
Hingga saat ini, perang terus berkecamuk tanpa tanda-tanda mereda. Sementara AS dan Israel berupaya menggulingkan rezim, Teheran justru semakin kencang menantang dunia dengan retorika “kekuatan baru dunia”.
JERNIH – Eskalasi perang Iran melawan aliansi Amerika Serikat-Israel mencapai titik didih baru. Di tengah gempuran udara masif yang menghantam ibu kota Teheran dan Isfahan, para pejabat tinggi Iran justru melontarkan sindiran tajam yang mengejek kepemimpinan Donald Trump, sembari mengklaim bahwa kemenangan sudah di depan mata.
Salah satu pernyataan yang paling mencuri perhatian datang dari Kepala Polisi Iran, Ahmad-Reza Radan. Menanggapi tekanan Trump terhadap Uni Eropa terkait keamanan di Selat Hormuz, Radan melontarkan ejekan yang tak terduga.
Radan menyindir gaya diplomasi Trump yang dianggapnya tidak konsisten—antara mengancam dan memohon bantuan kepada Uni Eropa.
“Trump awalnya mengancam Uni Eropa, lalu memohon. Sekarang, dia bilang akan mengambil Greenland jika orang Eropa tidak mau datang (membantu di Hormuz). Saya ingin katakan pada Uni Eropa: jika kalian tidak mampu mempertahankan Greenland, kirimkan permintaan pada kami, maka kami yang akan datang untuk menjaganya,” tegas Radan di hadapan pendukungnya di Teheran, Sabtu malam (21/3/2026).
Pernyataan ini disambut gemuruh takbir, menggambarkan kepercayaan diri Teheran meskipun sejumlah fasilitas militer dan pemukiman mereka menjadi sasaran serangan presisi yang diduga menewaskan komandan senior unit drone Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa keberhasilan rudal Iran menghantam kawasan Dimona—lokasi fasilitas nuklir penting Israel—menandai babak baru peperangan. “Langit Israel kini tak berdaya,” klaim Ghalibaf.
Senada dengan itu, Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Majid Mousavi, menegaskan bahwa Teheran kini memegang kendali atas ruang udara lawan, mematahkan klaim dominasi udara yang sebelumnya disuarakan AS dan Israel.
Ancaman “Kiamat Listrik” di Timur Tengah
Ketegangan memuncak pada Minggu (22/3/2026) setelah Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, atau AS akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik di Iran.
Balasannya pun tak kalah ngeri. Media yang berafiliasi dengan IRGC merilis peta target yang mencakup pembangkit listrik di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, hingga Kuwait dengan pesan singkat yang provokatif: “Ucapkan selamat tinggal pada listrik!”
Di balik retorika kemenangan, kondisi di dalam negeri Iran sangat mencekam. Sudah 23 hari rakyat Iran hidup tanpa akses internet, pemadaman terlama dalam sejarah negara tersebut.
Pemerintah Iran juga memperingatkan warga bahwa yang menyebarkan video serangan atau bergabung dengan kanal berita asing di Telegram dapat dianggap tindakan terorisme dengan ancaman hukuman mati.
Menariknya, di tengah kepungan perang, beberapa politisi Iran mulai melontarkan syarat perdamaian yang ambisius. Ebrahim Rezaei, anggota komite keamanan parlemen, menyatakan dalam unggahan di X bahwa salah satu syarat berakhirnya perang adalah Iran harus diberikan kursi permanen dengan hak veto di Dewan Keamanan PBB.
Hingga saat ini, perang terus berkecamuk tanpa tanda-tanda mereda. Sementara AS dan Israel berupaya menggulingkan rezim, Teheran justru semakin kencang menantang dunia dengan retorika “kekuatan baru dunia”.






