SolilokuiVeritas

Somaliland, Paradoks Kedaulatan di Tanduk Afrika

Dikenal sebagai wilayah otonom Somalia selama puluhan tahun, Somaliland kini mendobrak pintu diplomasi internasional. Lantas, apa rencana yang disiapkan Israel atas Somaliland?

WWW.JERNIH.CO –  Somaliland berdiri sebagai salah satu fenomena geopolitik paling unik di dunia modern. Secara de facto, wilayah ini adalah sebuah negara yang berfungsi penuh dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, dan sistem demokrasi yang stabil. Namun, secara de jure atau di mata hukum internasional, Somaliland masih dianggap sebagai bagian dari Republik Federal Somalia.

Eksistensinya menciptakan teka-teki diplomatik yang panjang, di mana sebuah wilayah berhasil membangun negara yang relatif aman dan demokratis di tengah kawasan Tanduk Afrika yang sering kali dilanda konflik, namun tetap terisolasi secara formal dari komunitas global.

Sejarah berdirinya Somaliland berakar pada perbedaan masa kolonial yang kontras. Wilayah utara ini dulunya merupakan protektorat Inggris (British Somaliland), sedangkan wilayah selatan berada di bawah kekuasaan Italia.

Pada 26 Juni 1960, British Somaliland sebenarnya telah meraih kemerdekaan penuh dan diakui oleh puluhan negara. Namun, euforia nasionalisme membawa mereka untuk bersatu dengan wilayah selatan hanya lima hari kemudian guna membentuk “Somalia Raya”.

Persatuan ini sayangnya berakhir tragis; di bawah rezim diktator Siad Barre pada 1980-an, penduduk utara mengalami penindasan sistematis dan pembantaian massal. Ketika rezim tersebut runtuh pada tahun 1991, rakyat Somaliland memutuskan untuk membatalkan persatuan mereka dan memproklamasikan kembali kemerdekaannya pada 18 Mei 1991.

Secara teknis, Somaliland telah memenuhi syarat negara berdasarkan Konvensi Montevideo, karena memiliki populasi tetap, wilayah yang jelas, dan pemerintahan efektif. Namun, pengakuan internasional tetap menjadi ganjalan utama.

Hingga penghujung tahun 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Afrika tetap mempertahankan sikap untuk mengakui integritas wilayah Somalia, khawatir bahwa pengakuan terhadap Somaliland akan memicu efek domino gerakan separatis di seluruh benua Afrika.

Perubahan drastis terjadi pada Desember 2025, ketika Israel menjadi negara pertama yang secara resmi memberikan pengakuan diplomatik. Langkah berani ini tidak hanya memberikan legitimasi baru bagi Hargeisa, tetapi juga memicu ketegangan regional dan pergeseran aliansi di Timur Tengah serta Afrika.

Keputusan Israel untuk memberikan pengakuan resmi kepada Somaliland pada akhir 2025 bukanlah sekadar pengakuan atas kemerdekaan suatu wilayah, melainkan sebuah kalkulasi geopolitik yang sangat tajam. Alasan paling mendesak di balik langkah ini adalah kepentingan militer dan keamanan nasional Israel.

Dengan posisi geografis Somaliland yang hanya berjarak 300 hingga 400 kilometer dari Yaman, Israel kini memiliki akses strategis untuk membangun “pangkalan pertahanan depan”. Langkah ini memungkinkan militer Israel memantau aktivitas kelompok Houthi dan pengaruh Iran secara lebih dekat, sekaligus memperkuat keamanan di Laut Merah—sebuah jalur urat nadi pelayaran global yang vital bagi kapal-kapal dagang yang berafiliasi dengan Israel dari ancaman serangan drone maupun rudal.

Namun, di balik kerja sama keamanan tersebut, muncul spekulasi yang sangat kontroversial mengenai rencana relokasi warga Gaza. Terdapat laporan mengenai “kesepakatan konsesi” yang menyebutkan bahwa Somaliland bersedia menjadi tujuan penempatan pengungsi Palestina sebagai imbalan atas pengakuan kedaulatan yang telah mereka idamkan selama 34 tahun.

