SolilokuiVeritas

Indri Wahyuni dan Jebakan Artikulasi

Lomba cerdas cermat bukan sekadar ajang pertunjukan kecakapan berbicara, melainkan perayaan intelektualitas. Menghukum jawaban benar hanya karena artikulasi yang “tidak sesuai selera” juri adalah langkah mundur yang mencederai sportivitas akademik.

WWW.JERNIH.CO – Dalam dunia kompetisi akademik, lomba cerdas cermat (LCC) sering dianggap sebagai tolok ukur kecemerlangan kognitif dan ketangkasan berpikir. Namun, konteks tersebut bisa berbeda di sebuah ajang LCC yang digelar di Kalimantan Barat tempo hari.

Netizen pun merespon diskursus mengenai objektivitas penjurian yang melibatkan Indri Wahyuni. Kontroversi muncul ketika seorang peserta memberikan jawaban yang secara substansi benar, namun dianulir oleh dewan juri karena faktor artikulasi atau pengucapan yang dianggap kurang sempurna.

Fenomena ini memicu pertanyaan fundamental: Apa sebenarnya esensi dari sebuah lomba cerdas cermat?

Secara epistemologis, cerdas cermat dirancang untuk menguji fluid intelligence dan crystallized intelligence. Peserta dituntut untuk memanggil kembali informasi dari memori jangka panjang secara cepat dan akurat.

Dalam pendekatan psikologi kognitif, fokus utama adalah pada akurasi konseptual. Ketika seorang peserta berhasil mengidentifikasi jawaban yang tepat, proses mental “retrieval” telah berhasil dilakukan. Sebuah lomba di era digital seperti sekarang soal menjawab jika dianggap meragukan dan perlu pembuktian bisa dilakukan dengan cara membuka rekaman yang disimpan dalam peralatan kamera. Seperti halnya VAR pada pertandingan sepak bola.

Namun tampaknya para juri lebih memilih berargumentasi sendiri. Yakni dengan cara mencari faktor lain yang memungkinkan menganulir jawaban peserta. Lewat faktor artikulasi itulah peserta yang merasa jawabannya benar lalu dikalahkan.

Menghukum peserta karena masalah artikulasi—selama jawaban tersebut masih dapat diidentifikasi secara jelas—merupakan bentuk pergeseran fokus dari substansi ke performansi. Artikulasi adalah bagian dari keterampilan retorika atau public speaking, bukan indikator validitas pengetahuan faktual.

Jika kita meninjau dari teori komunikasi Claude Shannon dan Warren Weaver, sebuah pesan dikatakan berhasil jika informasi dari sumber sampai ke penerima dengan gangguan (noise) yang minimal. Guna mengeliminir gangguan (termasuk kemampuan pendengaran juri) mesti ditopang oleh keberadaan perangkat yang dapat memverifikasi secara valid.

Selama dewan juri—sebagai penerima pesan—dapat memahami maksud dari jawaban tersebut, maka secara semantik, makna telah tersampaikan. Menyalahkan jawaban yang benar secara substansi karena faktor fonetik adalah sebuah kekeliruan logika dalam penilaian akademik. Hal ini menciptakan apa yang disebut dalam sosiologi sebagai “elitism linguistik”, di mana cara seseorang berbicara dianggap lebih penting daripada apa yang ia bicarakan.

Menjadikan artikulasi sebagai syarat mutlak dalam menjawab soal sains atau sejarah di ajang cerdas cermat berisiko mendiskriminasi peserta yang memiliki keterbatasan fisiologis (seperti cadel) atau dialek daerah yang kental, padahal kapasitas intelektual mereka sangat mumpuni.

Keputusan juri seperti Indri Wahyuni dalam konteks ini dapat diterangkan melalui teori Measurement Validity. Sebuah tes dikatakan valid jika ia mengukur apa yang seharusnya diukur. Lomba Cerdas Cermat seharusnya mengukur pengetahuan dan kecepatan berpikir. Sementara artikulasi lebih mengukur diksi dan fonologi.

Ketika juri mencampuradukkan keduanya, validitas hasil lomba menjadi cacat. Secara ilmiah, hal ini disebut sebagai construct-irrelevant variance, di mana faktor-faktor yang tidak relevan dengan tujuan tes justru memengaruhi skor akhir.

Karenanya bisa dimaklumi mengapa netizen merasa ada kejanggalan dalam lomba itu. Indri pun jadi “korban” kejengkelan. Istilah sekarang Indri “dirujak”. (*)

BACA JUGA: Beranikah Kita Menamai Ulang Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda?

Back to top button