
Apa jadinya jika etika bukan dimulai dari hukum, melainkan dari pelukan? Dari kehadiran yang meminta tanggung jawab, bukan ketaatan? Di titik itulah cinta, keibuan, dan kemanusiaan saling bertemu.
WWW.JERNIH.CO – Hari Ibu mestinya bukan ritual seremoni bunga, unggahan media sosial, atau rangkaian kata terima kasih yang diulang setiap tahun. Ia adalah jeda sunyi di tengah kehidupan yang terus berlari—ruang hening untuk menyadari bahwa ada sosok yang selama ini menjadi poros, namun jarang disadari keberadaannya.
Seorang ibu. Ia tidak hanya hadir sebagai individu, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang membentuk manusia, keluarga, bahkan peradaban. Tanpa banyak suara, ia menjaga agar kehidupan tetap berdenyut.
Bagi seorang ibu, justifikasi Hari Ibu bukan tentang seberapa sering namanya disebut atau seberapa indah pujian yang diterimanya. Perenungannya justru bergerak ke arah yang lebih dalam: pada doa-doa yang tak pernah terdengar, pada lelah yang tak sempat diceritakan, dan pada cinta yang nyaris tak pernah menuntut balasan.
Keibuan adalah praktik mencintai dalam diam—sebuah kesetiaan yang sering kali tidak tercatat dalam sejarah, tetapi menentukan arah sejarah itu sendiri. Seperti yang ditulis Robert Browning, penyair dan dramawan asal Inggris yang hidup di abad 19, “Motherhood: all love begins and ends there.” Keibuan adalah sumber sekaligus muara dari segala bentuk cinta manusia.
Dalam Islam, kedudukan ibu melampaui sekadar penghormatan moral; ia adalah perintah spiritual yang berkelindan dengan keimanan. Ketika Rasulullah menegaskan bahwa yang paling berhak atas bakti seorang anak adalah ibu—hingga tiga kali sebelum ayah—Islam sedang menegaskan kenyataan yang kerap dilupakan: bahwa kehidupan manusia dimulai dari pengorbanan tubuh dan jiwa seorang perempuan.
Mengandung, melahirkan, dan menyusui bukan hanya proses biologis, melainkan pengalaman eksistensial yang mengubah seorang perempuan selamanya. Al-Qur’an menyebut keletihan berlapis yang ditanggung ibu sebagai pengakuan ilahiah atas kerja sunyi yang sering luput dari pandangan manusia. Dari rahim dan dekapan ibu pula nilai pertama ditanamkan; karena itu, ibu disebut sebagai madrasah al-ula, sekolah awal tempat karakter dan kemanusiaan dibentuk.
Filsafat melihat keibuan sebagai bentuk altruisme paling radikal. Dalam pengalaman keibuan, seorang perempuan mengalami “pembelahan diri”: tubuhnya menjadi ruang bagi kehidupan lain, waktunya terpecah, dan identitas pribadinya dinegosiasikan demi keberlangsungan orang lain.
Emmanuel Levinas, filsuf besar abad 20, menyebut etika sebagai tanggung jawab terhadap yang lain—dan keibuan adalah wujud paling konkret dari etika tersebut: mencintai sebelum mengenal, memberi sebelum diminta, dan bertahan bahkan ketika tak dipuji.
Ibu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, mewariskan bahasa, nilai, luka, sekaligus harapan. Tanpa ibu, sejarah manusia tidak hanya terputus secara biologis, tetapi juga kehilangan makna keberlanjutannya.
Namun dunia modern menghadirkan paradoks yang menyakitkan. Peran ibu meluas—sebagai pekerja, profesional, dan penggerak ekonomi—tetapi bebannya justru berlipat. Sosiologi mencatat fenomena second shift, ketika ibu yang bekerja tetap memikul sebagian besar pekerjaan domestik.
Data global menunjukkan bahwa perempuan melakukan hampir tiga kali lebih banyak kerja tak berbayar dibanding laki-laki. Di saat yang sama, tekanan kesehatan mental meningkat; banyak ibu berjuang dalam diam menghadapi depresi pascamelahirkan, kelelahan emosional, dan rasa bersalah yang diproduksi oleh ekspektasi sosial. Ironisnya, di tengah puja-puji tentang “ibu yang kuat”, ruang untuk mengakui rapuhnya seorang ibu justru semakin sempit.
Karena itu, Hari Ibu tetap perlu diperingati. Bukan untuk meromantisasi, melainkan untuk menciptakan jeda refleksi kolektif—agar kita berhenti sejenak dari rutinitas dan menyadari cinta yang terlalu sering dianggap sebagai sesuatu yang “sudah sewajarnya”.
Hari Ibu juga menjadi momentum advokasi, ruang untuk menyuarakan isu kematian ibu, kesehatan mental maternal, dan keadilan dalam dunia kerja. Lebih dari itu, ia adalah ritual rekoneksi emosional: upaya menyembuhkan jarak antara anak dan ibu, antara manusia dan asal-usulnya.
Cara dunia merayakan Hari Ibu mencerminkan cara dunia memandang keibuan. Di Jepang, anak-anak menggambar potret ibu sebagai simbol melihat ibu apa adanya. Di Thailand, Hari Ibu bertepatan dengan ulang tahun Ratu Sirikit, menjadikan ibu sebagai simbol kebangsaan. Di Meksiko, serenada dinyanyikan sejak subuh sebagai penghormatan komunal yang hangat. Sementara di Indonesia, Hari Ibu berakar pada sejarah perjuangan perempuan—sebuah pengingat bahwa keibuan juga berkaitan dengan keberanian, daya juang, dan perubahan sosial.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan: ibu adalah manusia. Pemujaan berlebihan yang menempatkan ibu sebagai “malaikat tanpa sayap” justru bisa menjadi beban baru. Ibu bisa lelah, marah, ragu, bahkan gagal. Mengizinkan ibu menjadi manusia seutuhnya—dengan segala keterbatasannya—adalah bentuk penghormatan yang paling jujur.
Hari Ibu juga perlu merangkul mereka yang tak terlihat: ibu angkat, guru, kakak perempuan, serta perempuan yang merawat dengan cinta tanpa ikatan biologis, juga mereka yang masih memendam doa untuk menjadi ibu. Sebab keibuan, pada akhirnya, adalah tentang memberi ruang hidup bagi yang lain.
Di Hari Ibu, seorang ibu mungkin tidak meminta apa-apa. Namun jika dunia mau sejenak mendengar, harapannya sederhana: diperlakukan dengan adil, dipahami sebagai manusia, dan diakui bukan hanya jasanya, tetapi juga keberadaannya. Karena di balik setiap peradaban yang bertahan, selalu ada seorang ibu yang lebih dulu belajar bertahan—dalam diam, dalam cinta, dan dalam kesetiaan yang tak selalu terlihat.(*)





