
Jangan bayangkan saya bertemu Bang Ical atau siapa pun di republik ini seperti para aktivis yang mengaku dari ormas Islam terbesar dan pengacara Pagar Laut ketika mereka bertemu Aguan. Videonya melintas ke mana-mana. Terus terang, melihatnya saya jijik. Semakin banyak gaya, semakin menunduk berlebihan, semakin dalam watak penjilat yang mereka pelihara. Entah wataknya yang memang gembel atau terlahir gembel. Hingga apa pun dilakukan, bahkan membantu menindas orang miskin pun mereka lakukan.
Oleh : Geisz Chalifah

JERNIH– Bang Hariman Siregar menikahkan anaknya. Saya hadir.
Saat naik ke atas panggung pelaminan, Bang Hariman seperti biasanya berteriak dan menyambut hangat, “Udah, kita aja yang foto duluan pakai HP u; kita kan memang nggak bisa diatur.” Ia tak mau menunggu arahan wedding organizer (WO) yang berdiri di bawah.
Itulah Hariman; di mana pun berada ia tetap Hariman. Tidak berubah oleh usia; tidak juga oleh siapa saja yang hadir di sekelilingnya.
Bursah Zarnubi bertindak sebagai ketua panitia. Ia beberapa kali mengarahkan tamu yang hadir, khususnya teman-teman lama, meminta agar jangan pulang dulu. Malam ini bukan sekadar resepsi, ini temu lintas zaman.
Saya kemudian memasuki ruang VIP. Di sana sudah ada Rocky Gerung, Jumhur Hidayat, Syahganda, dan beberapa nama lain. Tak lama kemudian Bang Jimly Asshiddiqie datang. Saya menghampirinya, bersalaman, dan memanggilnya Ustadz Jimly. Dulu, saat beliau rutin mengisi kajian di YISC, saya kadang datang ikut mendengarkan.
Beliau tersenyum dan berseloroh, “Wah, orang terkenal ini.” Saya hanya tersenyum, menjawab secara wajar layaknya yunior kepada senior, tanpa kanda-kandaan atau sapaan “siap senior” yang sejak dulu memang saya alergi mengucapkannya.

Tak lama berselang Luhut Panjaitan memasuki ruangan. Ia disambut Rocky. Saya justru memilih keluar, menuju ruang terbuka hijau di samping ballroom. Merokok, sambil berharap bertemu kawan-kawan lama Prodem atau Indemo. Sebagian memang wajah yang hanya bisa ditemui di peristiwa seperti ini.
Ketika hendak meninggalkan acara, Aburizal Bakrie baru tiba. Saya menegurnya dan menyalaminya. Ia menatap agak lama, lalu ingat.
“Wah, kamu itu, ke mana saja?”
“Apa kabar sekarang?”
“Saya lihat kamu cuma dari TV.”
Saya menjawab dengan hormat dan formal. Tiga puluh tahun lalu; saya pernah bersama Bang Ical (Aburizal Bakrie) dan Om Liem. Setelah itu komunikasi hanya lewat orang-orang terdekatnya. Waktu berjalan, lingkaran berubah, ingatan tetap menyimpan wajah.
Jangan bayangkan saya bertemu Bang Ical atau siapa pun di republik ini seperti para aktivis yang mengaku dari ormas Islam terbesar dan pengacara Pagar Laut ketika mereka bertemu Aguan. Videonya melintas ke mana-mana.
Terus terang, melihatnya saya jijik. Semakin banyak gaya, semakin menunduk berlebihan, semakin dalam watak penjilat yang mereka pelihara. Entah wataknya yang memang gembel atau terlahir gembel. Hingga apa pun dilakukan, bahkan membantu menindas orang miskin pun mereka lakukan.
Malam itu Bang Hariman Siregar memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Tak ada tokoh di republik ini yang merasa asing di hadapannya, dan nyaris tak ada yang tak merasa pernah menjadi temannya. [ ]






