Veritas

Insiden 9/11, Hubungan AS-Cina, Laut Cina Selatan dan Nasib Muslim Uighur [1]

Hubungan AS-Cina memburuk menjelang 11 September 2001. Pengeboman AS yang tidak disengaja pada tahun 1999 di Kedutaan Besar Cina di Beograd; penggambaran George W. Bush pada jejak kampanye presiden tahun 2000 tentang Cina sebagai musuh potensial dan “pesaing strategis”; dan tabrakan April 2001 antara pesawat mata-mata AS dan jet tempur PLA di dekat Pulau Hainan, semuanya meningkatkan ketegangan dan ketidakpercayaan kedua pihak.

Oleh  : Mark Magnier

JERNIH– Pada 11 September 2001, Charles Freeman berada di Beijing untuk bertemu dengan presiden RRC saat itu, Jiang Zemin, ketika berita tentang serangan World Trade Center tersiar. Larangan terbang atas pesawat komersial ke AS saat itu, memaksa Freeman– ketua bersama Yayasan Kebijakan AS-Cina–untuk tetap berada di ibukota Cina itu lebih lama dari yang diperkirakan.

Dua dasawarsa kemudian, para analis dan mantan pejabat pemerintah mengatakan terbukti bahwa serangan teroris itu mengganggu—meski untuk sementara-– penurunan hubungan AS-Cina yang kini telah dimulai kembali. Dan 20 tahun kemudian, yang ditandai dengan evakuasi AS yang memalukan dari Afghanistan, hanya ada sedikit prospek hubungan yang membaik secara signifikan dalam waktu dekat.

“Kami memiliki pengalihan,” kata Freeman, mantan orang nomor dua di Kedutaan AS di Beijing dan mantan direktur urusan Cina di Departemen Luar Negeri. “Ini seperti garis pada grafik yang mengalami penurunan besar, lalu trennya kembali.”

Pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar (kiri) dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi berfoto selama pertemuan mereka di Tianjin, Cina, pada 28 Juli. Foto: Xinhua via AP

Hubungan AS-Cina memburuk menjelang 11 September. Pengeboman AS yang tidak disengaja pada tahun 1999 di Kedutaan Besar Cina di Beograd; penggambaran George W. Bush pada jejak kampanye presiden tahun 2000 tentang Cina sebagai musuh potensial dan “pesaing strategis”; dan tabrakan April 2001 antara pesawat mata-mata AS dan jet tempur PLA di dekat Pulau Hainan, semuanya meningkatkan ketegangan dan ketidakpercayaan kedua pihak.

Hampir segera setelah serangan World Trade Center, kepemimpinan Cina melihat peluang mengubah keadaan dan dengan cekatan berputar. Prioritas AS sekarang adalah perang melawan teror, mengalihkan perhatian mereka dari Cina. Washington membutuhkan dukungan Beijing di Dewan Keamanan PBB. Dan Cina mengambil keuntungan itu untuk mendefinisikan kembali tantangan kontrol persoalan domestiknya, dan mencapnya sebagai terorisme global.

Cina hampir tidak sendirian dalam perhitungan ini, tetapi ukuran dan keunggulannya membuat ia memiliki lebih banyak keuntungan. “Pemerintahan Bush telah menjadikan Cina sebagai musuh pilihan, kemudian 9/11 terjadi,” kata Freeman, juru bahasa utama AS untuk Presiden Richard Nixon selama kunjungan bersejarahnya tahun 1972 ke Beijing. “Cina memanfaatkan ini untuk bersikap baik dan kooperatif, dan untuk mencoba dan mengubah topik pembicaraan dari diri mereka sendiri.”

Tentu saja ada keterkejutan dan empati yang tulus sejak awal, kenang Cheng Li, seorang rekan di Brookings Institution yang dibanjiri pesan “Hari ini kita semua adalah orang Amerika” dari para cendekiawan dan teman-teman Cina-nya. Tetapi peluang strategis itu tidak hilang di Beijing, dengan Jiang berada di antara para pemimpin dunia pertama pada panggilan telepon ke Washington pada 12 September,  untuk menyampaikan bela sungkawa dan menawarkan dukungan.

“Peristiwa 9/11 adalah hadiah strategis,” kata M. Taylor Fravel, direktur studi strategis di Massachusetts Institute of Technology.

