Crispy

Gagal Deteksi Ujaran Kebencian, Facebook Menyulut Genosida Muslim Rohingya

  • Global Witness mengajukan delapan bukti iklan berisi seruan kebencian terhadap Muslim Rohingya.
  • Bukti lain adalah postingan dalam bahasa Burma yang menyeru pembunuhan Rohingya.

JERNIH — Facebook selama bertahun-tahun gagal mendeteksi ujaran kebencian terang=terangan dan seruan kekerasan terhadap Muslim Rohingya.

Global Witness, dalam laporan yang dibagikan kepada wartawan, menunjukan bukti iklan berbayar — masing-masing dengan versi berbeda — yang berisi pidato kebencian terhadap Rohingya, minoritas Muslim paling menderita di dunia. Depalan iklan itu disetujui Facebook untuk dipublikasikan.

Meski berjanji melakukan pengawasan, kontrol Facebook bocor dan masih gagal mendeteksi ujaran kebencian dan seruan kekerasan di platform-nya. Iklan itu diposting dan Facebook dibayar.

Tahun 2017 tentara Myanmar melakukan yang disebut kampanye pembersihan etnis di negara bagian Rakhine, yang didahului serangan mematikan terhadap kelompok pemberontak Rohingya.

Lebih 700 ribu Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, dan Tatmadaw — sebutan untuk tentara Myanmar — melakukan pemerkosaan massal, pembunuhan, dan pembakaran rumah.

Pada 1 Februari 2021 militer Myanmar mengambil alih Manmar, memenjarakan pejabat pemerintah yang dipilih secara demokratis. Pengungsi Rohingya mengutuk kudeta itu, karena kekuasaan militer membuat mereka semakin takut kembali ke Rakhine.

Para ahli mengatakan iklan seruan kekerasan terhadap Muslim Rohingya terus muncul, meski Facebook berjanji melakukan yang lebih baik. Bahkan Facebook gagal melakukan tes paling sederhana, yaitu memastikan bahwa iklan berbayar berjalan di situsnya dan tidak mengandung ujaran kebencian dan kekerasan.

“Pembunuhan Kalar sat ini tidak cukup. Kita perlu membunuh lebih banyak,” demikian salah satu seruan kebencian di Facebook. Kalar adalah sebutan merendahkan bagi Muslim Rohingya di Myanmar.

“Mereka sangat kotor. Wanita Bengali/Rohingya memiliki standar hidup sangat rendah dan kebersihan yang buruk. Mereka tidak menarik,” lanjut postingan di Facebook.

Dua postingan itu membuktikan betapa Facebook tidak melakukan apa-apa untuk meniadakan seruan kebencian dan kekerasan. Facebook mendorong terjadinya genosida terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

Menurut Global Witness, delapan iklan itu diambil langsung dari Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB di Myanmar dalam laporannya ke Dewan Hak Asasi Manusia. Beberapa contoh lainnya berasal dari postingan Facebook.

“Delapan bukan jumlah yang terlalu besar, tapi semuanya sangat mencolok,” kata Rosie Sharpe, juru kampanye Global Witness.

Meta Platform, perusahaan induk Facebook, mengatakan telah berinvestasi untuk meningkatkan kontrol keselamatan dan keamanan di Myanmar, termasuk melarang akun militer setelah Tatmadaw mengambil alih kekuaaan.

Di masa lalu, Facebook juga digunakan untuk menyebarkan kebencian dan memperkuat propaganda militer Myanmar. Itu terjadi tahun 2000, tak lama setelah Myanmar terhubung ke Internet.

Pendukung kebijakan Internet lokal berulang kali mgnatakan pidato kebencian menyebar di seluruh platform, sering menargetkan minoritas Muslim Rohingya.

Maret 2018, kurang enam bulan setelah ratusan ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar, Marzuki Darusman — ketua Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB di Myanmar — mengatakan bahwa media sosial secara substansial berkontribusi pada tingkat kepahitan dan pertikaian konflik.

“Ujaran kebencian merupakan bagian dari semua itu. Sejauh menyangkut situasi Myanmar, Facebook memainkan peran,” kata Marzuki Darusman.

Dalam sidang Senat AS, CEO Mark Zuckerberg mengatakan Facebook berencana mempekerjakan penutur Myanmar untuk memoderasi konten. Facebook, kata Zuckerberg saat itu, juga akan bekerja sama dengan kelompok masyarkat sipil untuk mengidentifikasi tokoh kebencian dan mengembangkan teknologi baru demi memerangi ujaran kebencian.

Pengungsi Rohingya menggugat Facebook lebih 150 miliar dolar AS, dengan menduuhnya gagal menghetnikan ujaran kebencian yang menghasut kekerasan. Kelompok pemuda Rohingya di Bangladesh mengajukan keluhan terpisah di Irlandia kepada Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang menyeru Facebook menyediakan program perbaikan di kamp=kamp Rohingya di Bangladesh.

Tun Khin, presiden Burma Rohingya Organization UK, mengatakan penyinas genosida Rohingya terus tinggal di kamp-kamp ini, dan Facebook mengecwakan mereka..

“Facebook harus berbuat lebih banyak,” kata Tun Khin.

Back to top button