Di Tengah Puing-puing dan Gencatan Senjata Rapuh, Gaza Bersiap Menyambut Takbir Idul Fitri

JERNIH – Untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, irama persiapan Idul Fitri mulai terdengar sayup-sayup di pasar-pasar Jalur Gaza. Di balik gang-gang sempit Kota Gaza, Khan Younis, hingga Deir al-Balah, suara para pedagang menjajakan jualannya mulai bersahutan, mencoba memanggil kembali memori perayaan sebelum perang menghanguskan segalanya.
Namun, Idul Fitri 1447 H kali ini bukanlah tentang kemewahan. Di bawah bayang-bayang kehancuran akibat genosida yang berlangsung lebih dari dua tahun, warga Gaza menyambut hari kemenangan dengan hati yang terkoyak antara kelegaan dan duka yang mendalam.
Di Pasar Zawiya yang bersejarah, kerumunan orang tampak memadati lapak-lapak pakaian bekas dan manisan sederhana. Pemandangan ini sekilas terlihat normal, namun para pemilik toko mengungkapkan fakta pahit: daya beli masyarakat telah runtuh.
“Orang-orang datang hanya untuk merasakan atmosfer Lebaran. Mereka ingin membuat anak-anak mereka bahagia, tapi harga sangat tinggi sementara kami tidak punya uang,” ujar Majd Abu Kwaik, pemilik toko pakaian di Kota Gaza, mengutip laporan The New Arab (TNA).
Blokade Israel yang bertahun-tahun diikuti perang besar telah melumpuhkan ekonomi. Barang pokok seperti gula, tepung, dan minyak goreng kini menjadi barang mewah. Bahkan Fseekh (ikan asin khas Lebaran di Gaza) harganya melonjak tajam karena nelayan tak bisa melaut dengan bebas. Banyak keluarga hanya berkeliling pasar tanpa membeli apa pun, sekadar untuk menghirup aroma Idul Fitri yang sudah lama hilang.
Di sebuah rumah yang setengah hancur di Deir al-Balah, tradisi menolak untuk mati. Sekelompok wanita berkumpul di meja dapur kecil, tangan mereka cekatan membentuk adonan Maamoul—kue kering tradisional isi kurma.
“Kami sudah lama tidak membuat kue Lebaran. Selama perang, kami mengungsi dan tidak ada tepung atau gula,” kenang Um Mahmoud Nassar, ibu lima anak. “Tahun ini kami berhasil mengumpulkan sedikit bahan. Meski jumlahnya kecil, ini membuat anak-anak merasa bahwa Idul Fitri tetap akan datang.”
Tak jauh dari sana, di sudut pengungsian yang sesak, Jawahir Abu Asi (39) sibuk mengolah ikan. Tradisi membuat ikan asin ia ubah menjadi bisnis kecil-kecilan demi menyambung hidup. “Pekerjaan ini memberi saya martabat. Saya merasa masih bisa melakukan sesuatu untuk keluarga saya,” tuturnya.
Persiapan Lebaran ini berlangsung di bawah gencatan senjata yang sangat rapuh. Meski pertempuran skala besar mereda, serangan sporadis Israel tetap terjadi. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan sedikitnya 670 warga Palestina tewas akibat penembakan dan pemboman sejak gencatan senjata diberlakukan.
Bagi warga Gaza, bekas luka perang ada di mana-mana. Idul Fitri kali ini ditandai dengan kursi kosong di meja makan milik anggota keluarga yang terbunuh, dan ratusan ribu orang yang masih harus merayakan hari raya di dalam tenda atau reruntuhan bangunan.
Di kamp pengungsian dekat Khan Younis, relawan mulai membagikan mainan sederhana bagi anak-anak. Aya al-Aqad, seorang mahasiswa yang kini tinggal di tenda, menyadari bahwa Lebaran kali ini tidak akan pernah sama lagi dengan masa lalu.
“Idul Fitri ini tidak akan seperti sebelum perang. Tapi kami mencoba menciptakan momen kebahagiaan sekecil apa pun,” kata Aya lirih. “Kami berharap Idul Fitri ini menjadi awal dari akhir penderitaan kami.”
Gaza tahun ini tidak meminta banyak. Di tengah dentuman yang sesekali masih terdengar dan harga-harga yang mencekik, doa mereka hanya satu: agar kemenangan Idul Fitri kali ini benar-benar membawa kedamaian yang abadi.






