
Ketika menoleh,
jalan di belakang tak banyak jejak,
kecuali debu yang segera dihempas angin.
Ke mana perginya
pagi yang tergesa,
malam yang kutukar dengan cemas,
dan mimpi yang lamat kehilangan pemiliknya?
Oleh : Yudi Latif

Tak ada bunyi menandai
kapan pagi berubah jadi petang.
Tak ada daun meranggas
mengisyaratkan masa muda
memasuki musim gugur.
Suatu hari aku terjaga
dengan lutut terasa berkarat, punggung memikul endapan musim, napas mulai lupa irama.
Cermin tak pernah bohong, hanya menunjukkan
bahwa keriput adalah kalender
yang ditulis waktu
dengan tinta tak kasat.
Kukira setiap langkah mengejar masa depan,
padahal setiap berpijak meniti jalan pulang.
Bertahun-tahun aku sibuk
memindahkan hari dari satu kotak ke kotak lain,
menyusun daftar, mengejar angka, memenuhi kewajiban.
Kupikir sedang membangun kehidupan.
Ternyata hanya membangun kesibukan.
Ketika menoleh,
jalan di belakang tak banyak jejak,
kecuali debu yang segera dihempas angin.
Ke mana perginya
pagi yang tergesa,
malam yang kutukar dengan cemas,
dan mimpi yang lamat kehilangan pemiliknya?
Umur bukan soal hitungan tahun,
melainkan jarak antara hati dan kesadaran
bahwa segala sesuatu sedang berlalu.
Tua adalah saat seseorang sadar
tak ada satu pun hari
yang dapat dipanggil kembali.
Lalu apa arti hidup,
jika akhirnya
rumah berpindah tangan,
nama menghilang,
dan tubuh kembali ke tanah?
Mungkin hidup
bukan tentang lamanya tinggal,
melainkan dalamnya hadir.
Yang paling mahal
bukanlah usia, melainkan perhatian:
memandang wajah yang kita kasihi
seolah itulah wajah terakhir yang ditampakkan semesta.
Tuhan mungkin bersembunyi
dalam hal-hal biasa
yang lupa kita syukuri.
Jika masih ada sisa musim,
aku tak ingin lagi berlomba dengan jam.
Aku ingin menjadi tempat pulang bagi hati yang letih.
Meninggalkan jejak bukan di batu,
melainkan di ingatan seseorang yang kelak berkata,
“Aku pernah dicintai.”
Kepada tunas muda yang baru menyongsong matahari,
jangan terburu-buru
mengejar segala yang berkilau.
Dunia akan mengajarkan
cara menjadi cepat. Tetapi manusia harus belajar menjadi utuh.
Kelak kalian pun akan terbangun dengan tubuh ringkih.
Saat itu
yang menemani
bukanlah kuasa atau pujian.
Melainkan satu pertanyaan:
“Apakah aku sungguh telah hidup,
atau hanya sibuk menunda kehidupan?”
Hidup bukan perkara berapa lama kita tinggal,
namun berapa limpah cahaya kita pancarkan sebelum pulang.