Meskipun belum ada pernyataan tertulis yang dipublikasikan secara resmi, indikasi kesiapan pejabat di Hargeisa untuk menampung populasi besar dari Gaza telah memicu kecaman luas dari dunia internasional, yang memandang hal ini sebagai solusi paksa yang melanggar hak-hak asasi manusia demi ambisi pengakuan diplomatik.

Secara diplomatik, pengakuan ini merupakan bagian dari upaya Israel memperluas pengaruh “Abraham Accords” ke Benua Afrika. Somaliland, yang memiliki penduduk mayoritas Muslim Sunni namun tetap menjalankan tradisi demokrasi yang stabil, dipandang sebagai mitra ideal untuk memperluas jaringan sekutu Israel di dunia Islam.

Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, secara terbuka menyambut peluang ini dengan menyatakan kesiapan negaranya untuk bergabung dalam pakta perdamaian tersebut. Dengan menjadi “pionir” yang memecah kebuntuan diplomatik selama puluhan tahun, Israel berharap dapat memicu efek domino bagi negara lain yang sudah memiliki hubungan dagang dengan Somaliland—seperti Uni Emirat Arab, Ethiopia, dan Inggris—untuk segera mengikuti jejak mereka.

Terakhir, langkah ini memberikan alternatif strategis bagi blok Barat di tengah menurunnya pengaruh mereka di Djibouti akibat ekspansi militer dan ekonomi China. Pelabuhan Berbera kini muncul sebagai kandidat kuat pangkalan militer alternatif bagi Israel dan sekutunya, termasuk potensi dukungan dari Amerika Serikat di masa depan.

Meskipun demikian, langkah ini tidak berjalan tanpa hambatan. Reaksi keras muncul dari berbagai penjuru; Somalia menganggapnya sebagai serangan terhadap kedaulatan, sementara PBB dan Uni Afrika mengkhawatirkan risiko kekacauan regional. Negara-negara besar seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi pun secara tegas menolak langkah tersebut, memandangnya sebagai campur tangan yang dapat merusak stabilitas sensitif di kawasan Tanduk Afrika.

Dari sisi demografi dan sosial, Somaliland dihuni oleh sekitar 5,7 juta jiwa yang dikenal tangguh dan mandiri. Meskipun berada di lingkungan yang tidak stabil, masyarakatnya berhasil menjaga perdamaian melalui perpaduan unik antara sistem demokrasi modern dan hukum adat tradisional yang disebut Xeer.

Ibu kotanya, Hargeisa, telah bertransformasi menjadi pusat kegiatan yang aman bagi warga asing. Secara ekonomi, Somaliland memang masih tergolong negara berpenghasilan rendah dengan mata uang Shilling Somaliland (SLSH) yang belum diakui internasional.

Namun, keterbatasan ini justru melahirkan inovasi; masyarakatnya menjadi salah satu pengguna transaksi digital dan mobile money paling mahir di dunia untuk mengatasi tantangan inflasi dan ketiadaan sistem perbankan global.

Potensi masa depan Somaliland terletak pada keunggulan strategis dan kekayaan alamnya yang melimpah. Terletak di tepi Teluk Aden, Somaliland menguasai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menuju Terusan Suez. Pelabuhan Berbera, yang kini dikembangkan bersama investor global, menjadi aset vital bagi Ethiopia yang tidak memiliki garis pantai.

Di bawah permukaan tanahnya, penelitian geologi menunjukkan cadangan minyak dan gas bumi yang menjanjikan, serta deposit mineral seperti gips, emas, dan batu mulia yang belum terjamah sepenuhnya. Dengan stabilitas yang tetap terjaga dan pengakuan internasional yang mulai terbuka, Somaliland bukan lagi sekadar “negara hantu”, melainkan kekuatan ekonomi baru yang sedang menanti waktu untuk bangkit sepenuhnya di panggung dunia.

Jadi jelas bahwa Israel sedang ingin “bermain-main” dan tergiur untuk memaksakan kehendaknya.(*)

BACA JUGA: Netanyahu Akui Somaliland, Banyak Negara Dunia Mengutuk Langkah Israel

Back to top button