
Masyarakat adat Sunda juga mengenal apa yang disebut seren taun. Secara harfiah, ini adalah ritual menyerahkan hasil panen sebagai bentuk syukur. Namun memahami seren taun hanya sebagai pesta panen lagi-lagi terlalu dangkal. Seren taun adalah institusi sosial,yang memperbarui kontrak moral antara manusia, komunitas, leluhur, dan alam. Ketika padi diarak, didoakan, disimpan, lalu dirayakan, yang sebenarnya sedang dirawat bukan sekadar tradisi. Yang dirawat adalah ingatan kolektif. Bahwa pangan tidak muncul begitu saja. Datangnya pangan didahului kerja. Ada musim. Ada air. Ada tanah. Ada kesabaran.
JERNIH– Di Kasepuhan Ciptagelar, bunyi lesung masih terdengar. Tidak setiap hari. Tidak sepanjang waktu. Tetapi cukup sering untuk mengingatkan siapa pun yang datang bahwa di tempat ini, padi belum sepenuhnya tunduk pada logika modern.
Pagi itu kabut masih menempel di pucuk-pucuk hutan Halimun ketika beberapa perempuan menumbuk padi dengan ritme yang hampir musikal. Dug. Dug. Dug. Tidak tergesa. Tidak bising., tidak pula mekanis. Bunyi itu terdengar seperti percakapan lama antara manusia dan pangan.
Di kota, beras datang dalam karung plastik lima atau sepuluh kilogram. Bersih. Putih. Nyaris steril dari cerita. Kita jarang bertanya dari mana ia datang, berapa tangan yang bekerja untuk menghasilkannya, atau berapa banyak air dan keringat yang mengiringi tiap butirnya. Di Ciptagelar, padi tidak pernah sesederhana itu.
Padi bukan barang. Padi adalah kehidupan. Lebih dari itu: bagi warga Ciptagelar, padi adalah kehormatan. Mungkin inilah salah satu perbedaan paling mendasar antara masyarakat agraris modern dan masyarakat adat Sunda. Yang satu melihat pangan terutama sebagai komoditas ekonomi; yang lain melihatnya sebagai simpul kebudayaan.
Karena itu, orang Sunda lama memiliki hubungan yang jauh lebih personal dengan padi. Ada penghormatan. Ada tata cara, selain ada pula sekian banyak pantangan. Tentu saja, ada pula ritus, juga keyakinan bahwa ketika manusia mulai memperlakukan padi semata sebagai barang dagangan, sesuatu yang lebih besar dari sekadar ekonomi ikut retak.
Dalam kosmologi Sunda lama, padi kerap dikaitkan dengan figur Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dan kesuburan. Cerita tentang Nyi Pohaci hidup dalam berbagai versi. Tetapi intinya serupa: dari tubuhnya tumbuh sumber-sumber kehidupan—padi, kelapa, tumbuhan pangan, dan aneka tanaman berguna. Secara antropologis, mitos semacam ini bukan sekadar dongeng. Mitos itulah yang membentuk etika.
Ketika pangan dipahami sebagai sesuatu yang sakral, eksploitasi tanpa batas menjadi lebih sulit dibenarkan. Sakralitas menciptakan rem moral. Di situlah masyarakat adat sering kali lebih maju daripada masyarakat modern.
Modernitas memberi manusia kemampuan teknologi yang luar biasa. Tetapi ia tidak otomatis memberi rem etika yang kuat. Masyarakat adat, dengan segala keterbatasannya, justru memiliki sistem pembatas yang halus namun efektif. Salah satunya tampak dalam cara mereka memperlakukan hasil panen.
Di banyak komunitas adat Sunda, padi tidak langsung dijual. Padi lebih dulu disimpan di leuit. Leuit adalah lumbung. Namun menyebut leuit hanya sebagai gudang beras terasa terlalu miskin.
Leuit adalah cadangan masa depan, asuransi sosial, plus penyangga martabat. Leuit adalah cara masyarakat mengatakan kepada musim buruk: kami tidak sepenuhnya bergantung padamu. Dalam ungkapan Sunda yang sering diulang para kolot, “nu aya di leuit lain ngan beas, tapi pikahareupeun”. Yang ada di lumbung bukan cuma beras, tetapi masa depan.
Kalimat yang sederhana. Tetapi bila direnungkan, ia mengandung filsafat ekonomi yang sangat matang. Masyarakat modern membangun ketahanan melalui instrumen pasar, asuransi, cadangan fiskal, dan rantai pasok global. Masyarakat adat membangun ketahanan lewat cadangan pangan rumah tangga. Beda bentuk, sama tujuan. Bertahan.
Di Kampung Naga, prinsip serupa hidup dengan disiplin yang nyaris keras. Kampung kecil yang dikelilingi perbukitan dan Sungai Ciwulan itu berkali-kali membuat peneliti antropologi terkesima. Di tengah penetrasi modernitas yang begitu agresif, Kampung Naga mempertahankan pola hidup yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya dibangun di atas struktur nilai yang rumit.
