Dr. Asma Mushtaq dan Pendakian Terakhir di Punggung Spantik Karakoram

Takdir memanggilnya di antara angin kencang dan es abadi Spantik. Dr. Asma Mushtaq—dokter spesialis kandungan sekaligus simbol keberanian perempuan Asia Selatan tewas usai mencapai puncak.
WWW.JERNIH.CO – Di antara lipatan es tebal dan angin kencang Pegunungan Karakoram, sebuah kisah keberanian mengukir catatan terakhirnya dengan penuh ketangguhan. Dunia medis dan komunitas pendakian internasional berduka mendalam atas wafatnya Dr. Asma Mushtaq—seorang dokter spesialis kandungan yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan, sekaligus pendaki dan vlogger inspiratif asal Lahore, Pakistan.
Pada 18 Agustus 2026, sosok yang tak pernah lelah melintasi batas ketakutan ini mengembuskan napas terakhirnya di Puncak Spantik (Golden Peak) pada ketinggian 7.027 meter, meninggalkan warisan semangat yang tak akan pernah padam.
Sebagai figur yang mendobrak stigma bagi perempuan di Asia Selatan, Dr. Asma mengukir karier cemerlang sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang berpraktik di Inggris. Di balik jubah putih medisnya, ia menyimpan jiwa petualang sejati.

Sebagai anggota aktif Karakoram Calling Treks, ia telah menaklukkan berbagai medan ekstrem, termasuk keberhasilan spektakuler menerjang Puncak Musa ka Musallah (4.076 meter) di tengah paparan dinginnya musim ekstrem, serta menjelajahi kawasan menantang di Rupal dan Arandu.
Melalui lensa kameranya, ia mendokumentasikan setiap langkah untuk mempromosikan pariwisata alam Pakistan sekaligus membakar semangat para perempuan agar berani menembus batas mimpi mereka.
Nahas, ekspedisinya di Spantik berubah menjadi panggung duka. Berdasarkan laporan Alpine Club of Pakistan (ACP), setelah berjuang keras mencapai puncak, tragedi menghampiri Dr. Asma saat melangkah turun. Di zona bahaya pada ketinggian sekitar 6.400 meter (21.000 kaki), tubuhnya terhempas darurat medis akibat penyakit ketinggian (high-altitude sickness). Terganggunya proses aklimatisasi memicu hipoksia atau kekurangan oksigen akut yang dengan cepat berkembang menjadi komplikasi fatal pada organ paru-paru dan otaknya.
Meskipun tim pendaki lokal, porter, dan armada helikopter Angkatan Darat Pakistan bergerak cepat dalam operasi evakuasi medan ekstrem menuju Skardu, takdir berkata lain.
Meskipun dikenal sebagai salah satu puncak setinggi 7.000-an meter yang paling populer dan secara teknis relatif “mudah” diakses di wilayah Karakoram, medan Puncak Spantik tetap menyimpan risiko mematikan. Gunung ini kerap diposisikan sebagai ajang latihan sebelum para pendaki mencoba menaklukkan raksasa 8.000-an meter seperti K2 atau Broad Peak.
Namun, bahaya laten seperti retakan es (crevasse), longsoran salju (avalanche), penyakit ketinggian, hingga perubahan cuaca ekstrem yang mendadak di kawasan Karakoram senantiasa mengintai dan siap menjebak bahkan para pendaki berpengalaman sekalipun.

Sejarah mencatat serangkaian insiden fatal yang pernah merenggut nyawa para petualang di gunung ini sebelum tragedi baru-baru ini. Pada Juli 2024, dua pendaki asal Jepang, Ryusei Sekino dan Yutaka Yabuue, dilaporkan hilang saat memanjat dengan gaya alpine, hingga akhirnya helikopter militer Pakistan menemukan jenazah keduanya di dekat Camp 3 pada ketinggian 6.000 meter akibat terseret longsoran salju.
Jauh sebelum itu, pada Agustus 2012, seorang pendaki asal Austria juga tewas terperosok ke dalam crevasse mendalam di sekitar Camp 2 setelah jarak pandang terputus total (whiteout) akibat badai salju yang menerjang tanpa peringatan.
Ancaman penyakit ketinggian saat perjalanan turun juga telah terbukti sama mematikannya dengan medan teknis Spantik. Hal ini terlihat pada peristiwa Agustus 2018, ketika pendaki senior asal Inggris, Angela Benham, mengembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi penyakit ketinggian (altitude sickness) yang membuatnya mendadak jatuh sakit dan tergelincir di area terjal.(*)
BACA JUGA: Misi ‘Die Empty’ Nadhira Al Harthy di Puncak Dunia






