
Indonesia Emas bukan sekadar impian para perumus kebijakan di pusat kekuasaan. Ia akan menjadi nyata jika hidup dalam kesadaran rakyat. Maka, pertanyaannya bukan lagi “sejauh mana kita telah bersiap?”, melainkan “apakah rakyat tahu bahwa kita sedang bersiap?”. Dan untuk menjawab itu, riset adalah jalan awal yang tidak bisa ditunda.
JERNIH – Akhir Desember 2024, BRIN mewacanakan pentingnya riset pemahaman terkait visi Indonesia Emas 205 dalam sebuah diskusi. Namun agaknya penelitian yang melibatkan masyarakat secara komprehensif masih menunggu inisiatif. Oleh karenanya sulit diperoleh fakta dan data tentang pemahaman masyarakat pada program besar tersebut.
Memang, beberapa survei sederhana pernah dilakukan, umumnya berupa polling online dengan pertanyaan-pertanyaan dangkal seperti “Apakah Anda optimis Indonesia bisa menjadi negara maju di 2045?” atau “Apakah Anda tahu tentang Indonesia Emas?”. Namun keabsahan metodologinya patut dipertanyakan. Tanpa pendekatan ilmiah yang sahih dan representatif, hasil-hasil ini hanya menjadi cermin buram dari realitas di lapangan—tidak cukup untuk membentuk kebijakan atau strategi komunikasi jangka panjang.
Buramnya akseptabilitas publik terhadap program ini membuka ruang multitafsir. Tak jarang kita mendengar sindiran seperti “Indonesia Cemas”, yang muncul sebagai respon terhadap kebijakan atau perilaku elit politik yang terasa jauh dari nurani publik. Ketika visi negara tidak menyatu dengan pengalaman hidup rakyat sehari-hari, maka wajar bila muncul keraguan, penolakan, bahkan apatisme terhadap gagasan besar tersebut.
Karena itu, sebelum pemerintah melangkah lebih jauh dalam membumikan visi Indonesia Emas, dibutuhkan pijakan yang kokoh: riset mendalam yang mampu memetakan sejauh mana visi ini dikenal, dipahami, dan diyakini oleh masyarakat. Tanpa data yang sahih, kita hanya bersandar pada asumsi—dan membangun masa depan di atas asumsi adalah hal yang riskan.
Riset semacam ini tak sekadar akademik. Ia adalah fondasi strategis untuk mengukur kesiapan sosial dan budaya menuju 2045. Visi Indonesia Emas tidak hanya bicara soal pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur megah, tapi juga transformasi nilai, mentalitas, dan perilaku warga negara. Tanpa pemahaman dan keterlibatan publik, semua transformasi struktural berisiko mandek di permukaan.
Riset menjadi agenda awal yang sangat penting karena visi ini bukan sekadar agenda elit atau dokumen negara. Melainkan sebuah cita-cita kolektif yang hanya bisa dicapai jika masyarakat memahami, merasa terlibat, dan mendukungnya.
Secara umum penelitian tersebut dibuat untuk mengukur kesiapan sosial dan budaya. Bahwa visi Indonesia Emas bukan hanya soal ekonomi atau infrastruktur, tapi juga transformasi mentalitas, nilai, dan perilaku masyarakat. Tanpa pemahaman dan kesadaran masyarakat, transformasi struktural tidak akan berjalan efektif. Efeknya proses komunikasi publik akan selalu sulit dipahami.
Sebuah riset digelar juga untuk memetakan tingkat literasi dan aspirasi publik Riset ini dapat mengungkap antara lain; Siapa masyarakat yang sudah tahu dan siapa yang tidak tahu sama sekali, Siapa yang merasa berperan dan siapa yang merasa terpinggirkan, juga harapan dan kekhawatiran masyarakat tentang masa depan bangsa. Hasilnya bisa jadi dasar dalam menyusun kebijakan yang lebih inklusif.
Dalam berbagai riset biasanya juga meliputi faktor untuk menilai efektivitas komunikasi pemerintah yang dilakukan selama ini, baik secara formal maupun informal. Bukankah berkali-kali Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyodorkan Indonesia Emas dengan berbagai konteks dan indikator?
Apakah orasi yang dilakukan di berbagai kesempatan dan melalui media sosial miliknya bisa dipahami? Atau bahkan menyulut perdebatan non elementer?
Maka riset akan memprosesnya. Kelak akan terjawab efektivitasnya, relevansinya, maupun logika yang dibangun mampu menyeruak ke benak masyarakat dari seluruh lapisan atau tidak.
Lebih dari itu, hasil penelitian akan menjadi rujukan bagi perencanaan kebijakan pendidikan, penguatan kurikulum, strategi komunikasi publik, hingga pembenahan peran media. Jika ternyata mayoritas masyarakat belum memahami atau bahkan tidak peduli pada visi ini, maka pekerjaan rumah kita masih panjang. Perlu ada intervensi terarah—bukan sekadar kampanye sesaat, melainkan pendidikan publik yang konsisten dan melibatkan.
Dari keseluruhan tujuan penelitian yang paling penting adalah mendorong kepemilikan kolektif (Collective Ownership). Dari sini akan terlihat bahwa masyarakat yang memahami visi Indonesia Emas akan didorong agar lebih aktif terlibat dalam program pembangunan. Mereka lah yang diharapkan menjadi agen perubahan, bukan hanya penonton. Kelak menjadi gerakan kolektif. Sebab cita-cita sebesar itu hanya akan menjadi kenyataan bila dihayati bersama, tidak hanya oleh para pengambil kebijakan, tetapi juga oleh petani di desa, pelajar di kota kecil, buruh pabrik, pengemudi ojek, hingga pelaku UMKM.Riset adalah pijakan pula bagi lembaga think tank seperti GREAT Institute. Bagi GREAT Institue keberadaan data dan fakta hasil penelitian bak menu makan sehat dan lengkap. Ini akan membantu menambah literasi bagi para pemikir di GREAT Institute untuk mengembangkan gagasannya.(*)