
Amerika masih unggul dalam kekuatan militer, jaringan aliansi, inovasi frontier, dan dominasi finansial global. Namun Tiongkok telah menjadi pesaing utama dalam skala industri, manufaktur, teknologi terpilih, perdagangan, dan pembiayaan infrastruktur. Eropa tetap besar secara ekonomi, tetapi secara strategis sering terbelah. Sementara itu, kekuatan menengah seperti India, Turki, Arab Saudi, Brasil, dan ASEAN memperoleh ruang tawar yang lebih besar karena dunia kini membutuhkan negara penyeimbang, pemasok alternatif, dan mitra non-blok.
Oleh : Lutfi Alkatiri*

JERNIH– Pada awal 1990-an, setelah Uni Soviet runtuh, dunia sempat merasa sedang memasuki suatu zaman yang tenang. Francis Fukuyama menyebutnya sebagai “The End of History”: bukan berarti peristiwa berhenti terjadi, melainkan bahwa pertarungan besar antar-ideologi tampak selesai, dan demokrasi liberal bersama kapitalisme pasar seolah tampil sebagai bentuk akhir evolusi politik modern.
Di saat itu, dunia percaya bahwa perdagangan akan memperdalam perdamaian, integrasi akan menundukkan konflik, dan globalisasi akan membuat negara-negara makin rasional dalam mengejar kemakmuran. Namun optimisme itu kini tampak jauh lebih rapuh. Laporan IMF pada Januari 2026 masih melihat ekonomi global tumbuh 3,3 persen pada 2026, tetapi pertumbuhan itu berdiri di tengah kekuatan yang semakin divergen, bukan dalam harmoni yang utuh.
Di saat yang sama, UNCTAD dan CEPR justru menegaskan bahwa tatanan ekonomi internasional kini berada dalam fase geoeconomic fragmentation: ketegangan geopolitik mulai membelah arus perdagangan, investasi, dan sistem keuangan global.
Di titik inilah tesis Samuel Huntington terasa kembali hidup. Huntington berpendapat bahwa setelah Perang Dingin, sumber konflik utama bukan lagi ideologi, melainkan identitas peradaban: agama, sejarah, kebudayaan, dan memori kolektif. Apa yang hari ini tampak di banyak kawasan memang memperlihatkan bahwa konflik global tidak semata soal tarif, pangkalan militer, atau perebutan pasar, tetapi juga soal narasi identitas, luka sejarah, dan klaim moral yang saling menegasikan.
Namun dunia kini bahkan lebih kompleks daripada yang dibayangkan Huntington. Konflik kontemporer tidak murni benturan peradaban melainkan campuran antara perebutan pengaruh negara besar, kompetisi teknologi, rivalitas energi, dan politik identitas yang dijadikan alat mobilisasi. OECD mencatat bahwa fragilitas global pada 2025 meningkat paling tajam pada dimensi politik, keamanan, dan ekonomi, sementara jumlah konflik bersenjata berada pada tingkat tertinggi sejak akhir Perang Dingin. SIPRI juga melaporkan belanja militer dunia mencapai sekitar US$2,7 triliun pada 2024, tertinggi yang pernah tercatat.
Karena itu, bila Fukuyama membaca dunia dari lensa kemenangan liberalisme, dan Huntington dari lensa identitas peradaban, maka John Mearsheimer melalui realisme ofensif membaca dunia dari naluri yang lebih tua bahwa negara besar tidak pernah benar-benar berhenti bersaing untuk kekuasaan. Dalam perspektif Mearsheimer, institusi internasional, perdagangan, bahkan norma, tidak pernah sepenuhnya menghapus logika dasar anarki internasional. Negara-negara besar tetap akan berusaha memaksimalkan keamanan dengan memperbesar pengaruh, mengendalikan wilayah strategis, mengamankan rantai pasok, dan mencegah lahirnya rival yang setara.
Jika Fukuyama terlalu optimistis, maka Mearsheimer tampak lebih dekat dengan suasana zaman kini bahwa dunia bukan bergerak menuju konsensus universal, melainkan kembali ke politik kekuatan. Hanya saja, bentuk politik kekuatan abad ke-21 tidak lagi selalu berupa invasi tank dan armada, tetapi juga kontrol atas semikonduktor, jalur pelayaran, data, sistem pembayaran, mineral kritis, sanksi finansial, dan dominasi platform teknologi. Kekuatan keras dan kekuatan ekonomi kini menyatu.
Dengan demikian, perkembangan geopolitik dan geoekonomi terbaru sesungguhnya dapat dibaca sebagai perjalanan dari tiga babak besar. Babak pertama adalah optimisme liberal: keyakinan bahwa integrasi ekonomi akan mengikis konflik.
Babak kedua adalah politik identitas dan peradaban: ketika globalisasi justru membangkitkan kecemasan budaya, agama, dan nasionalisme. Babak ketiga, yang sedang kita jalani sekarang adalah kembalinya kompetisi kekuatan besar dalam bentuk geoekonomi dan teknologi. Dunia tidak sepenuhnya kembali ke abad ke-19, tetapi juga tidak lagi tinggal di kampung global yang tenang. Ia menjadi ruang persaingan yang saling terhubung: negara tetap berdagang, tetapi sambil membatasi; tetap berinvestasi, tetapi sambil menyaring; tetap bekerja sama, tetapi sambil menyiapkan skenario konflik.
