Dum Sumus

Investasi AI Rp2.600 Triliun Keok! Meta Akui Kewalahan Bendung Serangan Bot ‘Judol’ di Instagram dan Facebook

JERNIH — Ironi besar tengah melanda raksasa teknologi dunia, Meta. Meskipun telah menggelontorkan investasi gila-gilaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dengan proyeksi belanja modal mencapai US$125 hingga US$145 miliar (sekitar Rp2.243 triliun – Rp2.602 triliun) pada tahun 2026, teknologi super canggih tersebut terbukti masih keok dan tidak berdaya menghadapi banjir spam judi online (judol) di kolom komentar Instagram dan Facebook.

Manajemen Meta secara terbuka mengakui bahwa teknologi AI dan sistem moderasi otomatis yang mereka banggakan saat ini masih bisa dikelabui oleh para pelaku kejahatan siber. Akibat keterbatasan ini, platform besutan Mark Zuckerberg tersebut menjadi salah satu wadah sebaran komentar spam judi online terbesar di Indonesia.

Head of Public Policy Indonesia and Philippines Meta, Berni Moestafa, menjelaskan bahwa kegagalan sistem AI mereka disebabkan oleh kecepatan adaptasi para pelaku yang luar biasa dalam memanipulasi algoritma pemfilteran.

“Langkah-langkah pelaku memberikan iklan itu selalu berubah, mereka selalu beradaptasi. Kemampuan adaptasi pelaku yang sangat cepat ini membuat teknologi AI kami kerap tertinggal satu langkah,” ungkap Berni di Jakarta.

Senada dengan Berni, Director of Public Policy Southeast Asia Meta, Sarim Aziz, menambahkan bahwa pertempuran melawan judol sangat rumit karena ini merupakan kejahatan transnasional yang dimotivasi oleh keuntungan finansial besar.

Para pelaku kini menggunakan taktik enkripsi teks terbaru, menyisipkan kata-kata normal untuk menghindari deteksi kata kunci (keyword), hingga memanfaatkan kolom komentar untuk mengarahkan pengguna ke situs pihak ketiga. Akibatnya, pemfilteran berbasis kata kunci dan pola visual milik Meta kerap kecolongan. Padahal, pada tahun 2025 lalu Meta mengklaim telah menghapus (take down) hampir 61 juta konten terkait judi online.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, membongkar kecanggihan sistem yang digunakan para bandar judol. Berdasarkan laporan yang diterima, operasi spam ini tidak digerakkan secara manual, melainkan menggunakan sistem otomatis bersenjatakan mesin atau bot.

Mesin milik pelaku memantau aktivitas media sosial secara real-time. Begitu sistem mendeteksi adanya lonjakan interaksi (engagement) atau konten yang mendadak ramai di suatu akun, alarm mereka berbunyi. Dalam hitungan detik, sistem otomatis langsung mengirimkan hingga ribuan komentar promosi judol secara serentak ke akun tersebut.

Sasaran Empuk: Influencer Daerah dan Akun Pemerintah

Meutya Hafid memaparkan data mengejutkan terkait pergeseran target utama serangan spam ini. Akun-akun yang memiliki interaksi tinggi kini menjadi sasaran empuk, terutama para influencer lokal. Sebanyak 52% menyasar akun influencer lokal, 31% menyerbu akun instansi pemerintah (terutama pada postingan tertentu), 12% menyasar akun media massa serta 5% menyasar akun tokoh publik dan politisi.

Secara nasional, akumulasi spam di kolom komentar media sosial melonjak drastis hingga 128% pada Juni 2026. Berdasarkan peta sebarannya, Meta bukan satu-satunya pihak yang kewalahan, sebab platform kompetitor justru mencatatkan angka yang lebih tinggi. Mengutip dari data Antara per Juni 2026, aebanyak 35% menyerang TikTok, 28% Facebook, 22% Instagram, 10% YouTube serta 5%  Platform X.

Melihat pola serangan yang semakin terorganisasi dan menggunakan teknologi tinggi ini, Menkomdigi menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas lembaga serta tindakan nyata yang lebih agresif dari pemilik platform digital seperti Meta dan TikTok untuk menyumbat celah algoritma mereka agar ruang digital Indonesia tidak terus-menerus dikotori oleh promosi ilegal.

Back to top button