CrispyDesportare

Alexander Zverev Juara French Open Runtuhkan Tembok Frustrasi

Kini Zverev boleh membuang gelar “petenis terbaik tanpa gelar major”. Trofi Roland Garros 2026 sah miliknya dan untuk pertama kalinya ia merebut gelar Grand Slam.

WWW.JERNIH.CO –  Ketika pukulan overhead Flavio Cobolli melebar ke sisi luar lapangan pada poin penentu juara kedua, Alexander Zverev tidak melompat kegirangan. Petenis jangkung asal Jerman itu langsung tergeletak telentang di atas hamparan tanah liat merah Court Philippe-Chatrier. Tubuhnya berlumur debu Roland Garros, seolah melepaskan seluruh beban mental dan stres luar biasa yang menggunung selama bertahun-tahun.

Saat ia bangkit dan menutup wajah dengan kedua tangannya, penonton menyaksikan pemandangan yang langka: Sascha—panggilan akrabnya—menangis tersedu-sedu. Ini bukan tangisan kemenangan biasa, melainkan runtuhnya tembok kutukan yang selama 13 tahun karier profesionalnya selalu menghalangi langkahnya di panggung tertinggi.

Partai puncak tunggal putra French Open pada Minggu, 7 Juni 2026, ini memang berjalan sangat melelahkan, menguras emosi, dan bertempo lama. Pertandingan epik ini berlangsung selama 4 jam 16 menit dengan skor akhir 6-1, 4-6, 6-4, 6-7 (5-7), dan 6-1.

Meski terasa sangat panjang dan melelahkan bagi kedua pemain, laga ini bukanlah final tunggal putra terlama dalam sejarah Roland Garros. Rekor final terlama di turnamen ini masih dipegang oleh laga legendaris setahun lalu (French Open 2025), ketika Carlos Alcaraz mengalahkan Jannik Sinner dalam pertarungan monster selama 5 jam 29 minutes. Kendati demikian, tensi tinggi dan drama lima set antara Zverev dan Cobolli kemarin malam tetap masuk dalam jajaran salah satu final paling mendebarkan di Paris.

Zverev, yang datang sebagai unggulan kedua dan favorit kuat juara, awalnya diprediksi akan menjalani sore yang mudah. Pada set pertama, ia tampil tanpa cela dan mendominasi mutlak dengan kemenangan kilat 6-1. Isyarat bahwa laga akan selesai cepat sempat mengudara di Paris.

Namun, Flavio Cobolli punya rencana lain. Petenis Italia yang menjadi unggulan ke-10 itu menolak menyerah. Didorong oleh teriakan fanatik pendukungnya, Cobolli bangkit di set kedua (6-4).

Gaya main Cobolli yang ulet dan berani memaksa Zverev bekerja ekstra keras. Meski Zverev mengamankan set ketiga, drama sesungguhnya terjadi di set keempat. Cobolli yang sempat tertinggal 1-3 di babak tiebreak justru membalikkan keadaan untuk merebut set tersebut dengan skor 7-6 (7-5).

Laga pun dipaksa berlanjut ke set penentu, membuat ketegangan di kubu Zverev mencapai puncaknya. Beruntung bagi Zverev, faktor fisik dan pengalaman berbicara di set kelima; energi Cobolli habis, dan Zverev menutupnya dengan skor telak 6-1.

“Kamu menjalani dua minggu yang luar biasa di sini. Pertandingan hari ini benar-benar gila, kamu membuat saya berlari ke setiap sudut lapangan selama lebih dari empat jam,” ujar Zverev saat memberikan winner speech.

Di balik ketenangan peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu saat menghadapi momen-momen kritis set kelima, ada sosok Alexander Zverev Sr. yang menyaksikan dari boks pelatih. Ayah kandung sekaligus pelatih utamanya sejak kecil ini memiliki peran yang luar biasa besar dalam membentuk mental baja Sascha.

Zverev Sr., yang juga mantan petenis profesional Uni Soviet, dikenal memiliki metode latihan fisik yang sangat disiplin, keras, dan tak kenal kompromi. Setelah cedera engkel parah yang hampir menghancurkan karier Sascha di Roland Garros beberapa tahun silam, sang ayahlah yang perlahan membangun kembali kekuatan fisik dan mental anaknya dari nol hingga bisa kembali ke level elite dunia.

Pantas saat di atas stage ia seolah ingin mengatakan buah dari kebersamaan itu. “Ayah, Ibu, kita akhirnya melakukannya. Terima kasih karena selalu percaya kepada saya, bahkan di momen-momen paling gelap ketika saya sendiri ragu apakah saya bisa kembali bermain tenis di level tertinggi setelah cedera beberapa tahun lalu. Trofi ini milik kita bersama,” kata pemilik tinggi badan 198 cm itu.

Kemenangan dramatis di Paris ini mengukir sejarah baru dalam lembaran karier profesional tenis kelahiran 20 April 1997 itu:

Gelar Grand Slam Pertama: Setelah menelan pil pahit dengan rekor 0-3 di tiga final major sebelumnya (US Open 2020, French Open 2024, Australian Open 2025), ini adalah kemenangan gelar Grand Slam ke-1 (pertama) dalam kariernya.

Gelar ATP ke-25: Trofi Roland Garros 2026 menjadi gelar tunggal putra ke-25 sepanjang kariernya di dunia tenis profesional sejak debut pada tahun 2013.

Penerus Boris Becker: Zverev resmi menjadi petenis pria Jerman pertama yang mampu memenangkan gelar tunggal Grand Slam sejak Boris Becker terakhir kali melakukannya di Australian Open 1996, tepat 30 tahun yang lalu.

Dengan pecahnya telur gelar Grand Slam ini, Alexander Zverev tidak lagi menyandang status sebagai “pemain terbaik tanpa gelar major”. Paris telah menyaksikan akhir dari sebuah penantian panjang yang melelahkan sekaligus mengharukan.(*)

BACA JUGA: Zverev dan Cobolli Berebut Takhta French Open 2026

Back to top button