
Bagi Netanyahu, membocorkan “kunjungan rahasia” bisa menjadi alat politik untuk menunjukkan pengaruh internasionalnya. Namun bagi UEA, menjaga jarak publik tetap diperlukan untuk meredam tensi dengan Iran dan menjaga stabilitas di kawasan Teluk.
JERNIH – Sebuah polemik diplomatik pecah antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait klaim kunjungan rahasia Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke negara Teluk tersebut. Kantor PM Netanyahu mengklaim pemimpin Israel itu telah melakukan kunjungan diam-diam di tengah berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran. Namun, pihak UEA dengan cepat membantah adanya pertemuan tersebut.
Menurut pernyataan kantor Netanyahu, sang Perdana Menteri bertemu dengan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, pada tanggal yang tidak ditentukan setelah pecahnya perang melawan Iran. Pertemuan ini disebut-sebut menghasilkan “terobosan bersejarah” dalam hubungan kedua negara.
Mantan juru bicara Netanyahu, Ziv Agmon, mengklaim turut mendampingi dalam perjalanan tersebut. Ia mendeskripsikan bahwa Netanyahu disambut dengan “kehormatan raja” di Abu Dhabi, bahkan Presiden Bin Zayed menjemputnya langsung menggunakan mobil pribadi dari pesawat menuju istana.
Sumber yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa pembicaraan berlangsung selama beberapa jam di Al Ain, sebuah kota oasis di dekat perbatasan UEA dengan Oman. Selain Netanyahu, para petinggi intelijen Israel juga dikabarkan aktif melobi Abu Dhabi. Kepala Mossad David Barnea dikabarkan mengunjungi UEA setidaknya dua kali pada Maret dan April untuk koordinasi aksi militer. Sementara Kepala Shin Bet David Zin diilaporkan mengunjungi UEA dalam beberapa pekan terakhir.
Informasi ini muncul tak lama setelah Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkap bahwa Israel telah mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personelnya ke UEA untuk menghadapi ancaman Iran.
Melalui kantor berita resmi WAM, UEA membantah tegas klaim tersebut. Abu Dhabi menegaskan bahwa hubungan mereka dengan Tel Aviv bersifat publik dan dilakukan dalam kerangka Abraham Accords yang resmi dideklarasikan.
“Hubungan ini tidak didasarkan pada pengaturan yang tidak transparan atau tidak resmi,” tulis laporan media pemerintah tersebut. Mereka juga membantah adanya kunjungan delegasi militer Israel ke negara itu. Meskipun begitu, WAM mengakui bahwa Netanyahu sempat menelepon Presiden Bin Zayed pekan lalu untuk menyampaikan solidaritas atas serangan Iran.
Iran, yang merupakan paman buyut dari kritik terhadap Abraham Accords, merespons kabar ini dengan kecaman tajam. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa klaim Israel tersebut mengonfirmasi apa yang sudah diketahui Teheran selama ini.
Araghchi memperingatkan bahwa “kolusi” dengan Israel melawan Iran adalah hal yang “tidak termaafkan” dan menyebut segala bentuk kesepakatan dengan Tel Aviv sebagai “perjudian yang bodoh”.






