Spiritus

Masih Merasa Ngenes Karena Miskin Harta? Ini Solusinya

Oleh: KH Dr Ahmad Imam Mawardi

ADA orang yang memamerkan kekayaan dan kejayaannya karena menjadi orang dekatnya pengusaha besar dan pejabat besar. Dia merasa tak butuh kepada orang lain kecuali pada pengusaha dan pejabat besar itu.

Sesekali dia memandang remeh orang yang harta dan kekuasaannya di bawah dirinya. Manusia model ini banyak sekali. Tapi apakah semua orang memandangnya sebagai orang besar dan hebat juga? Belum tentu.

Memang ada sebagian orang yang merasa dirinya kecil dan terhina saat bertemu dan berkumpul dengan orang seperti ini. Tak jarang yang kemudian merasa ngenes dan mengiba agar dirinya bisa mendapatkan percikan harta dan kekuasaan dari orang itu. Lahirlah mental budak dan mental penjilat, lalu jatuhlah dia pada posisi hina dalam makna yang sesungguhnya.

Miskin bukanlah aib, sebagaimana tidak menjadi pejabat bukan sebuah dosa. Lalu alasan apa yang membenarkan kita merasa ngenes terhina karena tak punya harta dan jabatan. Cobalah definisikan kemiskinan dan kekayaan menurut indikator keagamaan, merujuk pada al-Qur’an, al-Hadits dan dawuh para ulama. Kita akan kaget dan berhenti merasa ngenes terhina karena kekurangan harta dan tak punya kuasa.

Teringatlah saya pada sebuah kisah, yakni saat Abu Hazim saat dihina seseorang dengan ucapan: “Kamu miskin.” Abu Hazim dengan tersenyum berkata: “Bagaimana aku miskin, sementara Bos (majikan) saya super kaya dan super kuasa?” Orang yang menghinanya kaget dan penasaran siapa majikan dari Abu Hazim itu.

Lalu Abu Hazim membaca ayat: “Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di Bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 6)

Adakah yang lebih kaya dan kuasa dibandingkan dengan Allah? Karena itu, orang yang merasa ngenes sedih dengan kemiskinan harta hendaklah mengkayakan hatinya dengan tauhid yang benar. Jangan banggakan bos dan relasi hebat melebihi bangganya kita menjadi hamba Allah SWT. Dengan memiliki Allah Yang Mahakuasa dalam hati kita, maka kita kaya. Jangan merasa terhina. Kalau yang kita miliki hanya bos, teman atau relasi kaya serta kuasa namun kita kehilangan Allah, sungguh kita adalah miskin dalam makna yang sesungguhnya Salam, AIM. [*]

* Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close