Spiritus

Salat Tarawih Digelar di Tengah Reruntuhan Masjid-masjid Gaza

  • Di antara reruntuhan masjid-masjid Gaza, warga Palestina mendirikan tempat-tempat sholat di dalam tenda setelah Israel menargetkan lebih dari 1.015 masjid selama dua tahun terakhir.
  • Ramadan hari ini akan menjadi Ramadan pertama yang berlalu di Gaza setelah jeda dalam kampanye pemusnahan Israel.

JERNIH – Warga Palestina di Jalur Gaza melaksanakan salat Tarawih pertama di bulan Ramadan di tengah reruntuhan masjid yang hancur dan di dalam tenda-tenda darurat, di tengah kehancuran yang meluas akibat genosida Israel selama lebih dari dua tahun. Saat ini sekitar 1,9 juta dari 2,3 juta penduduk Jalur Gaza tinggal di tenda-tenda reyot tanpa kebutuhan pokok.

Kegiatan salat tarawih dilakukan para jamaah Palestina di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki pada Selasa (17/2/2026) malam, setelah Mufti Agung Yerusalem dan Wilayah Palestina yang Diduduki, Muhammad Hussein, mengumumkan bahwa Rabu, 18 Februari, akan menandai hari pertama Ramadan.

Di tengah kondisi kemanusiaan yang mengerikan dan kehancuran yang meluas, bulan suci Ramadan tiba bagi penduduk Gaza yang babak belur setelah perang Israel baru-baru ini, dengan banyak pelanggaran dilaporkan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025.

Ramadan hari ini akan menjadi yang pertama di Gaza setelah jeda kampanye pemusnahan Israel, menyusul dua tahun perang, kelaparan akut, dan krisis kemanusiaan parah, yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan kelaparan di Kota Gaza di bagian utara Jalur Gaza. Banyak warga yang tidak mampu mendapatkan cukup makanan untuk berbuka puasa atau sahur.

Di antara reruntuhan masjid-masjid Gaza, warga Palestina mendirikan tempat-tempat sholat di tenda-tenda yang terbuat dari nilon dan kayu setelah Israel menargetkan lebih dari 1.015 masjid  selama dua tahun terakhir. Sementara pesawat pengintai Israel terbang di atas, mengganggu ketenangan. Meskipun demikian, para jamaah tetap memanjatkan doa dan permohonan untuk “pengurangan penderitaan, berakhirnya kesulitan, dan perbaikan kondisi bagi penduduk Jalur Gaza,” menurut Anadolu Agency .

Media pemerintah di Gaza melaporkan bahwa selama dua tahun pembantaian, Israel menghancurkan lebih dari 835 masjid dan merusak sebagian lebih dari 180 masjid lainnya.

Sejak gencatan senjata, Kementerian Wakaf Palestina dan warga setempat telah mendirikan tenda-tenda dari nilon dan kayu di atas masjid-masjid yang hancur, mengubahnya menjadi tempat sholat.

Di Masjid Agung Al-Omari di Kota Gaza, yang sempat menjadi sasaran pasukan Israel, warga Palestina melaksanakan salat Tarawih setelah menutupi bagian-bagian yang rusak dengan potongan nilon dan kayu.

Masjid Al-Omari adalah salah satu masjid terbesar dan tertua di Gaza, menempati peringkat ketiga terbesar di Palestina setelah Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Masjid Ahmad Pasha al-Jazzar di Acre (wilayah Palestina yang diduduki, 1948), dengan Masjid Mahmoudiya di Jaffa (wilayah 1948) yang ukurannya sebanding.

Pembangunan dimulai lebih dari 1.400 tahun yang lalu di lingkungan Al-Daraj di kota tua Gaza dan melewati enam fase transformasi arsitektur. Selama perang terakhir, masjid tersebut hampir hancur akibat bombardir Israel.

Muawiya Kashko, seorang jamaah dari lingkungan Zeitoun di Gaza, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa meskipun masjid bersejarah itu hancur, warga Palestina masih memilihnya untuk sholat, mengingat kesulitan yang dialami selama kampanye pemusnahan Israel. “Kami sekarat setiap hari,” kata Kashko.

Sheikh Rami Al-Jarousha, imam Masjid Al-Amin yang hancur di sebelah barat Kota Gaza, mengatakan Ramadan tahun ini memiliki karakter yang berbeda. Ia menekankan bahwa warga Palestina menghadapi keadaan sangat sulit karena blokade yang sedang berlangsung dan dampak pasca-perang.

Ia menyampaikan harapan agar Tuhan memberkati rakyat Palestina dengan keamanan dan stabilitas, dan menegaskan bahwa ibadah akan terus berlanjut di atas reruntuhan masjid yang hancur, menyebutnya sebagai tantangan dan bersikeras bahwa salat akan diadakan di mana saja, bahkan di ruang terbuka.

Back to top button