DesportareVeritas

Si Paling …. di Australian Open 2026

Dengan perpaduan antara pemain raksasa, pemain veteran, hingga pahlawan lokal yang kembali dari cedera, Australian Open 2026 menjadi edisi yang paling berwarna dalam satu dekade terakhir.

WWW.JERNIH.CO –  Australian Open 2026 kembali hadir di Melbourne Park dengan segala drama dan kemegahannya. Tahun ini, turnamen bukan sekadar soal siapa yang mengangkat trofi Norman Brookes atau Daphne Akhurst, melainkan tentang spektrum kontras yang dibawa oleh para pemainnya.

Berikut adalah ulasan profil para petenis di Australian Open 2026 berdasarkan berbagai kategori “Si Paling…”:

Si Paling Senior: Venus Williams (45 Tahun)

Panggung Melbourne Park menjadi saksi sejarah saat Venus Williams menginjakkan kaki di lapangan sebagai petenis tertua yang pernah berlaga di Australian Open. Di usia 45 tahun, pemegang tujuh gelar Grand Slam ini melampaui rekor Kimiko Date (44 tahun).

Meski peringkatnya sempat merosot, kehadirannya melalui jalur wildcard membuktikan bahwa gairah bertanding tidak mengenal tanggal kedaluwarsa.

Si Paling Muda dan Berbahaya: Iva Jovic (18 Tahun)

Di sisi lain spektrum usia, ada Iva Jovic dari Amerika Serikat. Remaja berusia 18 tahun ini menjadi salah satu pemain termuda di undian utama (Main Draw).

Jovic baru saja mencuri perhatian setelah menjuarai WTA 250 di Guadalajara dan kini berstatus pemain unggulan—sebuah lompatan luar biasa dari posisi di luar Top 200 hanya dalam waktu setahun.

Si Paling Kaya: Jessica Pegula dan Emma Navarro

Bicara soal kekayaan, status “terkaya” masih dipegang oleh dua srikandi Amerika Serikat, Jessica Pegula dan Emma Navarro.

Pegula adalah putri dari pemilik tim NFL Buffalo Bills, sementara Navarro merupakan putri dari miliarder Ben Navarro.

Meskipun berasal dari keluarga dengan aset miliaran dolar, keduanya tetap membuktikan integritas atletis mereka dengan bersaing di jajaran elit unggulan dunia.

Si Paling “Haus” Sejarah: Carlos Alcaraz & Jannik Sinner

 Carlos Alcaraz: Datang sebagai unggulan pertama, ia mengejar status sebagai pria termuda yang meraih Career Grand Slam (memenangkan keempat Grand Slam berbeda). Melbourne adalah potongan puzzle terakhir yang belum ia miliki.

Jannik Sinner: Sang juara bertahan (2024 & 2025) sedang membidik hattrick. Jika menang tahun ini, ia akan menyamai rekor Novak Djokovic sebagai petenis era terbuka yang memenangkan tiga gelar AO berturut-turut.

Si Paling “Lokal” (Tapi Impor): Maya Joint

Maya Joint menjadi sosok “paling Australia” yang baru di hati publik tuan rumah. Meski lahir di AS, ia memilih mewakili Australia dan kini menyandang status sebagai tunggal putri nomor satu Australia pertama yang menjadi unggulan di AO sejak Ashleigh Barty (2022).

Si Paling Jangkung: Giovanni Mpetshi Perricard (203 cm)

Petenis asal Prancis ini menjadi raksasa di Melbourne Park. Dengan tinggi badan mencapai 203 cm, servisnya bak peluru yang ditembakkan dari lantai dua.

Mpetshi Perricard memegang rekor servis tercepat di turnamen ini, menjadikannya lawan yang paling ditakuti saat memegang bola servis, terutama di lapangan keras yang cepat.

Si Paling Mungil (Tapi Mematikan): Yulia Putintseva (163 cm)

Berbanding terbalik dengan Perricard, Yulia Putintseva menjadi salah satu pemain dengan postur paling pendek di sektor putri. Namun, jangan remehkan kelincahannya.

Putintseva dikenal sebagai pemain yang paling “gigih” dan sulit ditembus pertahanannya, membuktikan bahwa tinggi badan bukan penghalang untuk bersaing di level elit.

Si Paling “Sultan” Media Sosial: Coco Gauff

Jika diukur dari pengaruh digital, Coco Gauff adalah yang “terpopuler”. Dengan jutaan pengikut, ia memiliki interaksi (engagement) tertinggi di media sosial dibandingkan petenis lainnya tahun ini.

Gauff bukan hanya atlet, tapi juga ikon fesyen dan aktivis yang suaranya paling didengar oleh generasi Z di seluruh dunia.

Si Paling Sering Main (Maraton): Thanasi Kokkinakis

Petenis tuan rumah ini dijuluki “Si Paling Maraton”. Berdasarkan statistik tiga tahun terakhir, Kokkinakis adalah pemain yang paling sering terlibat dalam pertandingan five-setters (lima set) di Australian Open.

Penonton selalu menantikan pertandingannya karena hampir pasti akan berakhir hingga larut malam dengan durasi lebih dari 4 jam.

Si Paling Jauh Perjalanannya: Nuno Borges (Portugal)

Secara geografis, Nuno Borges dari Portugal adalah salah satu pemain yang menempuh perjalanan terjauh untuk sampai ke Melbourne. Dari Lisbon ke Melbourne, ia harus melintasi jarak hampir 18.000 km.

Ini adalah tantangan fisik tersendiri untuk mengatasi jet lag demi bertanding di belahan bumi yang berbeda.

Si Paling “Comeback”: Nick Kyrgios

Setelah melewati serangkaian cedera panjang yang hampir membuat kariernya tamat, Nick Kyrgios menjadi pemain yang paling emosional kembali ke lapangan.

Ia memulai turnamen dengan peringkat yang sangat rendah namun mendapatkan dukungan “paling bising” dari publik Margaret Court Arena.(*)

BACA JUGA: Ada Asa Tenis di Tangan Janice Tjen

Back to top button