Itulah mengapa UNCTAD menyebut ekonomi global berada on the brink, dan ESRB memperingatkan bahwa guncangan geopolitik kini semakin cepat menular ke perdagangan, investasi, dan stabilitas keuangan.
Lalu apa ujung dari fragmentasi global ini? Ujung pertama adalah turunnya efisiensi global. Dunia yang terfragmentasi akan kehilangan sebagian manfaat terbesar dari globalisasi: spesialisasi, skala ekonomi, difusi teknologi, dan alokasi modal yang efisien. CEPR menilai fragmentasi finansial berisiko membalikkan puluhan tahun integrasi, mengurangi efisiensi alokasi internasional, dan melemahkan kemam-puan koordinasi krisis global. UNCTAD juga menekankan bahwa diversifikasi yang tadinya dibayangkan sebagai sumber ketahanan kini dapat berubah menjadi fragmentasi yang mahal, terutama bagi negara berkembang. Artinya, dunia tidak otomatis berhenti tumbuh, tetapi tumbuh dengan biaya yang lebih tinggi, rantai pasok yang lebih panjang, suku bunga risiko yang lebih mahal, dan kapasitas koordinasi internasional yang lebih lemah.
Ujung kedua adalah lahirnya tatanan multipolar yang tidak simetris. Belum ada superpower baru yang sepenuhnya menggantikan Amerika Serikat, tetapi unipolaritas pasca-1991 jelas sudah retak. Amerika masih unggul dalam kekuatan militer, jaringan aliansi, inovasi frontier, dan dominasi finansial global. Namun Tiongkok telah menjadi pesaing utama dalam skala industri, manufaktur, teknologi terpilih, perdagangan, dan pembiayaan infrastruktur. Eropa tetap besar secara ekonomi, tetapi secara strategis sering terbelah. Sementara itu, kekuatan menengah seperti India, Turki, Arab Saudi, Brasil, dan ASEAN memperoleh ruang tawar yang lebih besar karena dunia kini membutuhkan negara penyeimbang, pemasok alternatif, dan mitra non-blok.
Jadi, pergeseran yang paling mungkin bukan satu pengganti tunggal bagi AS, melainkan dunia multipolar yang lebih cair: satu pusat keuangan utama, satu pesaing industri besar, beberapa kekuatan regional, dan banyak negara menengah yang memainkan hedging strategy.
Apakah ini akan berujung pada Perang Dunia III? Jawaban yang paling hati-hati adalah risikonya naik, tetapi itu belum menjadi skenario dasar. Indikator global memang memburuk: konflik bersenjata meningkat, belanja militer memecahkan rekor, dan lembaga-lembaga internasional mulai menyiapkan respons koordinasi atas guncangan perang yang menular ke energi, pangan, dan keuangan. Reuters melaporkan bahwa IMF, IEA, dan Bank Dunia bahkan membentuk mekanisme koordinasi atas dampak perang Timur Tengah yang meledak sejak 28 Februari 2026. Tetapi eskalasi menuju PD III tetap tertahan oleh beberapa rem besar yaitu senjata nuklir, saling ketergantungan ekonomi yang masih tersisa, biaya perang yang amat mahal, dan kenyataan bahwa banyak negara besar lebih memilih perang proksi, sanksi, blokade teknologi, serta tekanan finansial, ketimbang tabrakan langsung antarkekuatan nuklir.
Karena itu, yang lebih mungkin bukan perang dunia total seperti 1914 atau 1939, melainkan era perang regional yang bertumpuk, konflik proksi berkepanjangan, perlombaan senjata baru, dan blok ekonomi yang makin keras. Dunia bergerak menuju perdamaian yang dingin, bukan kedamaian yang sejati. Dengan kata lain, masa depan global tampaknya bukan the end of story, melainkan kembalinya sejarah dalam bentuk yang lebih berlapis.
Fukuyama tidak sepenuhnya salah: demokrasi liberal masih punya daya tarik normatif. Huntington juga tidak sepenuhnya salah: identitas peradaban dan kebudayaan memang kembali menjadi bahan bakar politik global. Mearsheimer pun tidak sepenuhnya salah: ketika ketegangan meningkat, negara besar kembali bertindak sesuai logika kekuasaan. Namun dunia hari ini bukan salinan murni dari salah satu teori itu. Ia adalah sintesis keras dari ketiganya. Ideologi belum mati, identitas makin tajam, dan realisme kekuatan besar kembali menjadi bahasa utama.
Di tengah sintesis itu, fragmentasi global akan terus membelah dunia bukan menjadi dua blok rapi seperti Perang Dingin lama, tetapi menjadi jaringan blok, miniblok, koalisi temporer, dan arena perebutan standar, teknologi, mata uang, serta legitimasi. Kesimpulan paling Jernih adalah abad ke-21 tidak sedang menuju satu pusat kekuasaan baru yang stabil, melainkan menuju dunia yang lebih plural, lebih gelisah, dan lebih mahal untuk dikelola. Dolar belum runtuh, tetapi hegemoni finansialnya mulai dipagari.
Amerika belum tumbang, tetapi dominasinya makin ditantang. Tiongkok belum menggantikan, tetapi sudah tak bisa diabaikan. Perang dunia belum tak terelakkan, tetapi risiko salah hitung makin besar. Maka pertanyaan terpenting bukan lagi Who wins?, melainkan siapa paling mampu bertahan, beradaptasi, dan menjaga ruang strategisnya di tengah dunia yang pecah tanpa benar-benar putus. []
*Ketua Umum Keluarga Alumni Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK)- ITB