Ini segera terbayar, karena hubungan meningkat dengan cepat. Tahun berikutnya, Washington setuju untuk menunjuk kelompok pembebasan Uygur yang sebenarnya tidak terorganisasi dengan baik dalam Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM), sebagai organisasi teroris, dan hal itu seperti biasa segera diikuti Uni Eropa dan PBB.

Washington juga bekerja untuk mengendalikan suara-suara pro-kemerdekaan di Taiwan, meskipun ini didorong oleh kecenderungan presiden Taiwan saat itu untuk melakukan provokasi, seperti halnya penataan kembali perang-melawan-teror.

“Saya ada di sana, dan tahu itu fakta, bahwa itu sebagian besar (ulah Presiden) Chen Shui-bian,” kata Dennis Wilder, asisten profesor di Universitas Georgetown dan mantan asisten khusus Dewan Keamanan Nasional untuk presiden. “Presiden Bush menjadi sangat kesal dengan Chen dan penolakannya untuk mendengarkan Washington. Bush ibaratnya mengalami sakit kepala tingkat dewa.”

Para analis melihat, bagi Beijing, pencantuman ETIM sebagai kelompok teroris adalah bukti bahwa Washington akhirnya menanggapi keprihatinannya dengan serius. Sementara Washington melihatnya wajar sebagai biaya untuk mendapatkan dukungan Cina di tempat dan kasus lain.

“Cina telah meminta kami untuk melakukan itu selama bertahun-tahun dan kami akan berkata, “Siapa orang-orang ini? Kami tidak melihatnya nyata. Kami tidak melihat organisasi, tidak melihat aktivitasnya,””kata Richard Boucher, mitra di Brown University Watson Institute dan mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Tengah. “Itu dilakukan untuk membantu mendapatkan dukungan Cina guna menyerang Irak.”

ETIM mengaku bertanggung jawab atas dua serangan terhadap pejabat pemerintah di Xinjiang pada 2011, sementara Beijing menyalahkannya atas serangan bom mobil 2013 di Lapangan Tiananmen yang menewaskan lima orang.

Namun, seiring waktu, Washington akan mempertanyakan penunjukannya, yang pada akhirnya menghapus ETIM dari “Daftar Pengecualian Teroris” versi AS, mengingat kelompok tersebut tidak aktif selama ukuran dekade, memburuknya hubungan AS-Cina secara lebih luas, dan kekhawatiran bahwa Beijing telah menggunakan label tersebut untuk membenarkan tindakan kerasnya dalam Xinjiang di tengah laporan kerja paksa dan sekitar 1 juta Muslim Uygur ditahan di kamp-kamp penahanan.

“Kami tahu orang Cina ingin menggunakannya sebagai alasan untuk mengejar semua orang dan jenis sikap Uygur, yang mungkin akan dilakukan,” tambah Boucher, yang pernah menjadi konsul jenderal untuk Hong Kong. “Sejak 9/11, kami telah menemukan teroris di bawah setiap kasur, tetapi tidak pernah menemukan hal yang serius pada kelompok Uygur.”

Pakar terorisme mengatakan bahwa warisan ETIM adalah kompleks, dengan perubahan nama, pemain dan tujuan, aktivitas berkurang dari waktu ke waktu dan sedikitnya jaringan hubungam kepada pihak yang diklaim sebagai dalang 11 September, Al Qaidah.  Ke-22 orang Uygur yang ditahan di kamp penahanan Teluk Guantanamo yang didirikan AS untuk tersangka teroris, semuanya dibebaskan pada tahun 2013.

Setelah penghapusan ETIM, Beijing menuduh Washington melakukan “pendekatan bermuka dua yang buruk” untuk kontraterorisme. “Organisasi teroris tetaplah organisasi teroris,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Wang Wenbin.

Sejak 11 September, anggaran militer resmi Cina telah berkembang pesat–tumbuh lebih dari 12 persen setiap tahun dari 2001 hingga 2021 sebesar 1,35 triliun yuan (209 miliar dolar AS) -– meskipun itu masih jauh di belakang tingkat pengeluaran AS.

Ini juga bertepatan dengan pertumbuhan ekonomi China yang eksplosif; keinginannya untuk melindungi arus perdagangan globalnya yang berkembang; dan pengakuan setelah Perang Teluk pertama bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Cina ternyata lembek dan tertinggal secara teknologi. [Bersambung—South China Morning Post]

Back to top button