5 PUISI ULECENY

PERMAINAN BOLA API
Bulan 1 tanggal 7
bola api melompat dari satu pohon ke pohon lainnya
laksana naga cantik bercahaya
cahyanya pecah dalam butiran-butiran amarah
menjilat rumah, gedung-gedung bertingkat, Beverly Hills,
Santa Monica, Venice, West Hollywood
dan manusia pun melayang pontang panting
jalanan merah keemasan
asap mengawan tebal bergerak cepat berlawanan arah
api semakin memerah, percikannya menakjubkan
oh, Santa Ana
hembusan angin kencang robohkan angkuh sekejap
semua jadi debu
dalam renung, dunia tiada yang abadi
ketika percaya adanya Tuhan tidak bersarang di hati
ketika merasa mampu memiliki dunia seisinya
ketika merasa kuat menghancurkan yang lemah
begitulah penduduk kebun Hollywood
sang sutradara hidup memutarkan permainan bola apinya
musnah seketika
hijaunya alam menjelma abu membara
neraka nyata dalam pandang
masihkah, kita tidak menyadarinya?
sebuah rumah berpondasi agama masih berdiri kokoh
batin gigil dengan air mata.
Samawa, 14 012024
*
CATATAN REDAKTURIAL
Santa Ana Membakar Hollywood, Tapi Uleceny Menulisnya dengan Air Mata
Oleh Irzi
Ada yang membara dari puisi Uleceny ini, bukan hanya karena bola api melompat-lompat dari pohon ke pohon seperti naga cantik yang sedang atraksi laser show di langit Los Angeles, tapi karena di balik semaraknya metafora dan gemuruh visual yang ditawarkan, terselip sebuah teguran spiritual yang lembut namun tajam. Uleceny, nama pena dari Sulastri S.Pd, M.M. Inov—penulis asal Sumbawa yang juga dikenal sebagai aktivis sastra dan ketua berbagai lembaga literasi di NTB—menyulap fenomena kebakaran California menjadi alegori tentang kerakusan manusia, tentang Tuhan yang hadir bukan dengan petir, tapi lewat hembusan angin panas yang membawa kita berpikir ulang tentang makna kekuasaan dan kemapanan.
Puisi ini tidak bermain dalam struktur eksperimental yang rumit—ia justru memilih bentuk naratif dengan suasana yang kuat. Baris-barisnya bagaikan laporan jurnalis yang disusun oleh seorang penyair yang sedang tersedu. Uleceny memakai teknik pengulangan dan kontras secara subtil: dari ledakan visual Beverly Hills, Santa Monica, sampai Hollywood, lalu dipatahkan oleh “sebuah rumah berpondasi agama masih berdiri kokoh.” Inilah punchline rohani yang tidak hard-sell, tapi menyusup ke dalam logika pembaca—sebuah rumah di tengah reruntuhan itu bukan real estate, tapi iman.
Yang menarik, Uleceny memeluk semua agama dalam puisi-puisinya. Ia bukan sekadar seorang Muslim dari Samawa, tapi penulis yang punya intensi lintas iman. Dalam catatan biografinya, ia aktif membangun komunitas yang mewadahi keragaman bahasa dan spiritualitas. Tak heran dalam “PERMAINAN BOLA API” ini, kita tidak menemukan sekat agama sebagai klaim mutlak, melainkan suara batin universal tentang kerendahan hati di hadapan kekuasaan semesta. Teknik penyematan diksi semacam “neraka nyata dalam pandang” adalah deklarasi yang bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyadarkan.
Jika kita bicara tentang kekuatan puisi ini, maka kita bicara soal cara Uleceny menyulap tragedi menjadi renungan. Ia mengajak pembaca untuk meraba-raba: apakah kita hidup terlalu jauh dari perenungan spiritual? Apakah kita terlalu percaya pada dunia yang gemerlap hingga lupa bahwa “angin bisa membakar lebih cepat daripada niat bertobat”? Bayangkan, Hollywood—simbol industri hiburan dunia—dibakar habis dalam puisi ini bukan karena dosa, tapi karena kesombongan. Dan kita—si pembaca dari manapun—diingatkan untuk menata ulang kompas batin kita. Komikal? Mungkin tidak. Tapi cara ia menempatkan “Santa Ana” sebagai tokoh antagonis sekaligus malaikat pencabut ilusi itu—bisa dibilang elegan sekaligus brutal.
Membaca puisi Uleceny ini seperti menonton adegan slow motion dalam film bencana, tapi dengan suara latar doa yang lirih. Ia tidak sedang menakut-nakuti. Ia sedang membisikkan sesuatu ke dalam hati kita: “masihkah, kita tidak menyadarinya?” Dan di situlah letak keajaiban puisi ini—ia tidak mengajarkan, tidak menggurui, hanya bertanya sambil menunjuk api yang sudah menyala di depan mata.
