Crispy

Dikucuri Hujan Terlebat Dalam 1000 Tahun, Cina Dilanda Banjir Dahsyat

Layanan transportasi di puluhan kota mengalami gangguan besar-besaran. Zhengzhou yang dekat dengan Sungai Kuning, harus menghentikan semua layanan kereta bawah tanah mereka pada Selasa (20/7) setelah hujan lebat dengan curah 200 milimeter turun hanya dalam satu jam. Bendungan Guajiaju dekat Zhengzhou dilaporkan runtuh.

JERNIH– Sedikitnya 12 orang tewas dan ribuan lainnya dievakuasi akibat banjir bandang di Provinsi Henan, Cina. Presiden Cina, Xi Jinping menyatakan bahwa banjir yang mematikan di Henan itu situasinya ‘‘sangat parah‘‘.

Cina dilanda banjir mematikan akibat hujan terlebat dalam 1.000 tahun, menurut stasiun cuaca negara itu. Provinsi Henan dengan ibu kotanya Zhengzhou, menjadi wilayah yang terdampak banjir paling parah. Hujan lebat menyebabkan banjir di jalan-jalan utama dan menyebabkan sungai-sungai besar meluap pada Selasa (20/7) lalu.

Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) melaporkan bahwa badai telah merusak bendungan Yihetan di dekat kota Luoyang. Mereka meperingatkan, “Bendungan itu bisa runtuh kapan saja,” setelah retakan sepanjang 20 meter muncul di bendungan tersebut.

Sedikitnya 12 orang tewas

Para pejabat di ibu kota Zhengzhou mengatakan 12 orang tewas dan lima lainnya luka-luka. Pemerintah pusat Cina meningkatkan tanggap darurat banjir dari level III ke level II pada Rabu (21/7).

Hujan deras nan dahsyat telah mengguyur Zhengzhou yang berukuran dua kali wilayah Austria dengan populasi 94 juta, sejak akhir pekan.

Layanan trasnportasi di puluhan kota mengalami gangguan secara besar-besaran. Zhengzhou yang dekat dengan Sungai Kuning, harus menghentikan semua layanan kereta bawah tanah mereka pada Selasa (20/7) setelah hujan lebat dengan curah 200 milimeter turun hanya dalam satu jam.

Bendungan Guajiaju dekat Zhengzhou dilaporkan runtuh, menurut kantor berita CGTN.

Sebuah video yang dibagikan secara luas di media sosial menunjukkan aliran air membanjiri salah satu stasiun kereta bawah tanah kota. Sekitar 10.000 warga di provinsi itu telah dievakuasi ke tempat penampungan, menurut Kantor Berita Xinhua.

Ribuan tentara PLA, petugas polisi dan petugas lainnya telah diterjunkan untuk membantu operasi penyelamatan di Henan, lapor media pemerintah, People’s Daily.

Presiden Cina Xi Jinping menyatakan pada Rabu (21/7) bahwa banjir yang mematikan di Henan situasinya ‘‘sangat parah‘‘. “Beberapa sungai telah melampaui tingkat pemantauan, beberapa bendungan jebol, sementara beberapa layanan kereta api telah terhenti dan penerbangan dibatalkan, menyebabkan banyak korban dan kerugian harta benda,” kata Xi. “Upaya pengendalian banjir menjadi sangat sulit.”

Henan adalah provinsi yang sangat padat penduduknya dan memiliki pusat transportasi utama. Provinsi ini juga merupakan basis utama untuk industri dan pertanian. Pembangunan kota dan perubahan penggunaan lahan telah meningkatkan kerusakan akibat banjir.

Banjir di Cina terjadi beberapa hari setelah Jerman barat juga dilanda bencana banjir yang menyebabkan kematian lebih dari 160 orang.

Sementara, New York juga mengalami banjir yang mengguyur stasiun kereta bawah tanah setelah dilanda badai tropis Elsa awal bulan ini.

Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim juga memperburuk bencana banjir di seluruh dunia, selain pola cuaca yang semakin ekstrem.

Kekhawatiran meningkat terhadap kerusakan akibat banjir di Gua Longmen, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang menampilkan ukiran Buddha berusia ribuan tahun di tebing batu kapur. Kuil Shaolin yang terkenal atas penguasaan seni bela diri para biksunya di dunia di Dengfeng, juga terpaksa ditutup.

Situs budaya Gua Longmen yang biasanya dikunjungi banyak wisatawan terpaksa ditutup akibat banjir.

Sejak Sabtu (17/7) lalu, lebih dari 3.500 stasiun cuaca mencatat curah hujan lebih dari 50 mm. Sekitar 150 stasiun mencatat curah hujan melebihi 250 mm. Curah hujan tertinggi yang dicatat oleh biro cuaca provinsi pada periode itu adalah 498 mm hujan di kota Lushan. [Reuters/AP/AFP]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close