Hamas Siap Memilih Pemimpin Baru, Khalil Al-Hayya Kandidat Terkuat

JERNIH – Hamas akan segera memilih pemimpin keseluruhan yang baru, demikian dilaporkan media Saudi Al-Sharq awal pekan ini, dengan Khalil al-Hayya, kepala Biro Politik Hamas di Gaza , dan mantan kepala kelompok tersebut, Khaled Meshaal , kemungkinan akan menjadi dua kandidat utama.
Al-Sharq mengutip sumber-sumber yang dekat dengan kepemimpinan Hamas mengatakan Dewan Syura Umum Hamas, beranggotakan sekitar 50 orang yang mewakili Jalur Gaza, Tepi Barat, dan diaspora Palestina, akan memilih kepala baru Biro Politik Umum gerakan tersebut dalam beberapa minggu mendatang.
Menurut sumber-sumber tersebut, dari dua kandidat paling mungkin, Al-Hayya – yang saat ini memimpin operasi Hamas di Gaza – adalah yang paling berpeluang menang. Al-Hayya dilaporkan mendapat dukungan di luar Jalur Gaza, dengan kepala biro politik gerakan tersebut di Tepi Barat, Zaher Jabarin, yang mendukungnya.
Pada Juli 2024, Israel membunuh Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, di ibu kota Iran, Teheran. Yahya Sinwar, yang memimpin kelompok tersebut di Gaza, dipilih untuk menggantikannya tetapi ia kemudian dibunuh Israel di Gaza pada Oktober 2024. Dewan Kepemimpinan gabungan lalu mengambil alih gerakan tersebut, tetapi akan dibubarkan setelah pemimpin baru dipilih.
Hamas biasanya mengadakan pemilihan umum untuk kepemimpinannya setiap empat tahun sekali, dengan pemilihan terakhir pada tahun 2021. Namun, pemilihan yang seharusnya diadakan pada 2025 ditunda karena Perang Gaza, dan sekarang hanya Dewan Syura yang akan memutuskan kepemimpinan.
Sumber-sumber yang berbicara kepada Al-Sharq mengatakan bahwa al-Hayya, kemungkinan besar akan menang. Ia akan mempertahankan jalur saat ini yang didasarkan pada konfrontasi bersenjata dengan Israel di Jalur Gaza sampai perang berakhir dan tentara Israel sepenuhnya menarik diri dari wilayah tersebut.
Al-Hayya juga dianggap dekat dengan Iran. Meskipun ia memimpin Hamas di Gaza, ia bermarkas di Qatar dan merupakan salah satu target serangan Israel di Doha yang menewaskan putranya dan lima orang lainnya.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan di Gaza, Israel terus menduduki 58% wilayah yang hancur tersebut sambil melakukan serangan hampir setiap hari sehingga menewaskan ratusan orang.
Berbeda dengan Al-Hayya, Meshaal dipandang lebih condong pada solusi negosiasi dengan Israel dan lebih dekat dengan negara-negara Arab Teluk daripada Iran. Ia juga saat ini tinggal di Qatar.
Keputusan Hamas memilih pemimpin baru sekarang diyakini disebabkan gencatan senjata di Gaza yang telah sedikit meredakan krisis gerakan tersebut, serta perpecahan di dalam kelompok mengenai orientasi masa depannya dan bagaimana mengelola situasi baru di Gaza dan kawasan tersebut.