2025
*
Puisi Ule Ceny lainnya:
ROMANSA PUTIH BIRU
untuk sebait puisi yang tak pernah terengkuh dalam biduk biru
masih saja larik-larik sajak putih biru terukir indah di bilik rindu
wanginya bunga pagi, setiap terlewati menghujam jantungku
membiru di masa putih biru
masih lekat membenam
tentang rambut keritingku
tergerai kuning keemasan
sepatu hitam tertawa malu-malu, namun bersih
dan wajah mungilku yang imut membisu
memesonakan puisi yang kau tulis dalam paragrafmu waktu biru
entahlah, usia semakin senja membiru
lembayung putih biru membingkai membisu merindu
saat kau sebut namaku kembali di larik puisimu
aku tersenyum haru
puisi itu bukan milikku.
Olat Rarang, maret 2013-2024
*
SURAT CINTA DARI MATA AIR CINTA PALESTINA
adakah kalian merasakan kelembutan getaran zat Tuhanmu?
dari air mata anak- anak palestina
menciptakan sungai-sungai surga bagi siapa saja
membasuh luka mereka
akan mengalirkan ia menuju telaga fidaus-Nya, kelak.
ataukah mata hati kita yang lalai?
genosida meluluhlantakkan para mujahid- mujahid Masjidil Aqsa
menghacurkan mata air yang jernih,
memancarkan air ilmu dan iman untuk menyegarkan jiwa-jiwa yang haus.
Dan ibu, tanah air yang tercabik,
Kehilangan bagian dari dirinya sendiri dalam serangan bom kejam itu
Masihkah kita termangu di sini?
Ketika kau mengantarkan getaran lukamu lewat kaca- kaca cermin yang memantulkan realitas.
Anak-anak terkepung misiu
Tua muda mengalirkan sungai darah di atas tanahnya sendiri
Kalian rampas hak- hak hidup mereka.
dan kau, aku
masih menikmati sajian berbuka ini, dengan bahagia
demi Allah
Tuhan memberikan jalan kepada kita, jalan cahayanya.
aku ingin kita meraihnya.
Dan luka yang terbuka, kian menganga, laksana api yang membakar hati.
menjilati seluruh ubun- ubun ingin.
relakan aku menjadi mata air yang mengalir disetiap air matamu.
akan kubasuh dengan doa-doaku, kelak tanahmu searoma zaitun dalam tiap munajadku.
Sumbawa, 130325
*
KALI BESAR JAKARTA
rambut keritingnya,
serasa benang kusut masut
merah bajunya, berubah warna
terlumuri debu
laksana kain tua lupa dicuci
jam 02.00 dini hari
hilir mudik susuri kali
ia pungut sisa sampah di depannya
laksana camar mencari makan
di antara riak air yang gelap
aku diam_
mataku mengamati lekuk gerakannya
menjelma kamera pengintai
penari setengah telanjang di sudut itu
serasa bayangan yang menipu cahaya
di depan Mercure Hotel
lelaki-lelaki tangguh memeras keringat
malam menjelma siang
lampu jalan menyala seperti bintang jatuh
dan tembang kenangan
mengalir seperti arus kali yang tak pernah lelah
kemudian berlalu tersapu bayu_
kali bersih Jakarta
malammu semakin senyap
aroma kopi tercampur bir
menjadi wangi-wangian petang
hidup pun berjalan pelan
selaksa perahu tua menantang arus
mereka tetap bertahan
meski pagi, masih jauh dari harapan
Kaliber Jakarta, 23 April 2025
*
RISALAH SEPOHON KAYU
setetes embun sejukkan daun-daun waktu sunyi
gigil merasuk batang pepohonan
melapukkan akar-akar kehidupan
sekarat pucuk-pucuk layu, sepi_
akulah laki-laki matahari
yang mencumbui embun
hangatkan tiap helai daunanmu
pancarkan kehangatan ketika gigil menemuimu di musim dingin
meski rindangmu meneduhkan perdu
meski buahmu meranting tiap-tiap tangkainya
meski biji-bijimu bertunas lagi
berartikah kau tanpa kehadiranku?
tidak sayang?
sebab kau, sepohon kayu dan aku mataharinya.
Sumbawa, 041124.
BIONARASI
Sulastri S Pd. M.M. Inov, dengan nama pena Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli 1976, hobby menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi puisi tunggal dengan judul “Rindu Perempuan Rumah Panggung” dan “Cinta Sebening Madu ( Nominasi Buku Satra Indonesia 2024)” Serta “Perempuan Penjaga Tradisi (Buku puisi pilihan dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2024). “dan cerpen tunggal “Merindang Rindu” ( Hyang Pustaka 2024), serta puluhan karya antologi bersama nasional.
Tim pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA, Pengagas penulisan buku satra puisi basa Samawa “RABASA”. Bersama Panre Satera Sumbawa.
Ketua Badan Seni dan Budaya PGRI se-Kabupaten Sumbawa. Ketua Wanita Penulis Indonesia cabang NTB. Ketua Guru Penggerak angkatan.10.