
Trump mungkin masih bisa menahan ego dan menunggu hasil perundingan Jenewa bersama Iran, jika tak diprovokasi oleh Netanyahu yang terus-menerus minta AS menyerang Iran. Inilah sosok licik dan provokator kelas berat dunia.
WWW.JERNIH.CO – Dunia sedang menyaksikan salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah modern Timur Tengah, dan di pusat badai tersebut berdiri satu figur yang keras kepala: Benjamin Netanyahu.
Dikenal dengan julukan “Bibi,” kepemimpinannya kini bukan lagi tentang keamanan nasional Israel, melainkan tentang survival politik pribadinya. Di bawah kendalinya, Israel terperosok ke dalam krisis moral dan kepemimpinan yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana ambisi kekuasaan dan kelicikan diplomatik menjadi bahan bakar utama yang mengancam stabilitas dunia.
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari kepemimpinan Netanyahu adalah upayanya yang gigih untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik terbuka dengan Iran. Data dan laporan diplomatik menunjukkan pola yang konsisten: Netanyahu secara sistematis memprovokasi Donald Trump—terutama setelah kembalinya Trump ke kekuasaan—dengan narasi “ancaman eksistensial” yang sengaja dibesar-besarkan.
Laporan dari TIME dan Associated Press mengungkap bahwa Netanyahu menggunakan data intelijen yang dipilih secara selektif untuk meyakinkan Trump bahwa diplomasi dengan Teheran telah mati. Puncaknya, pada 28 Februari 2026, serangan gabungan AS-Israel ke Iran menandai keberhasilan taktik Netanyahu dalam “mengunci” kebijakan luar negeri AS agar selaras dengan agenda militernya. Bagi Netanyahu, perang regional bukan lagi strategi pertahanan, melainkan tameng untuk menunda persidangan korupsinya yang kian menyudutkan.
Di dalam negeri, citra Netanyahu sebagai “Mr. Security” telah hancur lebur. Ia amat dibenci di rumah sendiri. Berdasarkan survei Israel Democracy Institute (IDI) pada akhir 2025, tingkat kepercayaan publik terhadap Netanyahu anjlok hingga angka 40%. Mayoritas warga Israel (sekitar 66%) menuntut penghentian perang di Gaza dan fokus pada pemulangan sandera—sesuatu yang terus diabaikan Netanyahu demi menjaga koalisi sayap kanan ekstremnya tetap utuh.
Sifat-sifat buruknya—narsisme politik, pengabaian terhadap institusi hukum, dan kecenderungan memecah belah masyarakat—telah memicu gelombang protes mingguan di Tel Aviv dan Yerusalem.
Rakyat Israel melihatnya sebagai sosok yang lebih peduli pada keberlangsungan jabatannya daripada nasib para sandera atau ekonomi negara yang kian merosot. Upayanya untuk mengubah undang-undang demi menghapus dakwaan penyuapan dan penipuan (Kasus 1000, 2000, dan 4000) adalah bukti nyata betapa ia rela merusak demokrasi Israel demi ambisi pribadi.
Secara internasional, Netanyahu telah membawa Israel menuju isolasi yang mengerikan. Data dari Pew Research Center (2025) menunjukkan bahwa di 24 negara yang disurvei, mayoritas penduduk dunia memiliki pandangan negatif terhadap kepemimpinannya. Di Eropa, tingkat ketidakpercayaan mencapai angka ekstrem, seperti di Turki (94%) dan Swedia (78%). Bahkan di Amerika Serikat, sekutu terdekatnya, lebih dari separuh populasi tidak lagi mempercayai kata-katanya.
BACA JUGA: Serangan ke Iran Agenda Netanyahu, AS dan Trump Hanya Antek-antek Israel
Kelicikan Netanyahu dalam memanipulasi narasi perang dan pengabaiannya terhadap peringatan internasional mengenai krisis kemanusiaan di Gaza telah mengubah wajah Israel dari negara yang mencari simpati menjadi negara paria di mata hukum internasional.
Kepemimpinannya tak hanya dalam ruang lingkup internal Israel; ini adalah beban bagi perdamaian dunia. Jika sejarah akan mencatat Netanyahu, ia kemungkinan besar tidak akan diingat sebagai pelindung bangsa, melainkan sebagai pemimpin yang membakar rumahnya sendiri hanya untuk memastikan kursinya tidak diambil orang lain.
Indikator paling tak bisa dibantah adalah perekonomian dalam negeri yang jeblog luar biasa. Di balik retorika militer yang menggebu-gebu, terdapat realitas ekonomi yang kelam bagi warga Israel.
Data dari Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan bahwa pada kuartal terakhir tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Israel mengalami stagnasi yang mengkhawatirkan. Angka pengangguran meningkat tajam, terutama di sektor teknologi yang selama ini menjadi tulang punggung negara. Netanyahu, yang dulu membanggakan diri sebagai arsitek kemakmuran ekonomi, kini justru menjadi penyebab utama pelarian modal (capital flight).
Keputusan Netanyahu untuk terus membiayai perang yang berkepanjangan dan memberikan subsidi besar-besaran kepada kelompok ultra-Ortodoks demi menjaga kursi koalisinya telah menciptakan defisit anggaran yang membengkak.
Lembaga pemeringkat kredit internasional seperti Moody’s dan Fitch telah berkali-kali menurunkan peringkat kredit Israel, sebuah sinyal merah bahwa ekonomi negara tersebut berada di ambang krisis sistemik.
Bagi rakyat kecil, ini berarti inflasi yang tak terkendali dan biaya hidup yang mencekik, sementara Netanyahu tetap bergeming di istananya, seolah-olah penderitaan ekonomi rakyat hanyalah “biaya yang diperlukan” untuk ambisi kekuasaannya.
Kelicikan Netanyahu tidak hanya berhenti pada diplomasi internasional, tetapi juga merambah ke psikologi massa. Ia mahir dalam teknik “politik ketakutan.” Setiap kali isu ekonomi atau skandal korupsinya mencuat ke permukaan, ia akan menciptakan eskalasi baru atau narasi ancaman keamanan yang mendesak. Dengan menjaga Israel dalam keadaan darurat permanen, ia berhasil membungkam kritik domestik dengan dalih “persatuan nasional di masa perang.”
Sifat manipulatif ini telah menciptakan polarisasi yang dalam. Di satu sisi, ia memprovokasi tokoh-tokoh seperti Trump untuk mengambil tindakan militer yang drastis, sementara di sisi lain, ia menyalahkan “pihak kiri” dan “media internasional” atas kegagalan domestiknya.
Rakyat Israel kini berada di persimpangan jalan: menyadari bahwa musuh terbesar bagi masa depan mereka mungkin bukan hanya ancaman dari luar, melainkan pemimpin yang duduk di kursi Perdana Menteri yang rela mengorbankan stabilitas ekonomi dan keamanan jangka panjang demi menghindari jeruji besi.(*)
BACA JUGA: Trump Frustrasi, Israel Serang Iran






