
Balasan China mungkin tidak selalu berupa serangan militer langsung, melainkan serangkaian tekanan sistematis yang dirancang untuk membuat biaya agresi AS menjadi sangat mahal, baik secara ekonomi maupun politik.
JERNIH – Kehilangan investasi masif dan pengaruh politik di Venezuela merupakan pukulan telak bagi harga diri dan ekonomi Beijing. Dalam dunia geopolitik, “tamparan” di satu wilayah biasanya akan memicu “balasan” di wilayah lain yang lebih sensitif bagi lawan.
Apa saja langkah-langkah strategis yang kemungkinan besar akan diambil China di wilayah Asia Pasifik sebagai respons terhadap agresi Amerika Serikat?
Jika AS merasa berhak mengintervensi “halaman belakangnya” di Amerika Latin (sesuai Doktrin Monroe), Beijing kemungkinan besar akan menggunakan logika yang sama di Asia Timur. China akan menambah tekanan terhadap Taiwan. Bisa saja meningkatkan frekuensi latihan militer skala besar atau blokade parsial di sekitar Taiwan sebagai pesan bahwa mereka pun memiliki kedaulatan penuh di wilayah yang mereka klaim.
Beijing bisa memperketat kontrol atas wilayah sengketa di Laut China Selatan, khususnya terhadap aset-aset Filipina yang merupakan sekutu terdekat AS di kawasan tersebut. Ini adalah cara Beijing mengatakan: “Jika Anda mengganggu teman kami di Amerika Selatan, kami akan menekan teman Anda di sini.”
Senjata Ekonomi: Kontrol Rantai Pasokan Global
China menyadari bahwa mereka masih memegang kendali atas “nadi” teknologi dunia. Negara itu akan kemungkinan melakukan embargo mineral kritis. Sebagai balasan atas upaya AS merebut tambang di Venezuela, China bisa membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earths) dan bahan baku baterai yang sangat dibutuhkan industri mobil listrik dan pertahanan AS.
Beijing memiliki daftar “entitas tidak tepercaya”. Perusahaan raksasa AS yang beroperasi di China bisa menghadapi audit ketat, hambatan regulasi, atau pemboikotan pasar sebagai balasan atas pengambilalihan aset China di Venezuela.
Kejatuhan Maduro akan memaksa China untuk memastikan sekutu-sekutunya yang lain tidak mengalami nasib serupa. China mungkin akan lebih terbuka dalam memberikan dukungan ekonomi dan teknologi tingkat tinggi kepada Rusia di Ukraina untuk memastikan AS tetap sibuk dan “kehabisan napas” di Eropa.
Beijing kemungkinan besar akan mempercepat pembentukan pakta keamanan di dalam kerangka BRICS+ atau SCO (Shanghai Cooperation Organisation) untuk menciptakan sistem tandingan yang tidak bergantung pada dolar AS dan hukum internasional versi Barat.
China akan menggunakan platform global (PBB dan G77) untuk membingkai AS sebagai “Negara Imperialis Baru”. Targetnya adalah negara-negara di Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah. Beijing akan mengirimkan pesan: “Investasi kami membawa infrastruktur, sementara intervensi AS membawa tentara dan penculikan.” Ini adalah strategi untuk memenangkan hati negara-negara berkembang agar lebih condong ke Beijing daripada Washington.
Kita sedang memasuki era “Hukum Rimba Geopolitik”. Balasan China mungkin tidak selalu berupa serangan militer langsung, melainkan serangkaian tekanan sistematis yang dirancang untuk membuat biaya agresi AS menjadi sangat mahal, baik secara ekonomi maupun politik.