Rumah-rumah panggung seragam. Atap ijuk. Arah bangunan diatur. Zona hutan dijaga. Ruang sakral dibedakan dari ruang profan. Dan yang menarik, semua itu terhubung dengan pangan.
Bagi orang luar, konservasi hutan mungkin tampak sebagai agenda ekologis. Bagi masyarakat adat, menjaga hutan adalah menjaga sawah. Hutan menyimpan air. Air menghidupi sawah. Sawah memberi pangan. Pangan menjaga komunitas. Rantai itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Seorang tetua adat Kampung Naga pernah menjelaskan dengan sangat sederhana kepada seorang peneliti muda yang datang dengan banyak teori. “Mun leuweung rusak, cai ilang. Mun cai ilang, pare tumpur. Kalau hutan rusak, air hilang. Kalau air hilang, padi mati.” Selesai.
Tak perlu diagram rumit. Tak perlu jargon. Kadang kearifan terbesar justru hadir dalam kalimat paling pendek.
Masyarakat adat Sunda juga mengenal apa yang disebut seren taun. Secara harfiah, ini adalah ritual menyerahkan hasil panen sebagai bentuk syukur. Namun memahami seren taun hanya sebagai pesta panen lagi-lagi terlalu dangkal. Seren taun adalah institusi sosial,yang memperbarui kontrak moral antara manusia, komunitas, leluhur, dan alam.
Ketika padi diarak, didoakan, disimpan, lalu dirayakan, yang sebenarnya sedang dirawat bukan sekadar tradisi. Yang dirawat adalah ingatan kolektif. Bahwa pangan tidak muncul begitu saja. Datangnya pangan didahului kerja. Ada musim. Ada air. Ada tanah. Ada kesabaran.
Dalam masyarakat yang makin instan, seren taun mengajarkan sesuatu yang hampir revolusioner: rasa syukur atas proses. Kita hidup di zaman yang lebih sering merayakan hasil ketimbang proses. Panen dirayakan. Tanah jarang. Produk dirayakan. Produsen dilupakan. Harga dibahas. Petani diabaikan.
Di sinilah masyarakat adat memberi pelajaran moral yang tidak kecil. Mereka menolak memisahkan pangan dari konteks keberadaannya. Bagi sebagian orang, semua ini mungkin terdengar romantis. Romantisme adat. Romantisme kampung. Romantisme anti-modern.
Persoalannya, realitas di lapangan jauh lebih keras. Mempertahankan pranata pangan adat bukan perkara mudah. Komunitas-komunitas adat Sunda selama puluhan tahun menghadapi tekanan yang sangat nyata. Tekanan itu datang dari negara, dari pasar, dari modernisasi, juga dari ekspansi ekonomi.
Sejarah Kasepuhan Banten Kidul mencatat hubungan yang sering tegang antara komunitas adat dan otoritas formal, terutama terkait status kawasan hutan. Bagi birokrasi negara, hutan sering dipetakan sebagai kawasan produksi, konservasi administratif, atau aset legal.
Bagi masyarakat adat, hutan adalah ruang hidup. Perbedaan cara pandang ini kerap melahirkan konflik. Dan konflik agraria di Indonesia bukan cerita kecil. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) berulang kali menunjukkan tingginya sengketa tanah yang melibatkan masyarakat lokal dengan korporasi atau negara.
Di balik angka statistik itu ada sesuatu yang kerap luput. Yang dipertaruhkan masyarakat adat bukan semata kepemilikan lahan. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan memberi makan dirinya sendiri. Tanpa tanah, mereka kehilangan pangan. Tanpa pangan, kedaulatan runtuh. Dalam banyak kasus, perlawanan masyarakat adat dilakukan secara non-violent. Mereka berdialog, mengadvokasi.mengajukan hak, mengorganisasi komunitas.
Tetapi sejarah Nusantara juga menunjukkan bahwa konflik agraria kadang berubah keras ketika ruang dialog menyempit. Karena ada titik ketika tanah berhenti menjadi komoditas, ia berubah menjadi harga diri. Dan orang yang merasa harga dirinya dirampas sering kali tidak lagi bicara dengan bahasa ekonomi.
Komunitas Kanekes—yang lebih dikenal sebagai Baduy—memberi contoh ekstrem tentang disiplin ekologis. Baduy sering dibicarakan dari sisi pakaian, kesederhanaan, atau larangan teknologi. Padahal inti kebudayaan mereka bukan eksotisme. Intinya adalah pembatasan. Baduy menghidupi apa yang dalam bahasa modern bisa disebut self-limitation. Membatasi diri. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang menguntungkan layak dikejar. Tidak semua efisiensi membawa kebaikan.
