SolilokuiVeritas

The  Guardian

Ketika Apple bersiap meluncurkan iPad, Moore diundang untuk menciptakan versi aplikasi The Guardian untuk perangkat baru ini— dan waktunya sangat sempit. Alih-alih memindahkan semua konten secara tergesa-gesa, Moore membuat keputusan berani: mempersempit cakupan hanya pada kekuatan visual The Guardian.  Ia menciptakan aplikasi Guardian Eyewitness, yang setiap harinya menampilkan satu foto berita pilihan, disertai dengan narasi di balik layar pengambilannya.

Oleh      :  Edhy Aruman

JERNIH– Di dunia produk digital, Jon Moore mungkin tak langsung terlintas di benak publik seperti Steve Jobs atau Elon Musk. Tapi di balik layar transformasi salah satu media paling progresif di dunia, ada jejak tangan dinginnya yang tak bisa diabaikan.

Jon Moore adalah rekanan (partner) di Silicon Valley Product Group (SVPG) dan dikenal luas berkat kiprahnya memimpin transformasi digital The Guardian.  Di buku “Empowered: Ordinary People, Extraordinary Products”, Marty Cagan, tokoh terkemuka dalam dunia pengembangan produk teknologi, menyebutnya sebagai “salah satu transformasi paling mengesankan yang pernah saya saksikan.”

Moore bergabung dengan The Guardian pada Juni 2007, tepat di saat dunia mulai memasuki era revolusioner setelah peluncuran iPhone.  The Guardian sendiri, dengan sejarah panjang dan sikap editorial yang progresif, memutuskan untuk menempuh jalur yang tidak konvensional: menolak sistem paywall. Filosofi mereka sederhana tapi radikal: “jangkauan dulu, pendapatan kemudian.”

Dalam konteks inilah Moore bekerja—membangun masa depan digital tanpa kehilangan esensi jurnalisme. Namun, bukan tanpa tantangan. Bersama tim teknologi dan produk yang baru direkrut — banyak di antaranya berasal dari startup, Google, atau Microsoft—Moore menghadapi situasi budaya yang kompleks.

Staf editorial lama merasa resah dengan cepatnya perubahan dan mempertanyakan motivasi kolega baru mereka yang berbicara dalam istilah “sprint,” “MVP,” dan “user journey.”

Di sinilah Moore mengambil peran krusial: sebagai jembatan antara dunia redaksi dan dunia teknologi. Ia bukan hanya manajer produk, tapi juga diplomat internal yang membawa dua dunia berbeda untuk berdialog demi satu tujuan bersama.

Langkah besarnya dimulai saat ia ditugaskan memimpin strategi mobile The Guardian. Moore menyadari bahwa momen ini adalah peluang langka untuk membuktikan nilai jurnalisme dalam bentuk digital.  Ia mengembangkan aplikasi iPhone pertama untuk The Guardian, dengan bekerja erat bersama Apple. Fokusnya jelas: menyuguhkan pengalaman pengguna yang unggul dan memanfaatkan kekuatan fotografi berita.

Ia menambahkan fitur inovatif—seperti kemampuan mengunduh konten penting untuk dibaca offline—yang terbukti menjadi pembeda besar dari pesaing. Alih-alih sekadar RSS reader, aplikasinya menjadi representasi nyata jurnalisme digital masa depan.

Hasilnya? Jutaan unduhan. Aplikasi itu kerap ditampilkan oleh Apple dalam kampanye globalnya, dan diakui sebagai salah satu terobosan aplikasi berita yang paling elegan. Tapi Moore tak berhenti di situ.

Ketika Apple bersiap meluncurkan iPad, Moore diundang untuk menciptakan versi aplikasi The Guardian untuk perangkat baru ini— dan waktunya sangat sempit. Alih-alih memindahkan semua konten secara tergesa-gesa, Moore membuat keputusan berani: mempersempit cakupan hanya pada kekuatan visual The Guardian.

Ia menciptakan aplikasi Guardian Eyewitness, yang setiap harinya menampilkan satu foto berita pilihan, disertai dengan narasi di balik layar pengambilannya.

Bersama tim kecil yang terdiri dari dirinya sebagai PM, satu desainer, dan tiga insinyur, Moore bergerak cepat membangun sistem dan antarmuka yang intuitif. Ia membina kepercayaan dengan tim fotografi dan menghindari gangguan dari manajemen senior hingga aplikasi siap diluncurkan.

Hasilnya luar biasa: Guardian Eyewitness dipuji langsung oleh Steve Jobs saat peluncuran iPad sebagai “aplikasi yang keren,” sebuah pengakuan langka dari sang legenda.

Namun kontribusi terbesar Moore bukan hanya aplikasi yang viral atau pujian dari Apple. Ia berhasil menanamkan kepercayaan dalam organisasi bahwa produk digital The Guardian bisa sebanding dengan jurnalisme cetaknya.

Dengan cara memimpin yang rendah hati namun visioner, ia memulihkan keyakinan staf editorial bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan sekutu dalam misi mereka.

Keberhasilan ini menjadi titik balik. The Guardian yang semula berjuang dalam lanskap digital, kini mampu berdiri sejajar dengan media global lainnya, bahkan memimpin dalam beberapa hal. Jurnalisme mereka kini dibaca oleh jutaan pengguna mobile, bukan karena strategi pemasaran yang mahal, melainkan karena produk digital mereka layak untuk diakses, dinikmati, dan dihargai.

Pada 2025, Jon Moore tetap menjadi figur penting dalam citra produk global—bukan karena panggungnya besar, tetapi karena pengaruhnya terhadap praktek terbaik yang berkelanjutan.

Ia kini menginspirasi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia melalui SVPG, dengan prinsip yang sama yang pernah membalik arah salah satu media terbesar di dunia.

Sementara The Guardian, yang pernah diguncang oleh revolusi media, kini memimpin dengan desain modern, pengalaman pengguna yang unggul, dan strategi mobile-first yang kuat. Ini bukan kebetulan; ini hasil dari pondasi digital yang kokoh, dipasang tahun-tahun sebelumnya—oleh seseorang yang bekerja tanpa sorotan, tetapi membangun transformasi yang mengubah segalanya.

Apa yang membuat kisah Jon Moore begitu menginspirasi adalah bahwa ia bukan “penemu” teknologi baru. Ia tidak menciptakan iPhone, tidak membangun algoritma pencarian, tidak menciptakan media sosial baru. Tapi ia memahami bagaimana menyatukan nilai, teknologi, dan manusia—dan dari sanalah lahir produk yang tak hanya berfungsi, tapi berdampak.

Jon Moore membuktikan bahwa kekuatan sesungguhnya dalam dunia produk bukan terletak pada ide besar yang menggelegar, tetapi pada kejelian memahami konteks, keberanian mengambil keputusan sulit, dan kemampuan membangun jembatan di saat banyak orang membangun tembok.

 Ia adalah bukti bahwa orang biasa—dengan dedikasi, empati, dan visi—bisa menciptakan hal-hal luar biasa. Dan mungkin, itu adalah pelajaran paling berharga dari seluruh transformasi digital The Guardian. [ ]

Back to top button