Crispy

Dua Pendaki Putri Indonesia Kibarkan Merah Putih di Ama Dablam di Waktu Berbeda

Dua pendaki putri tangguh Indonesia, Nadya Gianifa dan Furky Syahroni, sukses mengukir sejarah baru dengan menaklukkan Gunung Ama Dablam, Himalaya. Era pendakian Indonesia mulai bergema lagi.

WWW.JERNIH.CO –  Nuansa Hari Kartini di Mei masih terasa. Dan Mei 2026 menjadi catatan sejarah baru bagi dunia pendakian dan emansipasi perempuan Indonesia di kancah internasional. Dua pendaki putri tanah air, Nadya Gianifa dan Furky Syahroni, sukses menaklukkan salah satu gunung paling teknikal dan ikonik di pegunungan Himalaya, Nepal, yaitu Gunung Ama Dablam (6.812 mdpl).

Nadya yang tergabung dalam Ekspedisi Merah Putih Perempuan Indonesia Ama Dablam Nepal (EMPPIAN) 2026, berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di puncak pada 15 Mei 2026 setelah summit push (perjalanan menuju puncak) ekstrem selama hampir 19 jam.

Sementara itu, Furky Syahroni juga menorehkan prestasi gemilang dengan menyusul mencapai puncak pada 17 Mei 2026. Keberhasilan keduanya menambah daftar pendaki Indonesia yang berhasil menaklukkan Ama Dablam menjadi 12 orang.

Meski ketinggiannya tidak mencapai 8.000 mdpl, Ama Dablam—yang berarti “Kalung Ibu”—kerap disebut sebagai “Gunung Para Pendaki Sejati”. Tingkat kesulitannya dinilai jauh lebih menantang secara teknis dibandingkan Gunung Everest.

Tidak heran jika calon pendaki Everest kerap memanfaatkan Ama Dablam sebagai tempat menempa sebelum berada di ketinggian 8.000-an.

 Gunung ini menuntut kombinasi keahlian rock climbing (panjat tebing) dan ice/snow climbing (pemanjatan es/salju) tingkat lanjut. Pendaki harus melewati dinding batu tegak lurus dan jalur es tipis.

Rute pendakian didominasi oleh punggungan tipis dengan jurang menganga di kedua sisinya. Kesalahan kecil dalam melangkah atau menaruh pengaman bisa berakibat fatal.

Suhu udara di Ama Dablam dapat merosot drastis hingga di bawah -30 derakat Celcius, disertai terpaan angin kencang khas Himalaya yang datang tiba-tiba.

Secara umum, paket ekspedisi ke Ama Dablam membutuhkan waktu total sekitar 25 hingga 30 hari (terhitung sejak tiba di Kathmandu termasuk proses aklimatisasi).

Pendakian yang dilewati Nadya dan Furky menggunakan rute klasik Barat Daya (Southwest Ridge), dengan tahapan jalur dimulai dari trekking ke Base Camp(4.600 mdpl). Perjalanan dimulai dengan penerbangan ke Lukla, dilanjutkan berjalan kaki melewati Namche Bazaar hingga mencapai Base Camp. Di sini, pendaki menghabiskan waktu beberapa hari untuk aklimatisasi (penyesuaian tubuh terhadap kadar oksigen yang tipis).

Dari base camp ke Camp 1 (5.700 mdpl). Medan transisi dari jalan setapak berbatu berpasir hingga mulai memasuki bebatuan besar (boulders) yang membutuhkan fokus ekstra.

Selanjutnya dari Camp 1 ke Camp 2 (6.000 mdpl). Ini adalah salah satu bagian paling ikonik dan menakutkan. Pendaki harus memanjat Yellow Tower, sebuah dinding batu vertikal setinggi kurang lebih 15 meter dengan tingkat kesulitan panjat tebing yang tinggi di tengah tipisnya oksigen.

Berikutnya Camp 2 ke Camp 3 (6.300 mdpl) hingga Puncak (6.812 mdpl), jalur berubah total menjadi es dan salju abadi. Pendaki melewati rute Mushroom Ridge yang rawan longsoran salju (avalanche), sebelum akhirnya merayap naik menggunakan tali pengaman (fixed rope) di bawah bongkahan es raksasa yang menggantung menuju titik tertinggi.

Keberhasilan di Ama Dablam pada Mei 2026 ini merupakan fase awal dari misi jangka panjang tim pendaki putri Indonesia. Mereka diproyeksikan untuk melanjutkan ekspedisi teknikal ke Gunung Manaslu (8.163 mdpl) pada tahun 2027, sebelum nantinya membidik target utama: K2 (8.611 mdpl) di Pakistan, gunung paling mematikan di dunia. (*)

BACA JUGA: Putri Handayani Kibarkan Merah Putih di Puncak Tertinggi Benua Artatika Gunung Vinson

Back to top button