Donald Trump Raup Cuan Gila Kripto Rp16 Triliun Lebih, Lampaui Bisnis Properti dan Golf

JERNIH — Donald Trump kembali mengguncang panggung politik dan ekonomi global. Laporan kekayaan wajib teranyar Presiden Amerika Serikat (AS) tersebut menunjukkan angka yang mencengangkan, Trump sukses meraup pendapatan lebih dari US$1 miliar (setara Rp16,3 triliun) hanya dalam setahun terakhir lewat gurita bisnis aset kripto miliknya.
Bisnis digital ini berkembang ugal-ugalan justru setelah dirinya kembali menduduki kursi nomor satu di Gedung Putih. Nilai fantastis dari dunia digital ini bahkan resmi mengalahkan sumber penghasilan konvensional Trump yang selama ini ditopang oleh hotel mewah, lapangan golf, dan real estat.
Tak pelak, laporan setebal 927 halaman tersebut langsung memantik sorotan tajam dan kritik pedas mengenai adanya potensi konflik kepentingan yang nyata di dalam pemerintahan AS. Berdasarkan laporan yang dilansir dari BBC, pundi-pundi dolar Trump mengalir deras dari dua mesin utama di jagat kripto.
Royalti Meme Coin Trump berhasil menyumbang pendapatan terbesar, yakni mencapai US$635 juta (sekitar Rp10,3 triliun). World Liberty Financial meraup lebih dari US$500 juta (sekitar Rp8,1 triliun). Perusahaan aset kripto ini didirikan oleh putra-putra Trump bersama anak-anak dari utusan khusus AS, Steve Witkoff.
Ibu Negara Melania Trump tidak mau ketinggalan dengan melaporkan pendapatan sebesar US$6 juta dari penjualan *Non-Fungible Token* (NFT), serta US$10,7 juta dari lisensi dokumenter dirinya.
Bisnis Klasik: Golf, Jam Tangan, hingga Alkitab Bermerek “Trump”
Meski kripto menjadi primadona baru, lini bisnis klasik Trump masih menyetor dana segar dalam jumlah besar. Trump National Doral Golf Club (Florida) masih menyumbang US$122 juta, Klub Mar-a-Lago menghasilkan US$77 juta, dan Lapangan Golf Internasional (Skotlandia & AS) mengantongi lebih dari US$30 juta.
Sementara penjualan produk merchandise unik bermerek Trump mulai dari parfum, sepatu, gitar, Alkitab, hingga jam tangan tetap laris manis. Royalti dari penjualan jam tangan saja menembus US$4,7 juta.
Selain itu, Trump juga mencatat pendapatan sekitar US$86,5 juta dari penyelesaian gugatan hukum terhadap sejumlah perusahaan media dan teknologi. Gedung Putih mengklaim dana sengketa hukum ini dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan kepresidenan dan pemeliharaan taman di Washington DC.
Kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan terbukti mendongkrak kekayaannya secara masif. Berdasarkan taksiran lembaga keuangan dunia, Forbes memperkirakan total kekayaan Trump kini meroket menjadi US$6Scan miliar (Rp98 triliun), naik tajam dari posisi tahun 2024 yang “hanya” US$2,3 miliar. Sedangkan Bloomberg Billionaires Index menaksir kekayaan Trump bahkan menyentuh angka US$7,6 miliar (Rp124 triliun).
Sorotan Konflik Kepentingan
Melonjaknya harta Trump berjalan beriringan dengan berubahnya sikap politik sang presiden terhadap industri digital. Pada 2021, Trump sempat mengecam Bitcoin sebagai aksi penipuan. Namun saat kampanye, ia berbalik arah menjadi pembela utama kripto.
Setelah menjabat, Trump langsung menerbitkan perintah eksekutif untuk mendukung industri aset digital. Pemerintahannya mengesahkan GENIUS Act guna memperkuat posisi AS sebagai pemimpin kripto global, ditambah kebijakan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) di bawah Paul Atkins yang kini jauh lebih ramah dan melunak terhadap industri kripto.
Hal inilah yang memicu kritik keras terkait etika kepresidenan. “Tentu saja ini adalah konflik kepentingan,” kritik Richard Painter, mantan penasihat etika Gedung Putih era Presiden George W. Bush.
Will Walker-Arnott dari Raymond James Financial Group juga menilai pendekatan Trump sangat tidak biasa karena presiden-presiden AS sebelumnya selalu menjauhkan bisnis pribadi dari kebijakan negara selama menjabat.
Mendapat serangan bertubi-tubi, Gedung Putih langsung pasang badan. Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa seluruh lini bisnis Trump sudah ditempatkan dalam lembaga pengelola (trust) yang dioperasikan penuh oleh anak-anaknya. “Baik Presiden maupun keluarganya tidak pernah dan tidak akan pernah terlibat konflik kepentingan,” ujar Kelly.
Kelly justru memuji bahwa Trump berhasil mewujudkan ambisinya menjadikan AS sebagai pusat kripto dunia, serta menyebut tudingan miring tersebut hanyalah lagu lama yang terus diulang oleh para lawan politik.
Sebagai penutup yang kontras, media menyoroti betapa tebalnya laporan keuangan milik Trump yang mencapai 927 halaman, sementara laporan keuangan mantan Presiden Joe Biden di tahun terakhirnya hanya setebal 11 halaman.






