
Seorang jendral TNI mengirim mobil untuk Ustadz Husin, lengkap dengan STNK dan BPKB. Supir itu memberi tahu ke ustadz Husin mobil pemberian dari Bapak–yang dia maksud adalah seorang jendral yang sedang berada di puncak karirnya. Ustadz Husin masuk ke dalam rumahnya membawa beberapa botol madu lalu di taruh di mobil itu. Ia berkata, “Sampaikan salam dan terimakasih kepada Bapak. Saya ada mobil di rumah, tapi Insya Allah, Bapak perlu madu.”
Oleh : Geisz Chalifah

JERNIH–Orang seperti itu tidak berdiri di atas kekuasaan; ia berdiri di atas akhlak. Dan di hadapan akhlak yang hidup; jabatan setinggi apa pun kehilangan maknanya.
Saya adalah salah satu orang yang menghindari bicara agama di ruang publik. Bila saya bicara di TV atau di media mana pun, yang saya bawa adalah data. Setidaknya saya tahu diri; karena ada ayat Al-Qur’an yang mengatakan: “Wahai orang yang beriman, janganlah engkau mengatakan apa -apa yang tidak engkau perbuat; karena sesungguhnya murka Allah…”
Jangan tanya saya ayat itu nomor berapa dan di surat apa; saya tidak hafal. Tapi ayat itu membuat saya sangat berhati-hati bila bicara soal agama; terlebih memberi tafsir atau menggunakan ayat sebagai alat pembenaran pendapat pribadi. Al-Qur’an dijadikan legitimasi opini; saya menghindari hal semacam itu. Paling tidak saya khawatir “digampar malaikat”.
Namun saya menyukai dan menghormati mereka yang berada di medan dakwah; terutama para ustadz atau ulama yang konsisten; yang antara ucapan dan perilaku sehari-harinya benar-benar berkesesuaian. Di antara orang-orang seperti itu adalah Ustadz Husin Alatas.
Ustadz Husin tidak mau dipanggil habib; tidak mau dicium tangannya; tidak mau mendapat perlakuan berlebihan; dan tidak mau menerima bayaran di mana pun ia berceramah. Saya mengenalnya sudah sangat lama; sejak akhir tahun 1990-an.
Suatu waktu Ustadz Husin mengajak saya bicara dan menyampaikan sebuah amanat. Ia berniat menjual rumah yang ia tinggali; rumah besar dan relatif baru. Ustadz berkata; bila saya tidak panjang umur; rumah ini tolong dijual; jika laku; 50 persennya untuk umat; setengahnya lagi untuk keluarga.
Rumah itu benar-benar laku; dan niat itu ia tunaikan sepenuhnya.
Pada kesempatan lain; saat membangun rumah tersebut; ia kehabisan dana. Ia berniat menjual mobilnya. Seseorang menawar Rp120 juta; mobil itu tidak dijual. Lalu ada pembeli lain menawar Rp90 juta; dan mobil itu justru ia jual.
Saya bertanya; mengapa tidak dijual kepada penawar pertama yang harganya jauh lebih tinggi? Ustadz Husin menjawab,”Yang menawar pertama adalah murid saya.”
Ia tidak ingin orang membeli mobilnya dengan harga tinggi; karena pembelinya adalah jamaah pengajiannya. Ia menjaga dirinya dari hal semacam itu.
Seorang jendral TNI mengirim mobil untuk Ustadz Husin, lengkap dengan STNK dan BPKB. Supir itu memberi tahu ke ustadz Husin mobil pemberian dari Bapak–yang dia maksud adalah seorang jendral yang sedang berada di puncak karirnya. Ustadz Husin masuk ke dalam rumahnya membawa beberapa botol madu lalu di taruh di mobil itu. Ia berkata, “Sampaikan salam dan terimakasih kepada Bapak. Saya ada mobil di rumah, tapi Insya Allah, Bapak perlu madu.”
Supir itu pulang dengan membawa kembali mobil itu berikut hadiah madu dari Ustadz Husin.
Jauh sebelumnya; saat masih tinggal di Cawang Bawah; Jalan Dewi Sartika; masuk gang yang menurun ke bawah; dekat kali. Beberapa orang sedang berkumpul di rumahnya. Sopirnya datang mengantar uang dalam amplop dari hasil penjualan madu; jumlahnya satu setengah juta rupiah. Amplop itu langsung diberikan Ustadz Husin kepada salah satu tamu. “Ini buat ongkos melahirkan istri kamu yang sedang di rumah sakit. Untuk yang lain; besok saja datang lagi; Insya Allah besok saya sudah ada rezeki lainnya.”
Sopir Ustadz melongo. Setelah tamu-tamu pergi; ia protes. “Afwan Ustadz; listrik rumah belum dibayar; oli mobil belum diganti.” …dan seterusnya.
Ustadz Husin menjawab sambil tersenyum; Allah Maha Pemurah; besok Insya Allah akan ada rezeki lainnya.
Saya hampir tidak pernah menemukan orang yang sedemikian royal; dalam arti tidak berhitung sama sekali soal kebutuhan dirinya. Tangannya sangat terlepas.
Seorang teman saya memberi perumpamaan; Ustadz Husin Alatas adalah ustadz TV normal; ada suara; ada gambar. Apa yang ia katakan; itulah yang ia lakukan. Berbeda dengan ustadz TV rusak; yang hanya ada suaranya; tapi tidak ada gambarnya; alias hanya bintik-bintik hitam. Perilakunya tidak sesuai dengan perkataannya.
Saya memberi contoh orang seperti itu adalah “Ustad” HH Almuzabzab; yang bahkan sudah tidak pantas lagi dipanggil ustadz. HH Almuzabzab lebih layak disebut politisi penipu publik ketimbang seorang da’i.
Suatu pagi saya diundang musyawarah kerja Radio Silaturahim (Rasil Am 720) untuk memberi materi. Saya masih bertemu orang yang sama dengan perilaku yang sama dengan kehangatan yang sama. Orang seperti itu jauh mendapatkan lebih penghormatan dari saya ketimbang Jokowi sekalipun.
Orang seperti itu tidak berdiri di atas kekuasaan; ia berdiri di atas akhlak. Dan di hadapan akhlak yang hidup; jabatan setinggi apa pun kehilangan maknanya. [ ]





