Drone Shahed-171 Adalah “Hadiah” Terindah dari Pentagon

Siapa sangka, drone paling rahasia milik Amerika Serikat justru menjadi “cetak biru” bagi kebangkitan militer Iran. Para insinyur Teheran berhasil membongkar rahasia terdalam teknologi siluman Barat.
WWW.JERNIH.CO – Sejarah militer sering kali mencatat bahwa lompatan teknologi besar suatu negara terkadang datang dari kesalahan musuhnya. Bagi Republik Islam Iran, titik balik tersebut terjadi pada tanggal 4 Desember 2011, ketika sebuah drone pengintai siluman tercanggih milik Amerika Serikat, Lockheed Martin RQ-170 Sentinel, jatuh di wilayah timur Iran dekat perbatasan Afghanistan.
Insiden ini bukan hanya hilangnya aset militer bagi Washington, melainkan “harta karun” intelektual bagi Teheran yang melahirkan dinasti drone flying wing (sayap terbang), dengan Shahed-171 Simorgh sebagai mahakaryanya.
RQ-170 Sentinel, yang dijuluki “The Beast of Kandahar”, adalah platform intelijen yang sangat rahasia dengan desain siluman yang meminimalisir jejak radar. Saat jatuh, Iran mengklaim telah melakukan serangan siber berupa GPS spoofing untuk mengelabui navigasi drone tersebut agar mendarat di wilayah mereka.

Meskipun AS sempat meminta pengembalian unit tersebut secara resmi, Iran menolak dan justru memamerkan drone yang relatif utuh itu di televisi nasional sebagai simbol kemenangan propaganda.
Para insinyur dari Shahed Aviation Industries dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) segera melakukan proses reverse engineering (rekayasa terbalik). Mereka membedah sistem kontrol, material komposit penyerap radar, hingga arsitektur mesin turbofan milik AS.
Proses ini tidaklah mudah; dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami stabilitas aerodinamis desain flying wing yang secara alami tidak stabil tanpa perangkat lunak kontrol penerbangan yang sangat canggih.
Setelah prototipe pertama dipamerkan pada tahun 2014, Iran akhirnya memperkenalkan Shahed-171 Simorgh (diambil dari nama burung mitologi Persia). Drone ini merupakan replika skala penuh (1:1) dari RQ-170 Sentinel. Berbeda dengan varian Shahed-191 Saegheh yang lebih kecil, Shahed-171 dirancang sebagai platform pengintai jarak jauh berkemampuan strategis.
Beberapa hal yang berhasil dikembangkan oleh insinyur Iran di antaranya mengadopsi bentuk sayap terbang murni tanpa ekor (tailless), yang secara drastis mengurangi Radar Cross Section (RCS), membuatnya sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Shahed-171 menggunakan mesin turbofan, yang diyakini merupakan hasil pengembangan lokal berdasarkan mesin Garrett TFE731 atau General Electric TF34. Mesin ini memberikan kecepatan jelajah sekitar 600 km/jam.
Drone ini memiliki jangkauan operasional yang impresif, berkisar antara 2.200 hingga 4.400 km (tergantung pada konfigurasi beban). Ia mampu terbang pada ketinggian hingga 40.000 kaki (12.000 meter), memungkinkannya beroperasi di luar jangkauan banyak sistem rudal anti-pesawat jarak menengah.
Shahed-171 dilengkapi dengan ruang internal (internal bay) untuk membawa kamera sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR) resolusi tinggi atau amunisi presisi, sehingga tetap menjaga profil silumannya saat terbang.

Keberhasilan Iran mengkloning RQ-170 menjadi Shahed-171 membuktikan bahwa industri pertahanan Teheran telah melampaui sekadar pembuatan drone target sederhana. Dari platform ini, Iran kemudian mengembangkan varian yang lebih kecil dan lebih taktis seperti Shahed-191 dan Shahed-161, yang telah teruji dalam pertempuran nyata di Suriah.
Meskipun secara teknologi Shahed-171 mungkin belum menyamai efisiensi sensor asli milik Lockheed Martin, kemampuan Iran untuk memproduksi massal drone siluman ini telah mengubah peta kekuatan di Timur Tengah.
Peristiwa tahun 2011 tersebut secara permanen mengakhiri monopoli teknologi stealth flying wing di tangan Barat, sekaligus menjadikan Iran sebagai salah satu eksportir teknologi drone yang diperhitungkan di kancah global.(*)
BACA JUGA: Perang Drone Iran – AS; Shahed VS Lucas






