Gaza Diguncang Penculikan Komandan Hamas, Tepi Barat Berdarah dalam Operasi Militer Israel

Sumber Hamas menyebut kemungkinan besar pelaku adalah pasukan khusus Israel atau kelompok bersenjata yang berkolaborasi dengan Israel. Kejadian ini berbarengan dengan upaya pembunuhan tokoh keamanan pro-Hamas lainnya di titik berbeda di Gaza.
JERNIH – Gelombang ketegangan baru menghantam Palestina. Di Jalur Gaza, sebuah operasi penculikan misterius terhadap petinggi Hamas memicu perburuan besar-besaran. Sementara itu, di Tepi Barat yang diduduki, seorang pemuda Palestina tewas ditembak dalam sebuah penggerebekan yang diwarnai aksi penghalangan bantuan medis oleh pasukan Israel.
Minggu malam (29/3/2026), kawasan Tel al-Hawa di Gaza City mencekam setelah sekelompok pria bersenjata tak dikenal menculik seorang komandan lapangan Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas.
Hamas segera mengerahkan pejuang di seluruh sudut kota, memburu dua kendaraan yang diduga membawa sang komandan. Baku tembak sengit dilaporkan pecah selama operasi pencarian tersebut.
Sumber Hamas menyebut kemungkinan besar pelaku adalah pasukan khusus Israel atau kelompok bersenjata yang berkolaborasi dengan Israel. Kejadian ini berbarengan dengan upaya pembunuhan tokoh keamanan pro-Hamas lainnya di titik berbeda di Gaza.
Di Tepi Barat, Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi gugurnya Ramzi Abdul Hakim Mohammad al-Awawdeh (22 tahun) di kota Kharsa, dekat Hebron.
Laporan saksi mata menyebutkan insiden yang memilukan: pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah Ramzi dan membiarkannya terkapar di jalanan. Petugas medis dilaporkan dilarang mendekat, bahkan kunci ambulans sempat disita oleh aparat. Ramzi akhirnya meninggal dunia, dan hingga kini jenazahnya masih ditahan oleh pihak Israel.
Kekerasan oleh pemukim Israel juga dilaporkan meningkat di berbagai wilayah. Di Hebron Utara, di desa Shuyukh al-Arroub, pemukim membakar dua mobil warga, mencuri 25 ekor domba, dan mencorat-coret dinding dengan slogan rasis sebelum akhirnya dipaksa mundur oleh warga setempat.
Sementara di Nablus dan Jenin, buldozer Israel meluluhlantakkan sekitar 2.000 dunam (sekitar 200 hektar) lahan di al-Lubban al-Sharqiya serta mencabut puluhan pohon zaitun di Arraba, yang merupakan urat nadi ekonomi petani Palestina.
Akses ibadah bagi umat Muslim kian terjepit. Untuk hari ke-31 berturut-turut—sejak dimulainya perang melawan Iran—Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dan Masjid Ibrahimi di Hebron tetap ditutup total oleh otoritas Israel. Warga Palestina dilarang masuk untuk menunaikan salat, sebuah tindakan yang memicu kemarahan luas di dunia Islam.






