Crispy

Dua Wajah Xabi Alonso di Real Madrid, Legenda Lapangan, Drama di Kursi Pelatih

Xabi Alonso pernah menjadi jenderal lini tengah yang mengantar Real Madrid ke puncak kejayaan Eropa. Namun saat kembali ke Santiago Bernabéu sebagai pelatih, kisahnya justru berakhir singkat dan penuh gejolak.

WWW.JERNIH.CO –  Kisah Xabi Alonso di Real Madrid dapat dibagi ke dalam dua babak besar yang sangat kontras. Babak pertama adalah masa kejayaannya sebagai pemain, ketika ia menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik yang pernah mengenakan seragam Los Blancos.

Babak kedua datang lebih dari satu dekade kemudian, saat ia kembali ke Santiago Bernabéu sebagai pelatih dengan reputasi tinggi, namun harus mengakhiri perjalanannya secara dramatis pada awal 2026. Malang tak bisa ditolak.

Sebagai pemain, Xabi Alonso adalah figur sentral Real Madrid pada periode 2009–2014. Visi bermain, ketenangan, dan kecerdasan taktisnya membuat ia dijuluki “jenderal” di lini tengah. Bersama Madrid, Alonso meraih berbagai trofi bergengsi, termasuk Liga Champions yang bersejarah pada musim La Decima.

Namun, sebagai pelatih, takdirnya berbeda. Ia ditunjuk menjadi pelatih Real Madrid pada musim panas 2025, setelah mencuri perhatian dunia lewat keberhasilannya membawa Bayer Leverkusen menjuarai Bundesliga. Ekspektasi publik pun melambung tinggi, seolah ia ditakdirkan mengulang kejayaan, kali ini dari pinggir lapangan. Mujur tak bisa diraih.

Sayangnya, masa jabatan Alonso di kursi pelatih Madrid hanya berlangsung sekitar setengah musim. Pada 13 Januari 2026, ia resmi berpisah dengan klub, sehari setelah kekalahan pahit 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Kekalahan tersebut menjadi titik balik yang mempercepat keputusannya untuk mundur, meski secara statistik performa timnya tidak sepenuhnya buruk.

Menariknya, alasan kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid sangat berbeda antara saat ia menjadi pemain dan ketika berstatus pelatih. Pada tahun 2014, Alonso meninggalkan Madrid untuk bergabung dengan Bayern Munchen bukan karena konflik, melainkan dorongan pribadi untuk mencari tantangan baru. Ia ingin belajar langsung dari Pep Guardiola dan memperkaya pemahaman taktiknya, setelah merasa telah memenangkan hampir segalanya bersama Madrid.

Sebaliknya, pada 2026, kepergiannya sebagai pelatih lebih disebabkan oleh kombinasi hasil yang tidak konsisten, kegagalan meraih trofi, serta meningkatnya ketegangan di ruang ganti. Meskipun rasio kemenangannya mencapai 70,6 persen—angka yang tergolong tinggi dalam sejarah klub—hal itu tidak cukup untuk meredam tekanan internal dan eksternal.

Isu keretakan hubungan dengan para pemain menjadi sorotan utama dalam masa singkat kepelatihan Alonso. Vinicius Jr disebut sebagai sosok yang paling sering berselisih dengannya. Keputusan Alonso yang kerap menarik Vinicius keluar lebih awal, termasuk dalam laga El Clasico, memicu ketidakpuasan sang winger.

Bahkan, beredar kabar bahwa Vinicius mempertimbangkan masa depannya di klub jika Alonso tetap bertahan. Selain itu, Jude Bellingham dan Thibaut Courtois juga dilaporkan kurang nyaman dengan pendekatan Alonso yang sangat disiplin dan kaku, berbeda dengan gaya Carlo Ancelotti yang lebih fleksibel dan memberi kebebasan.

Akar konflik tersebut disebut berasal dari metode kepelatihan Alonso yang menuntut disiplin total. Ia menerapkan analisis video yang intens, detail taktik yang ketat, hingga penggunaan teknologi seperti drone dalam sesi latihan.

Pendekatan ini efektif di Leverkusen, tetapi di Madrid justru mengejutkan para pemain senior yang sudah terbiasa dengan ruang ekspresi lebih besar di lapangan.

Meski kariernya sebagai pelatih Real Madrid terbilang singkat dan berakhir tanpa trofi, warisan Xabi Alonso sebagai pemain tetap tak tergoyahkan. Selama lima musim berseragam putih, ia mencatat 236 penampilan dan menjadi pilar penting dalam berbagai kesuksesan klub.

Sebagai pelatih, ia memang hanya meninggalkan catatan runner-up Piala Super Spanyol dan posisi kedua di klasemen, namun kisahnya tetap menjadi pengingat bahwa status legenda di lapangan tidak selalu menjamin perjalanan mulus di kursi pelatih.(*)

BACA JUGA: Real Madrid Gelar Aksi Boikot, Rodri Raih Ballon d’Or

Back to top button