiko menjadi lima besar negara produsen minyak terbesar dunia.
Status sebagai negara produsen minyak kelima dunia membuat President Jose Lopez punya harapan untuk menyejajarkan Meksiko dengan negara maju. Beliau menginginkan Meksiko diberikan peran yang lebih tinggi dan penting di dunia Internasional.
Untuk mewujudkan mimpinya, Presiden Lopez mulai mencari pinjaman dari bank-bank internasional untuk membangun proyek-proyek mercusuar dan program subsidi. Beberapa proyek infrastruktur dan fasilitas publik yang dibangun diantaranya membangun subway lines di Mexico City, membangun banyak highways, membangun pelabuhan (dan tol) laut, shipyards, bendungan serta pembangkit listrik.
Program-program subisidi yang dijalankan pada saat oil booming ini juga banyak mengandalkan pinjaman dari luar negeri. Beberapa program tersebut, di antaranya subsidi listrik, subsidi bahan bakar minyak (BBM), subsidi pupuk, subsidi bahan makanan dan tidak ketinggalan untuk menaikan gaji pegawai negeri dan upah buruh.
Di sisi lain, bank-bank internasional juga berlomba-lomba menawarkan pinjaman dengan bunga yang rendah. Dengan harapan, Meksiko mampu untuk mengembalikan pinjaman tersebut dari hasil penjualan minyak dan pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 8-9 persen. Bahkan pada awal tahun 1980-an Meksiko dengan bangga dinobatkan sebagai negara peminjam terbesar.
Yang menjadi pertanyaan, kenapa bank-bank internasional dengan mudah tergiur untuk memberikan pinjaman ke Meksiko? Apakah ada motivasi lain selain produksi minyak yang besar di Meksiko. Ternyata kalau kita telusuri lebih dalam, pada akhir tahun 1970-an negara-negara maju mengalami perlambatan dari pertumbuhan industrinya.
Dana-dana yang tersedia di bank-bank mereka yang berasal dari deposit penjualan minyak dari negara produsen tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal. Akibatnya mereka mencari jalan untuk menyalurkannya ke negara yang membutuhkannya seperti Meksiko. Jadi awalnya ini semacam simbiosis dari negara maju dan negara berkembang.
Namun saying, simbiosis ini tidak bisa bertahan lama. Pada tahun 1981-82 harga minyak jatuh. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara maju yang sudah terasa sejak akhir 1970-an mengakibatkan kebutuhan minyak menjadi berkurang. Dengan berkurangnya demand, suplai menjadi melimpah sehingga harga minyak jadi jatuh. OPEC sudah bertindak untuk mengurangi produksi, tapi tetap tidak mampu untuk mendongkrak harga.
Inilah awal petaka krisis utang di Meksiko. Pada bulan Agustus 1982 Meksiko mengumumkan tidak mampu lagi membayar cicilan utang yang jatuh tempo dan meminta penundaan pembayaran. Saat itu jumlah utang Meksiko sekitar Rp 1.300 triliun. Presiden New York Federal Reserve Bank menyebut penundaan ini dengan kata standstill bukan default agar tidak terjadi kepanikan di industri perbankan dunia.
Default-nya Meksiko ini mengakibatkan banyak kemunduran di dalam negerinya. The International Monetary Fund (IMF) akhirnya datang untuk membantu dengan program-program pengencangan ikat pinggang (austerity) seperti devaluasi mata uang, menghapus hambatan perdagangan internasional, memotong belanja pemerintah, menghapus subsidi dan menjual badan usaha milik negara. Inilah program-program yang sangat familiar di telinga kita.
Sebenarnya Meksiko boleh dibilang punya sedikit keberuntungan karena Menteri Keuangan yang menjabat saat itu, Jesus Silva Herzog yang dilantik pada bulan April 1982, sudah mengidentifikasi persoalan utang negaranya beberapa bulan sebelum default. Utang yang terus menggunung yang dia temukan setelah dilantik sudah tidak bisa lagi dihentikan bahkan oleh presidennya sendiri.
Kenapa ini bisa terjadi? Buku “The Commanding Height” karya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw menyebutkan bahwa Presiden Lopez hanya mendapatkan informasi dari para penasihatnya, dan cenderung selalu positif, terhadap kebijakannya. Orang-orang yang mencoba untuk memberi nasihat secara jujur justru diabaikan.
Lebih jauh lagi, Presiden Lopez dengan program-program popularnya tidak banyak yang ditujukan untuk investasi yang memberikan nilai tambah dan pengembalian modal. Inflasi yang tinggi, korupsi, impor barang mewah dan ketidakefisienan badan usaha milik negara membuat keadaan menjadi tambah buruk.
Peran Sentral Teknokrat
Di saat kesuraman inilah Menteri Keuangan Silva Herzog datang untuk menyampaikan hal yang jujur walaupun pahit. Dia seorang teknokrat ekonomi lulusan Yale University, Amerika Serikat, yang punya sejarah keluarga yang baik di Meksiko.
Lewat lobi-lobinya ke bank-bank internasional dan otoritas jasa keuangan di Amerika Serikat, Mexico selamat dari kebangkrutan walaupun selama satu dekade Meksiko mengalami kemunduran. Pertumbuhan ekonomi kurang dari 1 persen dan pada tahun 1987 inflasi bahkan mencapai 150 persen. Standar gaji juga berkurang sampai 40 persen. Sebuah keadaan yang tidak nyaman dan memprihatinkan dari negara yang cukup kaya akan minyak.
Inilah harga yang harus dibayar oleh Meksiko akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak hati-hati dan bertanggung jawab. Kami menghindari istilah the natural resource curse (the paradox of plenty) atau kutukan sumber daya alam dalam membahas kasus Meksiko. Yang ada adalah banyak manusia yang tidak pandai bersyukur dan tidak cakap dalam mengelolanya. Semoga sahabat energi bisa belajar dari tulisan ini. [ ]
*Mantan Menteri ESDM





