SolilokuiVeritas

Hari-Hari Terakhir Menjelang Pemberlakuan ART Indonesia-AS

Apabila ART berlaku, sepertinya tidak ada lagi rekan-rekan yang akan berteriak gagah “NKRI harga mati!”. Berbagai kebijakan ekonomi, politik, hingga standar makanan, alat kesehatan, bahkan perlindungan konsumen Muslim,  harus tun-duk patuh terhadap kebijakan AS. Pemerintah tidak lagi leluasa melakukan kerja sama ekonomi seperti free trade area dan perjanjian dagang lain tanpa restu AS. Bahkan kerja sama digital dengan negara ketiga selain AS, juga harus mendapatkan persetujuan negara itu. Sesuai analisis kami, 10 pasal UUD 1945 dilanggar ART Indonesia-AS,  dan bahkan Pembukaan UUD 1945 pun dilanggar.

Oleh     :  Rimawan Pradiptyo*

JERNIH– Tidak terasa, 30 April 2026, hari terakhir di bulan April telah lewat. Waktu berjalan demikian cepat sejak kami, Tim Peneliti Ekonomi, melakukan riset tentang Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia-USA mulai 21/02/2026. Section 7 ART mengatur bahwa 90 hari pasca penandatanganan ART maka ART akan berlaku apabila tidak ada usulan revisi maupun penolakan dari salah satu negara. Jika tidak salah hitung, 19 Mei 2026 ART genap 90 hari pasca-penandatanganan ART 19/02/2026.

Apabila ART berlaku, sepertinya tidak ada lagi rekan-rekan yang akan berteriak gagah “NKRI harga mati!”. Ketika ART berlaku, berbagai kebijakan ekonomi, politik, hingga standar makanan, alat kesehatan, bahkan perlindungan konsumen Muslim,  harus tunduk patuh terhadap kebijakan AS. Peme-rintah tidak lagi leluasa melakukan kerja sama ekonomi seperti free trade area dan perjanjian dagang lain tanpa restu AS.

Bahkan kerja sama digital dengan negara ketiga selain AS, juga harus mendapatkan persetujuan negara itu. Sesuai analisis kami, 10 pasal UUD 1945 dilanggar ART Indonesia-AS,  dan bahkan Pembukaan UUD 1945 pun dilanggar.

Ketika ART berlaku, dapat diperkirakan negara-negara selain AS dan Israel akan cenderung menjaga jarak. China dengan volume neraca perdagangan empat kali lipat dibanding AS akan menjauh. Australia yang mengimpor banyak produk pertanian juga akan menjauh. EU yang melalui CEPA akan berlaku Januari 2027 juga akan menjauh. Belum lagi Jepang dan Korea Selatan.

Jika sekadar menjauh tentu tidak begitu masalah. Namun masalah akan kompleks karena mereka bersiap melakukan retaliasi dagang dan investasi terhadap Indonesia. Konsekuensi ART adalah Indonesia harus menerapkan kebijakan kepanjangan tangan AS terhadap negara ketiga, yang notabene adalah rest of the world.

Berkaitan dengan tenggat waktu 19 Mei 2026, kami Tim Peneliti Ekonomi UGM yang fokus riset ART sejak 21/02/2026 akan melakukan upaya terakhir untuk mendiseminasikan hasil riset kami kepada publik. Inilah bentuk pertanggungjawaban kami sebagai akademisi kepada masyarakat.

Saat ini kami sedang menyempurnakan hasil analisis kami, yang nantinya akan kami unggah di researchgate agar bisa diakses banyak pihak. Kami juga akan mengompilasi video-video diskusi kami tentang ART dari beberapa platform podcast. Kami juga akan menulis opini di media masa terkait ART. Kami juga akan berusaha memenuhi undangan podcast ataupun diskusi-diskusi yang diadakan elemen masyarakat. Kami akan lakukan semua ini hingga jam 23.59 WIB tanggal 19 Mei 2026, semampu yang kami lakukan.

Pada kesempatan ini kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mengundang kami presentasi, ataupun memfasilitasi kami untuk mendiseminasikan hasil riset kami. Kami mohon maaf jika mungkin hasil riset kami dirasakan kontroversial atau mengganggu kedamaian suasana batin Bapak-Ibu sekalian. Mungkin kami salah dalam menganalisis, namun satu hal yang pasti, kami berusaha untuk jujur mengungkapkan hasil riset apa adanya.

Kami sadar, mungkin cita-cita sederhana kami untuk bisa wafat sebagai orang merdeka harus kami pupus. Namun kalaupun toh itu terjadi, kami telah berusaha melakukan yang bisa kami bisa lakukan. Mugi Gusti Allah paring pangapunten dumateng kita sedaya karena kita tidak mampu mempertahankan kedaulatan Indonesia dan kedaulatan sebagai orang merdeka. Nuwun. []

*Rimawan Pradiptyo, PhD, adalah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, lulusan University of York, Inggris.                    

Back to top button