Dalam pertanian, prinsip ini terasa sangat jelas. Masyarakat Baduy menolak banyak intervensi yang dianggap mengganggu keseimbangan tanah. Pola tanam mereka bukan semata soal produktivitas maksimum. Ada dimensi harmoni. Ada ritme, ada larangan.
Falsafah Baduy terkenal dengan pitukuh: “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung. Yang panjang tidak boleh dipotong, yang pendek tidak boleh disambung.” Sering dibaca sebagai ajaran konservatif. Padahal maknanya jauh lebih dalam.
Ajaran itu bicara tentang larangan memanipulasi tatanan alam secara serampangan. Dalam bahasa kontemporer, ini hampir seperti kritik ekologis terhadap obsesi manusia modern untuk terus “mengoreksi” alam demi efisiensi. Bukankah banyak kerusakan hari ini lahir justru dari keyakinan bahwa manusia selalu tahu cara memperbaiki alam? Padahal tidak selalu demikian.
Salah satu ironi besar Indonesia adalah ini: kita sering berbicara tentang swasembada pangan dalam bahasa negara, tetapi lupa mempelajari bagaimana masyarakat adat membangun ketahanan pangan dari bawah. Padahal sebelum republik ini lahir, komunitas-komunitas adat sudah mengembangkan sistem pangan yang cukup tahan terhadap guncangan.
Mereka punya diversifikasi pangan. Mereka punya cadangan. Mereka punya aturan panen. Mereka punya batas eksploitasi. Bahkan mereka punya mekanisme sosial untuk mencegah kerakusan.
Bandingkan dengan logika pasar modern. Pasar bekerja baik selama distribusi lancar. Tetapi begitu rantai pasok terganggu—pandemi, konflik, cuaca ekstrem—kerentanan langsung terlihat. Rak kosong. Harga melonjak. Panik.
Masyarakat adat mengurangi kerentanan itu dengan memperpendek jarak antara produsen dan konsumen. Sering kali produsen dan konsumen adalah orang yang sama. Mereka menanam apa yang mereka makan. Mereka makan apa yang mereka tanam. Hubungan itu menciptakan disiplin ekologis yang berbeda. Sulit bersikap rakus pada tanah yang setiap hari Anda pijak sendiri.
Penulis dan pemikir agraria James C. Scott dalam banyak karyanya menunjukkan bagaimana negara modern sering memiliki dorongan kuat untuk menyeragamkan. Penyeragaman memudahkan administrasi, dus itu artinya memudahkan pengawasan. Memudahkan pengukuran.
Tetapi penyeragaman kerap merusak kompleksitas lokal. Pertanian pun mengalami hal serupa. Varietas diseragamkan. Pola tanam diseragamkan. Metode budidaya diseragamkan.
Efisien secara birokrasi. Belum tentu bijak secara ekologis. Masyarakat adat Sunda justru bertahan karena menolak simplifikasi berlebihan. Mereka memelihara keragaman, dan keragaman adalah fondasi resiliensi. Ekosistem beragam lebih tahan guncangan. Pangan beragam lebih tahan krisis. Budaya beragam lebih sulit runtuh.
Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesar dari masyarakat adat Sunda bukan soal teknik bertani. Melainkan soal cara memandang cukup. Modernitas hampir selalu bergerak dengan kata “lebih”. Lebih cepat. Lebih besar. Lebih murah. Lebih banyak.
Masyarakat adat mengajukan pertanyaan yang lebih mengganggu. Berapa sebenarnya yang cukup? Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun justru di situlah letak revolusinya. Selama manusia tak pernah merasa cukup, eksploitasi akan selalu menemukan pembenaran. Selama pangan semata dipandang sebagai komoditas, tekanan terhadap alam akan terus membesar. Dan selama kita memisahkan beras dari tanah, dapur dari sawah, konsumsi dari ekologi, krisis pangan hanya tinggal menunggu bentuknya.
Sore turun di Ciptagelar. Kabut mulai merayap dari lereng. Di sebuah leuit kayu, ratusan ikat padi tersimpan rapi. Diam. Tenang. Seolah tak ada apa pun terjadi.
Namun justru dalam keheningan itu tersimpan pesan yang keras. Bagi orang kota, lumbung mungkin sekadar bangunan tua. Bagi masyarakat adat Sunda, leuit adalah pernyataan perlawanan. Perlawanan terhadap lupa. Perlawanan terhadap kerakusan. Perlawanan terhadap dunia yang terlalu mudah mengubah segala sesuatu menjadi angka, harga, dan transaksi.
Karena bagi mereka, padi tak pernah sekadar beras. Padi adalah cara sebuah peradaban mengingat batas. Dan mungkin, di zaman ketika manusia nyaris lupa batas, itulah pengetahuan yang paling kita butuhkan. [dsy–bersambung]






