Gencatan Senjata Diperpanjang, Israel Malah Intensifkan Serangan Udara dan Artileri di Lebanon Selatan

JERNIH – Jet tempur dan artileri militer Israel dilaporkan semakin gencar membombardir wilayah Lebanon selatan. Eskalasi mematikan ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah adanya pengumuman perpanjangan masa gencatan senjata selama 45 hari.
Selain serangan udara dan artileri yang menyasar berbagai desa serta kota di wilayah Selatan, aktivitas pesawat tanpa awak (drone) Israel juga dilaporkan meluas di beberapa wilayah, termasuk terbang rendah di atas ibu kota Beirut.
Berdasarkan laporan media lokal, serangan militer Israel tersebar di beberapa titik krusial. Pesawat tempur Israel melancarkan serangan udara di kota Yuhmor al-Shaqif. Sementara itu, wilayah sekitarnya seperti Kfartebnit, Arnoun, dan jalan utama Arnoun–Kfartebnit dihantam oleh tembakan artileri terpusat. Di Kegubernuran Nabatieh, serangan berulang juga menyasar al-Marwaniyeh dan kota-kota sekitarnya.
Ledakan besar terdengar pada dini hari di al-Khiam menyusul aksi penghancuran kawasan pemukiman warga oleh pasukan Israel. Serangan udara tambahan juga menghancurkan sebuah rumah tinggal di lingkungan Zayata di Ansar, serta kota Habboush yang dihantam berkali-kali dalam waktu dua jam.
Di distrik Tyre, serangan udara menyasar al-Mansouri, al-Shehabiya, serta kawasan antara al-Sammaiyah dan Deir Qanoun Ras al-Ain. Sementara di distrik Saida, serangan udara terpisah menghantam Kawthariyet al-Siyyad, al-Babiliyeh, dan Tebna yang menyebabkan kerusakan parah dan jatuhnya korban luka. Di Bint Jbeil, wilayah Tebnin turut digempur hingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Sebelum eskalasi ini memuncak, juru bicara militer Israel dilaporkan telah mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk di sejumlah desa selatan. Desa-desa tersebut meliputi Qaaqaaiyet al-Snoubar, Kawthariyat al-Siyyad, al-Marwaniyah, Ghassaniyeh, Tefahta, Irzay, Beblieh, Baysariyeh di Distrik Saida, serta Ansar di Distrik Nabatieh.
Pasca-peringatan tersebut, pergerakan pengungsian berskala besar langsung terjadi. Ribuan warga dari wilayah selatan dilaporkan berbondong-bondong melarikan diri menuju tempat yang lebih aman di Saida dan Beirut. Bersamaan dengan itu, drone Israel terpantau terbang rendah di atas langit Beirut, pinggiran selatan ibu kota, serta kota Baalbek.
Pusat Operasi Darurat Kementerian Kesehatan Publik Lebanon melaporkan bahwa jumlah akumulatif korban sejak 2 Maret telah mencapai 2.951 orang tewas dan 8.988 orang luka-luka.
Eskalasi berdarah ini terus berkecamuk di tengah laporan adanya negosiasi tidak langsung yang melibatkan pemerintah Lebanon dan Israel di Amerika Serikat. Di sisi lain, kelompok Hezbollah menegaskan bahwa mereka akan terus merespons setiap pelanggaran gencatan senjata dan serangan terhadap warga sipil yang dilakukan Israel. Hezbollah dilaporkan terus membidik posisi-posisi militer Israel di Lebanon selatan dan wilayah utara Palestina yang diduduki.






