Crispy

Berhenti Nyerocos, Kurangi Risiko Penyebaran Covid-19

JERNIH – Kebiasaan berbicara lantang, tertawa terbahak-bahak atau mengobrol dengan suara keras sepertinya harus mulai dihilangkan. Dengan menghentikan kebiasaan itu, bisa menjadi salah satu cara mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19.

Sebuah studi baru, seperti dikutip Express.uk, kemarin, menemukan ada cara lain untuk mengatasi penyebaran Covid-19 yang dapat dilakukan secara individu. Cara ini bisa menjadi upaya yang efektif untuk mengurangi risiko penyebaran virus.

Studi itu dilakukan ilmuwan dari University of California Davis mengklaim bahwa berbicara dengan pelan dapat memiliki efek yang sama pada pengurangan transmisi seperti menggandakan ventilasi ruangan. Mereka menyarankan pengurangan enam desibel dalam tingkat bicara rata-rata.

“Temuan menunjukkan bahwa zona yang lebih tenang di ruang dalam ruangan berisiko tinggi seperti rumah sakit dan restoran, dapat mencegah penyebaran virus secara luas dengan tindakan ini,” ungkap studi itu.

World Health Organization (WHO) sudah memperbarui panduannya pada bulan Juli lalu, untuk mengakui adanya kemungkinan penularan virus corona baru melalui udara, seperti selama latihan paduan suara.

Penelitian baru ini menyatakan bahwa tetesan mikroskopis yang disemburkan saat berbicara menguap dan meninggalkan partikel aerosol yang cukup besar untuk membawa virus. Selain itu, penelitian menemukan peningkatan sekitar 25 desibel dalam kenyaringan selaras dengan laju emisi partikel hingga 50 kali lipat.

Studi itu juga mengingatkan bahwa tidak semua lingkungan dalam ruangan sama dalam hal risiko penularan aerosol. Ruangan kelas yang ramai tapi tenang jauh lebih aman daripada bar karaoke yang tidak ramai tapi mereka bernyanyi dan bersuara dengan keras.

Spesialis penyakit menular di University of Colorado, Jose L. Jimenez, PhD, mengungkapkan, tetap diam membuat 98 persen lebih kecil mengirimkan partikel di udara dibandingkan dengan berbicara dengan berbicara keras. Hampir sama efektifnya dengan penggunaan masker dalam hal memperlambat penyebaran Covid-19. “Yang benar adalah jika semua orang berhenti berbicara selama satu atau dua bulan, pandemi mungkin akan mati,” kata Dr. Jimenez. [*]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close